Sastra

Kupon Belanja dari Ibu

“Aku terbunuh, bukan oleh mereka, tetapi dengan penyakit bernama kekalapan akan belanja”

Akmal Maajid

Akmal Maajid (@akmalmaajid11)

Verified Publisher

Terbit

4 September 2026

Durasi

5 min read

Cover

Perihal menu yang terkadang lupa dibawa ketika menuju tempat perbelanjaan. Daftar berisi bahan-bahan masakan dan beberapa barang perlengkapan kebersihan rumah telah terisi penuh. Bau supermarket di ujung jalan kelak sampai merusuk hidung berlubang dua yang tak bisa dipisahkan dengan tiang penyangga di tengah rongga. Bermandikan lampu toko diriku melangkah memasuki barisan prajurit yang telah berjajar dalam sekat-sekat ruangan. Di barisan sebelah kiri, berbaris makanan dan kudapan yang sedap, dari kudapan basah hingga kering. Di sebelahnya, ada ribuan alat kendaraan alteleri yang dingin berbentuk kotak berisi prajurit yang siap menghantam batin dan menggugah selera. Melipir ke kanan, ada bahan-bahan masak yang dipegang oleh para prajurit di tengah ruangan. Sisanya berjajar barisan berisi riasan dan produk-produk kesehatan dan kebutuhan sehari-hari.

Di sana dingin toko menjalar meraba setiap bulu yang tumbuh di kulitku. Pikiranku panik setengah mati menghadapi prajurit yang sudah berjajar itu. Dengan strategiku yang licik, diriku memutar seluruh barisan tersebut tanpa terkena serangan sedikitpun. Tapi ada satu tempat yang tak bisa ku jajaki, istana raja yang ada di meja panjang berias manisan-manisan ringan serta alat paling mutakhir benama komputer. Itu adalah tempat yang tak pernah bisa kujajaki tanpa menjadi raja di tengah istananya. Tetapi, usai sudah peranku, strategi membuyarkan prajurit itu tak berhasil.

“Aku terbunuh, bukan oleh mereka, tetapi dengan penyakit bernama kekalapan akan belanja”

Daftar belanjaan yang telah terjajah, seakan diriku yang seadanya ini dapat membunuh barisan prajurit yang berjajar itu. Diriku kalap akan semua aroma yang terbatas dari bungkus-bungkus yang menyinari mataku. Sejumput daftar belanjaan itu kembali kukocek dari sela-sela sakuku. Setiap saku telah kuraba, kuperkosa, dan kugeledah. Namun tak pernah kutemukan sejak diriku tiba di medan perang dan menjelajah setiap barisan. Rasa-rasanya diriku akan mati akan kekalapan yang membelenggu. Menggeliat rasa panik, resah, dan gundah. Pikiranku mati tak mampu menyangga rasa tanggung jawab. Selesai sudah, daku tak jadi berbelanja di medan perang itu.

Tapak kaki dengan satu set sandal kembali menepi di teras rumah. Sampai ke rumah, badanku kaku tak sanggup menahan kepedulian Ibu akan diriku. Semua yang telah diberikan, akan dipertanggungjawabkan. Namun, agaknya ada kesempatan kedua yang Ibu berikan. Maha baik Ibu yang telah memberikan daftar belanjaan.

#prosa#sastra
Akmal Maajid

Akmal Maajid (@akmalmaajid11)

Verified Kader IPM

An College Student that have passion and interest on Journaling, Literature, Design, Photography, and Coffee. Might will be impactful if we can connected each other!

Mungkin kamu suka