Saya sedang duduk di KRL dari Jogja menuju Solo ketika melihat pesan dari Wildan Azzam, Ketua PW IPM Jawa tengah Bidang Perkaderan, di grup Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Tengah. Azzam mengirim tulisannya bertajuk “Perubahan SPI, Kepentingan Siapa?” Sembari menunggu kereta sampai di Solo. Sedap rasanya tulisan ini untuk dibaca. Apalagi berbicara rekonstruksi SPI yang sedang naik daun bak artis lagi viral-viralnya. Pas sekali, sebentar lagi akan ada agenda Muktamar.
Kesan pertama soal Sistem Perkaderan IPM (SPI), membawa saya untuk turut memikirkannya. Dalam beberapa kesempatan, saya turut menjadi bagian dari partisipator agenda membahas SPI. Pertama, Seminar Lokakarya Nasional (Semiloknas) di Jakarta. Kedua, lokakarya nasional di Kendari, sewaktu agenda Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama (PKPTMU). Muncul dalam benak saya, apakah memang SPI ini menjadi agenda 10 tahunan untuk diubah? Atau memang ini menjawab kebutuhan dan urgensi pergerakan? Saya menangkap beberapa hal yang disampaikan Azzam selaku Ketua Bidang Perkaderan JawaTengah. Ciamik bahasanya, berkualitas tulisannya, dan konstruktif pemikirannya.
Ia menyampaikan beberapa pemikirannya. Pertama sejarah evolusi SPI. SPI berubah seiring berjalannya waktu menyesuaikan realitas zaman. Bermula dari SPI Merah sampai SPI Kuning. Sampai kini ada SPI Putih yang sedang digagas Bidang Perkaderan PP IPM yang dinahkodai Ganis. Kedua, Ia berbicara karakteristik SPI. Tentu memiliki corak masing-masing sesuai rezim, kebutuhan, dan ciri perkaderan zaman. SPI Putih digagas dengan












