Opini

Demam "Jagongan Malam Minggu": Menghidupkan Kembali Budaya Nongkrong Tanpa Gadget di Balai RW

Budaya nongkrong tanpa gadget lewat "Jagongan Malam Minggu" di Balai RW efektif mengatasi isolasi digital remaja Surabaya. Program murah meriah seperti layar tancap, game tradisional, dan bakar jagung terbukti mempererat kembali interaksi sosial warga.

Terbit

19 September 2026

Durasi

1 menit baca

Demam "Jagongan Malam Minggu": Menghidupkan Kembali Budaya Nongkrong Tanpa Gadget di Balai RW

Terkadang, hidup memang mengajarkan kita satu hal yang paling sunyi: bahwa setiap yang datang pasti akan pergi, dan apa yang memang sudah waktunya pergi, harus ikhlas kita biarkan berlalu. Tidak semua hal yang hilang harus dipaksa pulang, dan tidak semua orang yang singgah ditakdirkan untuk menetap selamanya.Pada akhirnya, kamar yang sunyi dan layar gawai yang berpendar tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan tawa yang tercipta secara nyata di atas tikar balai warga. Sebab pada titik tertentu, kita harus sadar bahwa isolasi digital ini perlahan mengikis rasa kemanusiaan kita. Sudah saatnya kita menarik kembali langkah para remaja keluar dari kamar, merangkul mereka untuk kembali duduk berdampingan, dan membiarkan kecanduan layar itu pergi tergantikan oleh indahnya interaksi antarmanusia. Karena pada akhirnya, apa yang memang sudah waktunya pergi—seperti sekat digital dan rasa acuh tak acuh—memang harus dilepaskan, agar hangatnya kebersamaan di tengah kampung bisa kembali hidup.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel