Kita datang membawa sejuta harapan, mengikat diri atas nama perjuangan, berbicara tentang perubahan dan masa depan, tetapi benarkah kita memahami arti sebuah pengabdian?
Kita sibuk merawat sebuah perkumpulan, namun lupa menumbuhkan kesadaran, idealisme perlahan dikalahkan kepentingan, sementara ego bersembunyi di balik kata perjuangan.
Kita mengaku sebagai barisan pergerakan, tetapi takut pada kritik dan perbedaan, lantas, di mana letak keberanian yang dahulu menjadi alasan kita bertahan?
Mungkin zaman bukanlah persoalan, melainkan kita yang kehilangan pegangan, terlalu sibuk mempertahankan kedudukan, hingga lupa melakukan pembenahan.
Lantas, masihkah kita layak berorganisasi? Jika hadir tak berarti mengabdi, jika berkumpul tak melahirkan arti, dan jika perjuangan hanya berhenti pada retorika semata, barangkali kita perlu belajar kembali menjadi pejuang, sebelum mengaku sebagai bagian dari mereka.













