Opini

Ketika Internet Menjadi Dokter: Pelajar Perlu Belajar Memilah, Bukan Sekadar Mencari

Pernahkah kita merasa ada sesuatu yang berbeda dengan tubuh atau pikiran kita, lalu hal pertama yang dijalankan adalah membuka Google, TikTok, Instagram, atau bahkan bertanya kepada AI? Saya rasa, ban

Terbit

31 Agustus 2026

Durasi

5 min read

Ketika Internet Menjadi Dokter: Pelajar Perlu Belajar Memilah, Bukan Sekadar Mencari

Pernahkah kita merasa ada sesuatu yang berbeda dengan tubuh atau pikiran kita, lalu hal pertama yang dijalankan adalah membuka Google, TikTok, Instagram, atau bahkan bertanya kepada AI? Saya rasa, banyak pelajar pernah melakukannya.

Merasa sulit tidur, langsung mencari penyebabnya. Merasa jantung berdebar, mencari kemungkinan penyakitnya. Sulit berkonsentrasi, kemudian menemukan video yang mengatakan bahwa itu merupakan tanda gangguan tertentu. Setelah beberapa kali scrolling, tiba-tiba kita berpikir, “Jangan-jangan aku mengalami ini.”

Masalahnya, mencari informasi yang awalnya hanya ingin membuat kita paham justru dapat berubah menjadi kesimpulan tentang diri sendiri. Inilah yang membuat gejala self-diagnosis perlu mendapat perhatian.

Kita Hidup di Tengah Banjir Informasi Kesehatan

Hari ini, informasi kesehatan tidak lagi hanya datang dari ruang kelas, buku, puskesmas, atau dokter. Ia muncul di beranda media sosial kita setiap hari. Satu video mengulas gejala kecemasan. Video berikutnya membahas ADHD. Kemudian muncul konten tentang burnout, insomnia, gangguan makan, dan beragam kondisi kesehatan lainnya.

Algoritma bekerja dengan sederhana: semakin lama kita menonton suatu topik, semakin banyak konten serupa yang muncul. Tanpa sadar, kita bisa berada dalam sebuah ruang digital yang terus-menerus membicarakan hal yang sama. Di sinilah persoalannya.

Informasi kesehatan memang penting. Bahkan pemerintah saat ini mendorong pemanfaatan platform digital dan media sosial untuk menaikkan literasi kesehatan anak usia sekolah dan remaja. Artinya, teknologi bukan musuh. Yang perlu kita pertanyakan hari ini adalah bagaimana kita memakai teknologi tersebut. Sebab kemampuan mencari informasi tidak otomatis mampu memahami informasi.

Google Bisa Memberi Informasi, tetapi Bukan Diagnosis

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pelajar tidak boleh mencari informasi kesehatan di internet. Justru sebaliknya. Menurut saya, pelajar perlu mencari informasi. Kita perlu mempunyai rasa ingin tahu. Kita perlu mampu mamahami tubuh dan kesehatan kita sendiri. Akan tetapi, ada batas yang perlu kita pahami: Mencari informasi kesehatan berbeda dengan mendiagnosis diri sendiri.

Satu gejala tidak selalu berarti satu kondisi. Contohnya sulit tidur, dapat dipengaruhi banyak hal. Begitu juga rasa lelah, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, atau

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel