Peluncuran buku Fikih Gen Z oleh Lazismu dalam rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (5/11/2026), menyimpan pesan yang lebih besar daripada sekadar hadirnya sebuah buku keagamaan. Ada persoalan penting yang perlu direnungkan: sudahkah cara kita menjelaskan agama mengikuti perkembangan kehidupan generasi muda?
Hari ini, anak muda tumbuh dalam dunia yang serba cepat. Pertanyaan tentang agama tidak lagi selalu dibawa ke ruang pengajian atau disampaikan kepada guru. Sebagian memilih membuka TikTok, menonton YouTube, mencari jawaban melalui Google, bahkan bertanya kepada kecerdasan buatan (AI).
Dalam hitungan detik, jawaban tersedia. Namun, apakah jawaban yang cepat selalu berarti benar?
Pertanyaan inilah yang membuat kehadiran buku Fikih Gen Z menarik untuk diperbincangkan. Buku tersebut mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda, mulai dari musik, cara berpakaian, hingga praktik ibadah dan aktivitas sosial di ruang digital.
Agama Tidak Boleh Kehilangan Bahasa Generasinya
Salah satu tantangan dakwah hari ini bukan hanya menyampaikan apa yang benar dan salah, tetapi juga menjelaskan mengapa sesuatu dianggap benar atau salah.
Generasi muda tidak selalu puas dengan jawaban singkat yang hanya berisi perintah dan larangan. Mereka ingin memahami alasan, konteks, serta hubungan antara ajaran agama dan kenyataan yang mereka hadapi.
Ketika seorang anak muda bertanya tentang hukum musik, misalnya, pertanyaan itu tidak selalu menunjukkan keinginannya untuk membantah agama. Bisa jadi, ia sedang berusaha memahami bagaimana keyakinannya harus dijalankan di tengah kehidupan yang tidak pernah lepas dari hiburan.
Sayangnya, pertanyaan kritis terkadang dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, keberanian bertanya justru dapat menjadi pintu masuk menuju pemahaman agama yang lebih matang.
Di sinilah pendekatan fikih yang komunikatif menjadi penting. Agama tidak perlu mengubah prinsipnya hanya agar terlihat modern. Namun, cara menyampaikan ajaran agama harus mampu menjangkau persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Ketika AI Menjadi Tempat Bertanya tentang Tuhan
Perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan persoalan baru. Kini, seseorang bisa menanyakan hukum ibadah, persoalan keluarga, bahkan perbedaan pendapat ulama kepada chatbot.
Teknologi tentu menawarkan kemudahan. Akan tetapi, ada risiko ketika jawaban mesin diterima sebagai keputusan keagamaan yang tidak perlu diperiksa kembali.
AI dapat menyusun penjelasan yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu memahami konteks persoalan secara utuh. Ia juga dapat menghasilkan informasi keliru, mencampurkan pandangan yang berbeda, atau menyajikan kesimpulan tanpa rujukan yang memadai.
Karena itu, literasi digital perlu berjalan bersama literasi keagamaan.
Generasi muda tidak cukup hanya diajarkan cara mencari jawaban. Mereka juga perlu dibekali kemampuan menilai sumber, memahami perbedaan pendapat, serta mengetahui kapan harus berkonsultasi kepada orang yang memiliki kompetensi keilmuan.
Teknologi seharusnya memperluas akses terhadap pengetahuan agama, bukan menggantikan proses belajar yang membutuhkan kedalaman dan tanggung jawab.
Fikih yang Hidup di Tengah Masyarakat
Kehadiran Fikih Gen Z juga mengingatkan bahwa fikih bukan sekadar kumpulan pembahasan halal dan haram yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Fikih berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalankan ibadah, berinteraksi dengan sesama, menggunakan teknologi, hingga menyalurkan kepedulian sosial.
Dalam konteks Lazismu, persoalan ini menjadi semakin relevan. Anak muda kini dapat menggalang donasi melalui media sosial, memanfaatkan pengaruh kreator digital, dan mengajak ribuan orang membantu sesama hanya melalui sebuah unggahan.
Namun, semangat berbagi tetap membutuhkan pengetahuan tentang amanah, transparansi, dan ketentuan pengelolaan dana sosial.
Di sinilah fikih menemukan relevansinya. Ia tidak hanya membimbing hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan pertimbangan etis dalam kehidupan bermasyarakat.
Tentu, peluncuran satu buku tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan literasi agama generasi muda. Diperlukan ruang diskusi, pendampingan, dan keterbukaan untuk mendengarkan pertanyaan yang mungkin terasa tidak biasa bagi generasi sebelumnya.
Sebab, tantangan terbesar pendidikan agama bukan membuat generasi muda berhenti bertanya, melainkan memastikan mereka memiliki tempat yang tepat untuk menemukan jawaban.
Buku Fikih Gen Z dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju percakapan tersebut.
Pada akhirnya, agama tidak kehilangan relevansinya hanya karena zaman berubah. Yang perlu terus diperbarui adalah kemampuan manusia untuk menjelaskan, memahami, dan mengamalkan ajarannya dalam realitas yang terus berkembang.
Jangan sampai generasi muda dianggap menjauh dari agama, padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka sedang mencari cara untuk mendekatinya













