Sastra

Di Puncak Pundaknya

Ayah Tidak Membawa Surga di Telapak Kakinya, Tetapi Ayah Memikul Beratnya Neraka Di Pundaknya

Terbit

8 November 2026

Durasi

3 menit baca

Di Puncak Pundaknya

Sebab, tidak semua lelaki dilahirkan untuk menceritakan bagaimana beratnya kehidupan. Sebagian dari mereka memilih menjadi sunyi, menyimpan segala keluh di balik wajah yang tampak biasa saja. Mereka belajar tersenyum meski dunia berkali-kali membuat pundaknya hampir menyerah. Dan salah satunya adalah ayah.

Ayah adalah lelaki yang barangkali tidak pandai mengucapkan cinta, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membuktikan arti cinta itu sendiri. Ia tidak selalu hadir dengan pelukan, tidak pula selalu menyampaikan kasih melalui kata-kata. Namun, lihatlah bagaimana ia mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya sendiri, hanya agar anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menggapai mimpi yang lebih tinggi.

Ada banyak pagi ketika ayah harus beranjak sebelum matahari membuka mata. Ada banyak malam ketika ia pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi tetap berusaha menyembunyikan letihnya. Barangkali ada begitu banyak hal yang ingin ia keluhkan, tetapi selalu ia urungkan. Sebab, baginya, melihat keluarganya baik-baik saja adalah alasan yang cukup untuk kembali menguatkan diri.

Kita sering kali hanya melihat ayah sebagai sosok yang harus kuat. Seolah-olah ia tidak boleh rapuh, tidak boleh menangis, tidak boleh merasa kalah oleh keadaan. Padahal, ayah juga manusia. Ia punya ketakutan, punya kegagalan, punya harapan yang mungkin tak pernah sempat ia wujudkan. Hanya saja, ia terlalu sibuk memastikan bahwa anak-anaknya tidak harus merasakan kesulitan yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

Betapa banyak keinginan yang mungkin ia kubur dalam-dalam. Betapa banyak kesenangan yang ia relakan, bukan karena tidak menginginkannya, melainkan karena ada kebutuhan lain yang harus lebih dahulu dipenuhi. Ia mungkin tidak memiliki kemewahan untuk memberikan segalanya, tetapi ia berusaha agar kekurangan tidak menjadi alasan bagi anak-anaknya untuk berhenti bermimpi.

Dan sering kali, kita baru memahami semua itu ketika usia mulai mengajarkan arti kehidupan. Ketika kita mulai mengenal kerasnya dunia, barulah kita mengerti mengapa tangan ayah begitu kasar, mengapa langkahnya semakin pelan, dan mengapa rambutnya perlahan kehilangan warna hitamnya.

Ayah, maaf jika selama ini kami hanya pandai menghitung apa yang belum engkau berikan, tetapi lupa menghitung berapa banyak yang telah engkau korbankan. Maaf jika kami terlalu sering menganggap lelahmu sebagai kewajiban, tanpa pernah bertanya seberapa berat hari yang telah engkau lalui.

Sebab, pada akhirnya, ayah bukanlah lelaki yang tidak pernah kalah oleh kehidupan. Ia hanyalah lelaki yang berkali-kali dikalahkan oleh keadaan, tetapi tetap memilih berdiri demi orang-orang yang dicintainya.

Jika ibu adalah rumah tempat kami mengenal hangatnya kasih sayang, maka ayah adalah fondasi yang diam-diam menahan seluruh bangunan agar tidak runtuh. Ia mungkin tidak meminta untuk dipahami, tidak pula mengharapkan balasan atas segala pengorbanannya. Namun, semoga Tuhan memberikan kepadanya usia yang lapang, hati yang tenang, dan kebahagiaan yang selama ini sering ia sisihkan demi kami.

Karena sesungguhnya, di balik tumbuhnya seorang anak yang mampu berdiri tegak, sering kali ada seorang ayah yang menghabiskan separuh hidupnya untuk menahan beban agar anaknya tidak perlu jatuh terlalu dalam.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel