Gelap betul malam itu, sampai bintang tak malu menampakkan karunia-Nya dari Tuhan. Terang, begitu terang, menjadi perhiasan sang langit. Tak mau kalah, bulan pun menunjukkan pesonanya. Purnama sempurna, cantik jelita kita tahu rupanya.
Deru motor dan mobil, entah pengendaranya baru pulang kerja atau baru hendak memulai semuanya, beriringan mengisi kekosongan malam di Kedoya.
Kedai Ayam Bebeg Mpo Munaf menjadi pilihan dua insan yang sudah lama tak berbincang dan bertemu. Ayam goreng dengan sambal kacang mete yang menjadi kesukaan mereka. Dada ayamnya selalu besar dan cukup porsinya, sementara pahanya selalu lembut, cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati rasa sampai ke tulang. padahal baru kedua kali mereka makan di sana, tetapi rasanya selalu punya cara sendiri untuk membawa kembali ingin kesana.
Kursi plastik lengkap dengan meja bertekstur kulit jeruk yang sejak dulu menjadi tempat favorit mereka kembali menjadi tempat duduk malam itu.
Sedikit canggung tak masalah.
Toh, mereka masih tahu harus memesan apa.
Hanya saja, ada satu hal yang sedikit mengganggu malam itu. Kucing-kucing kedai yang mondar-mandir entah mencari sisa makanan atau sekadar mencari perhatian. Si perempuan tampak waspada setiap kali salah satunya mendekat. Sesekali ia menghentikan langkah, mengangkat kakinya sedikit, bahkan berdiri dari kursinya ketika seekor kucing mulai terlalu dekat.
“Kucingnya baik, tapi takut” katanya singkat.
Lalu tertawa sendiri.
Yang laki-laki hanya memperhatikan sambil tersenyum. Entah menertawakan ketakutannya atau justru menikmati tingkah kecil yang sudah lama tidak ia lihat.
Kabar demi kabar mencuat, membanjiri malam itu. Sebentar-sebentar gelak tawa mereka pecah. Sebentar-sebentar pula hirupan angin yang datang tiba-tiba membuat keduanya terdiam, terkejut, lalu tertawa lagi.
Cerita mereka sebenarnya receh. Tentang hal-hal yang tidak terlalu penting, tentang orang-orang yang mereka kenal, tentang apa yang terjadi selama mereka tidak bertemu. Sesekali ada cerita yang membuat salah satunya terdiam sedikit lebih lama, tetapi kemudian percakapan kembali berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Begitu recehnya cerita dua insan yang entah ke mana arahnya.
Namun malam itu terasa cukup.
Tidak perlu percakapan yang terlalu dalam. Tidak perlu pengakuan yang terburu-buru. Tidak perlu memastikan sebenarnya mereka sedang menjadi apa bagi satu sama lain.
Cukup duduk berseberangan, menikmati ayam goreng dengan sambal mete, sesekali mengusir kucing yang terlalu dekat, lalu tertawa atas cerita-cerita yang mungkin besok sudah mereka lupakan.
Yang penting, senyum mereka mengisyaratkan kepada semua orang bahwa mereka sama-sama bahagia dengan sederhana di momen itu.
Barangkali beberapa pertemuan memang tidak datang untuk menjawab semua pertanyaan.
Barangkali ia hanya datang untuk mengingatkan bahwa pernah ada dua orang yang, masih bisa merasa begitu dekat meski banyak hal di antara mereka tetap menjadi misteri.
Dan malam itu, untuk beberapa jam saja, mereka tidak perlu tahu ke mana semuanya akan berakhir.

