Opini

KECEMASAN ITU TEMAN ATAU MUSUH?

Memahami Rasa Takut Sebagai Bagian Proses Bertumbuh di Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Muhammad Alpi Saputra

Muhammad Alpi Saputra (@alpi2004)

Verified Publisher

Terbit

6 Agustus 2026

Durasi

5 min read

Cover

Menjadi seorang kader sejati bukan hanya tentang bangganya memakai Jas/Almamater Ikatan Pelajar Muhammadiyah, bukan tentang dapat memimpin rapat atau sekedar bicara didepan forum umum. Akan tetapi menjadi Kader Sejati ialah perjalanan untuk mengenal diri sendiri dan di dalam perjalanan itu, akan ada satu tamu yang hampir selalu datang tanpa kita undang yaitu Kecemasan.

Sering banget kita menganggap bahwa kecemasan itu menjadi sebuah musuh utama dalam diri kita. Dan kita berusaha secepat mungkin untuk menghilangkan hal tersebut, karena merasa itu adalah tanda kelemahan. Padahal simplenya, mungkin yang perlu dirubah bukanlah rasa cemasnya melainkan cara kita memandangnya.

Dalam buku Filsafat Kecemasan karya Dr. Muhammad Faisal & Rian Fahardhi, S.Sos. mengajak kita untuk memahami bahwa kecemasan buka sekedar emosi negatif. Kecemasan justru dapat menjadi pertanda bahwa seorang itu sedang bertumbuh, sedang berhadapan dengan pilihan, tanggung jawab dan masa depan. Cemas bukan berarti lemah, cemas menunjukkan bahwa kita masih peduli terhadap sesuatu yang bernilai dan bermakna.

Di dalam diri kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah, kecemasan sering kali muncul karena kita ingin memberikan yang terbaik. Akan tetapi, kita takut mengecewakan, kita takut gagal menjalankannya atau takut tidak memenuhi harapan. Ironisnya, rasa takut itu yang membuat kita memilih diam daripada mencoba. Dengan tidak sadar kita menolak kesempatan bukan karena tidak mampu melainkan karena takut untuk melakukan kesalahan.

Padahal, yang harus disadari adalah tidak ada kader hebat yang lahir tanpa pernah merasa takut. Keberanian bukanlah keadaan tanpa rasa cemas, justru keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa cemas itu menghantui. Seorang pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu yakin terhadap dirinya, melainkan orang yang tetap bertanggung jawab ditengah keraguannya.

Kecemasan juga mengajarkan kita kerendahan hati. Ia mengingatkan kita bahwa masih harus belajar, masih membutuhkan saran dan masukan dan belum mengetahui banyak hal. Dan tanpa kita sadari lagi, justru kecemasan menjaga kita dari sifat kesombongan. Ia selalu mempersiapkan diri kita dengan lebih matang dan siap. Namun kecemasan akan menjadi musuh ketika kita membiarkan ia mengendalikan diri kita. Ketika rasa takut membuat kita menjadi berhenti berusaha dan mencoba atau menolak, saat itulah kecemasan kehilangan fungsinya sebagai pengingat dan berubah menjadi tembok tinggi yang menghalang diri kita untuk menjadi yang lebih baik.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah ruang belajar dan ruang tumbuh bersama, justru bukan ruang untuk menjadi sempurna (Karena yang sempurna ialah Allah SWT.). Pasti organisasi ini tidak dibangun oleh kader yang tidak pernah salah, tetapi oleh kader yang berani belajar dari setiap kesalahan. Karena itu tidak masalah jika hari ini kita masih gugup, bingung mengambil keputusan atau masih merasa belum cukup. Yang terpenting ialah kita tetap berjalan dan tidak berhenti. Sebab bisa jadi, kecemasan bukan musuh yang harus dikalahkan tetapi teman yang sedang menunjukkan bahwa kita sedang bertumbuh.

Karena pada akhirnya, bukan kecemasan yang menentukan masa depan, melainkan keberaniannya untuk tetap melangkah bersama kecemasan tersebut.

#kader#organisasi#filsafatkecemasan#kebayoranlama#kecemasanituteman
Muhammad Alpi Saputra

Muhammad Alpi Saputra (@alpi2004)

Verified Kader IPM

Belum ada bio publik.

Mungkin kamu suka