Sejak permulaan Agustus, pikiranku “terganggu” (dalam artian baik) oleh tulisan milik salah satu penulis kondang IPM, Brilliant Izzulhaq alias Bang Iant, begitulah aku biasa memanggilnya. Melalui status WhatsApp, ia memberi tahu kontaknya tentang refleksinya yang berjudul “Menghormati Penulis-penulis IPM”. Hm, judul yang menarik, pikirku.
Dalam tulisannya, Bang Iant mengaku ada dua alasan kenapa tulis-menulis merupakan kegiatan yang cukup sentimentil baginya: 1) menjiwai slogan IPM nuun wal qalami wa ma yasthurun (demi pena dan apa yang dituliskannya) dan 2) asal mula ia bisa menjejakkan kaki di Negeri Kanguru. Secara personal, atas nama sesama kader IPM yang suka menulis, aku sangat sepakat dengan poin pertama. Sedangkan untuk poin kedua, rasanya perlu waktu untuk menunggu giliranku (hehe).
Terlepas dari kedua argumen di atas, justru aku jauh merasa lebih tersentuh ketika membaca tiga paragraf terakhir dari tulisan Bang Iant. Entah mengapa kalimat pertamanya langsung menusuk hati, “Kita perlu lebih banyak orang yang menulis di IPM.”
Kalimat tersebut tidak muncul jika ia tidak merasakan keheningan gelanggang gagasan yang menjadi indikator redupnya ekosistem keilmuan di IPM. Di satu sisi, aku setuju soal ini. Namun, bagaimana jika ternyata keheningan itu tidak hanya terjadi pada bidang tulis-menulis saja?
IPM yang Ideal: Merdeka dalam Berpikir dan Berkarya
Organisasi yang dijalankan oleh, dari, dan untuk pelajar ini seyogyanya erat dengan proses belajar dan bernalar. Sayangnya, segala proses intelektual seperti membaca buku berjam-jam, mendengarkan penjelasan guru/dosen di kelas, mengerjakan tugas dan ujian, mengikuti rangkaian diskusi informal maupun konsolidasi di luar sekolah/kampus, dan ragam kegiatan lainnya hanya dipandang sebagai rutinitas yang idenya ikut menguap ketika doa kafaratul majlis diaminkan. Kurang ada proses kreatif lanjutan sebagai bentuk ekspresi “adil dalam pikiran”, yang mana












