“Mau kemana nduk malam-malam begini?” Sebuah gelombang suara bergetar disekitar telingaku, membuatku menoleh mencari asal keberadannya.
“Mau menginap ke rumah teman Pak, ada tugas,” Ucapku kepada seorang pria tua diseberang jalan sana. Dirinya tersenyum dan pergi meninggalkanku tanpa rasa curiga apa pun.
Angin malam menyapu lirih tiap langkah yang kuambil. Dinginnya menusuk kulit hingga menembus tulang keras yang putih. Tumpukan kain yang kupakai tak mempan menjadi tameng untuk mengalahkannya. Angin itu membuatku menggigil. Terpaannya menerbangkan sehelai kain hijab penutup kepala. Angin itu juga menerbangkan jubah hitam yang menjulur panjang ke bawah menjadi penutup seluruh tubuhku, sehingga membuatnya sedikit terangkat memperlihatkan kaki mulusku. Dengan sigap aku menutupnya kembali. Entah secara spontan saja hal itu kulakukan.
Setapak demi tapak langkah kukerahkan. Seinci demi inci jalan sempit nan sepi kulewati. Tak takut, entah kenapa. Padahal bulu kuduk ini merinding, namun langkah kaki itu enggan untuk berjalan cepat. Ia berat. Sangat berat. Seperti ada rantai panjang menggenggam, yang membuat waktu berjalan lama. Seakan satu pijakannya membutuhkan sepuluh menit untuk terjadi. Sepertinya kaki ini keberatan untuk dituju ke arah yang ia tidak mau melangkah. Sepertinya ia mengikuti sedikit rasa di dada yang memintanya untuk kembali pulang saja. Sepertinya ia ingin berhenti saat ini juga.
Tapi, hatiku menolaknya. Hatiku melarangnya untuk berhenti meski dada ini ngilu merasakan tiap langkah yang dijalankan. Tapi mau bagaimana lagi, hati ini harus kejam. Ia tidak boleh merasa iba. Karena raga ini sudah lama lelah, jiwa ini telah lama menderita. Tidak bisa jika harus dilanjutkan alur hidup yang menyengsarakan ini. Harus berhenti. Harus berubah. Dan jalan keluar dari tempat melarat ini ada di depan mata. Sebuah bangunan dengan keadaan lampu remang-remang yang ramai diluar, ramai juga didalam. Bangunan itu adalah sebuah klub malam, yang dalam beberapa menit dari sekarang tubuh berbalut busana tertutup ini akan menampakkan kemolekannya, akan menampakkan kecantikannya, yang nantinya akan dibayar dengan tumpukan uang merah juga biru yang menjadi kunci kehidupan bahagia yang selama ini didambakan.
Namun, hati ini mendadak ciut nyalinya. Gembor-gembor semangat dan tekad tak berbunyi lagi. Ia bersembunyi, yang membuat langkah kaki juga turut berhenti. Aku gelisah. Membayangkan keadaanku di dalam sana. Akan seperti apa nantinya? Aku tak siap melakukannya. Tapi, aku juga ingin bahagia dan menempuh kehidupan yang mudah. Tuhan telah lama membuatku menderita. Jadibuat apa menunggu terlalu lama? Toh baju muslimah juga hijab yang kukenakan ini hanyalah simbol diriku dimasa lalu, yang menjadi seorang gadis pecinta Tuhan seluruh alam raya dan penggiat ibadah.
Sebagai anak dari keluarga alim, diriku diajarkan untuk menjadi muslimah sejati. Siang petang mengerjakan kewajiban, dan tak terima hanya itu yang dilakukan. Segala amalan sunnah yang tidak serta merta orang lain perbuat, aku kerjakan tanpa alpa tiap harinya. Tak kulanggar apapun perintah-Nya. Semua kukerjakan dengan hati senang tanpa beban.
Akan tetapi, Tuhan seakan tidak membalas sedikitpun ibadah yang kuperbuat. Hidupku diuji, ragaku diberi duri, dan jalan hidupku diarahkan tak terkendali. Tuhan mempermainkanku. Ia tak menolongku padahal aku selalu menyembah-Nya. Ia tak memberiku kebahagiaan padahal aku selalu berbuat baik kepada-Nya. Ia merenggut senyum indahku. Ia persulit aku selalu. Ia membuat keluargaku menderita. Membuat ayah sakit tak bisa apa-apa. Membuat ibu harus bekerja siang petang hingga fajar menyapa. Ia membuatku nelangsa. Ia membuatku harus pusing tiap kali semester baru datang. Ia menjadikanku harus bekerja, padahal aku juga sedang kuliah. Ia membuatku harus pura-pura bahagia didepan ibu ayah, padahal didalam remuk tak karuan dibuatnya.
Dan dimasa-masa ini, masih sempat-sempatnya keluargaku bersyukur. Masih mau mereka beribadah tak terukur. Padahal jelas-jelas Tuhan tak menghibur. Malah membuat insan baik menjadi kufur. Kenapa mereka masih mau dipersulit seperti ini? sudah tak ada guna lagi menghindari dosa ilahi. Sekarang waktunya untuk pergi mencari kebahagiaan haqiqi. Dan hijab juga gamis ini harus pergi. Aku tak peduli.
Kakiku melangkah tegap. Kini tekadku bulat. Aku harus masuk dan mendapatkan uang untuk membayar uang UKT itu, agar tahun ini bisa lulus tepat waktu.
Drtt
Drtt
Langkahku terhenti. Getaran nyaring menggerakkan tasku yang turut mengeluarkan bunyi. Aku membuka tas selempang coklat itu, mengambil benda gepeng yang telah pecah layarnya. Membaca sebaris kata yang membuatkubertanya-tanya. Ibu. Kata yg tertera di layar ponsel itu. Segera kuangkat dengan hati gelisah. Berharap niatnya menelepon di tengah malam hanya untuk bertanya kabar. Aku harap.
"Halo, bu?" Suaraku serak. Memulai percakapan yang membuat cemas sekujur badan.
“Bu?" Semakin gemetar tangan, mendapati suara lembutnya tak menyahutiku segera.
"Bu, ada apa?" Nada bicaraku naik. Menuntut jawaban dari seberang telepon yang tak berkutik.
“Zahra, maaf, ibu tadi menyambut tamu sebentar"
Gemetar itu berangsur pergi. Mendengar suara ibu yang terdengar baik-baik saja membuatku lega. Beliau tak kenapa-napa. Namun setelahnya aku dibuat bingung. Apa tadi? Tamu? Tamu apa di jam setelah 12 malam seperti ini?
______________***_____________
Malam ini, dibeberapa jam sebelum fajar menyunggingkan senyumnya, pemandangan bulan di langit malam terlihat cerah. Tidak seperti tadi yang tertutup awan. Kini kepulan benda yang digambar seperi kapas itu menghilang. Menyisakan bulatan sempurna dan bercak kemilau bintang kejora.
Aku termenung di jendela kamar. Kedua engsel itu aku buka, membuat otak menangkap apa yang dilihat mata. Dulu, aku selalu melihatnya, melihat gelap malam yang memamerkan keindahannya. Rona bintang gemilang itu terpotret jelas dibenakku tiap kali sholat malam selesai kudirikan. Malam yang sunyi dengan sapuan lembut angın menjadi teman sejati yang menyapa tiap waktu. Tapi itu dulu.
Dengan mukena yang masih lengkap menempel di sekujur badan, angin lembut itu menyapa. tak kalah dengan bintang yang juga mengedipkan mata menggodaku dari atas sana. Dan bulan yang selalu menghibur tanpa kenal lelah. sering kami bercanda bersama. Sering kami tertawa bahagia. Dan malam adalah waktu yang kutunggu-tunggu kedatangannya.
Tak terasa air mata ini jatuh mengingat kenangan itu. Yang batinku terasa utuh, bahagia selalu menyelimutiku, dan tawa indah penuh syukur membuat hari-hariku tak terasa jenuh.
Di sepertiga malam ini, setelah sekian tahun tak kutemui, akhirnya sujudku kulakukan lagi. Salat malam penuh terang menghangatkan hati kembali kujalani. Sengaja sujud ini kubuat lama untuk mengatakan segala hal yang menyesakkan dada.
Tuhan, ibuku berkata ginjalnya kini tinggal satu. Ia donorkan untuk seseorang yang ibu menaruh kepercayaan penuh bahwa organnya dapat diganti dengan pundi rupiah untukku kuliah. Dia dengan nekat melakukannya Tuhan.
"Nak, ibu tadi ketemu orang baik, dia menjamin kehidupan kita dan kuliahmu di Jakarta,"
Tuhan, entah apa yang dipikirkannya sehingga mau menukarkan miliknya yang berharga untukku yang hampir gila akan dunia. Kenapa dia melakukannya Tuhan? Kenapa dia membuatku berbalik arah dan merusak rencanaku menjadi kupu-kupu malam?
"Setelah ini kamu belajar saja, tidak perlu kerja, sudah, kamu dijamin sampai lulus nanti, karena orang baik itu menukar uangnya dengan ginjal ibu,"
Aku sudah siap tadi Tuhan. Aku ikhlas jika ibadahku sia-sia. Aku ikhlas tidak menjadi muslimah sejati seperti sedia kala. Tapi engkau seakan tak mau kehilanganku. Engkau seakan masih ingin mendengarkan zikir dan doaku. Engkau sepertinya rindu denganku yang selalu bersujud di tengah malam seperti dulu. Benar itu Tuhan?
"Ibu kini hanya punya satu ginjal, Nak. Tapi Zahra tenang saja. Ibu kuat. Kan ada Allah yang selalu ada untuk kita,"
Tuhan, jika ini maumu, jika memang benar engkau rindu, jika benar engkau ingin ku menjadi seperti dulu, maka aku akan menurutimu. Aku kembali lagi ke pelukanmu.
"Zahra tetap jaga ibadahnya ya. Jadi muslimah yang mencintai Allah. Jaga diri baik-baik, ibu titipkan Zahra kepada Allah. Ibu percaya Zahra akan selalu dilindungi Allah,"
Iya Bu, Dia melindungiku, selalu.












