Zaman sekarang semuanya bergerak cepat.
Nggak percaya? Kita ambil contoh yang paling dekat sama kehidupan kita.
Bayangkan kita mendapat tugas membuat esai minimal 3.000 kata. Kalau dulu, mungkin kita harus mencari referensi ke sana-sini sampai mata rasanya panas karena terlalu lama membaca artikel. Belum lagi kalau kuota internet habis sementara uang jajan belum turun. Mau minta tambahan juga kadang sungkan, takut bukannya dikasih kuota malah dikasih paham.
Sekarang? Tinggal buka AI, ketik prompt, beberapa detik kemudian draf esai sudah tersedia. Cepat sekali. Bahkan mungkin lebih cepat daripada balasan chat dari gebetan kamu.
Sadar atau tidak, bagi Gen Z dan Gen Alpha, AI telah menjadi teman belajar sekaligus asisten yang selalu siap membantu selama 24 jam.
Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul satu pertanyaan yang cukup penting: apakah proses belajar yang semakin cepat juga membuat kita semakin paham?
Pertanyaan ini bukan sekadar keresahan sebagian orang. Berbagai lembaga internasional juga mulai menaruh perhatian terhadap penggunaan AI di dunia pendidikan.
Menurut UNESCO dalam dokumen Guidance for Generative AI in Education and Research (2023), pemanfaatan AI generatif membuka peluang besar dalam proses pembelajaran, tetapi penggunaannya tetap harus diimbangi dengan literasi digital, etika, dan kemampuan berpikir kritis agar tidak menimbulkan dampak negatif.
Sementara itu, berbagai penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa AI generatif masih dapat menghasilkan informasi yang keliru (AI hallucination). Karena itu, jawaban AI tidak boleh diterima begitu saja, tetapi tetap perlu diverifikasi melalui buku, jurnal ilmiah, maupun sumber resmi.
Di sisi lain, World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan Analytical Thinking dan Creative Thinking sebagai dua keterampilan paling dibutuhkan di dunia kerja. Menariknya, kedua kemampuan tersebut justru lahir dari proses berpikir yang aktif, bukan dari kebiasaan menyalin jawaban secara instan.
Nah, dari sini kita bisa melihat bahwa AI sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang menjadi persoalan bukan teknologinya, melainkan cara kita menggunakannya.
Ibarat kalkulator. Kalkulator diciptakan supaya kita lebih cepat menghitung, bukan supaya kita lupa kalau 7 × 8 itu 56. Begitu juga AI. Teknologi ini hadir untuk membantu proses berpikir, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir kita.
Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, juga menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses belajar. Pendidikan bukan hanya tentang menemukan jawaban dengan cepat, tetapi juga tentang melatih kemampuan bertanya, berpikir kritis, dan mengevaluasi informasi.
Artinya, yang paling penting bukan siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban, melainkan siapa yang benar-benar memahami mengapa jawaban itu bisa muncul.
Jujur saja, AI memang bisa membuat kita terlihat pintar dalam hitungan detik. Namun, kalau setiap tugas hanya berakhir pada copy, paste, lalu submit, lama-kelamaan yang tumbuh bukan kecerdasan, melainkan ketergantungan.
Lalu, apakah solusinya kita harus berhenti menggunakan AI?
Tentu tidak.
Yang perlu diubah bukan teknologinya, melainkan cara berpikir kita.
Gunakan AI untuk mencari ide, menyusun kerangka tulisan, atau menemukan sudut pandang baru. Setelah itu, bangun kembali argumen menggunakan logika, analisis, dan bahasa kita sendiri.
Kalau AI memberikan data, jangan langsung percaya. Biasakan memeriksa kembali informasi tersebut melalui buku, jurnal, atau situs resmi. Anggap saja AI seperti teman yang pintar, tetapi tetap bisa keliru.
Ada satu cara lain yang cukup menarik untuk melatih kemampuan berpikir, yaitu berdiskusi dengan AI. Cobalah meminta AI mengkritik tulisan kita, menunjukkan kelemahan argumen, atau memberikan sudut pandang yang berbeda. Dari proses itu, justru kemampuan analisis kita akan semakin terasah.
Pada akhirnya, AI memang mampu membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat. Namun, AI tidak akan pernah menggantikan proses yang membuat seseorang benar-benar menjadi cerdas.
Karena itu, jangan jadikan AI sebagai joki yang mengerjakan semuanya untuk kita. Jadikan AI sebagai partner belajar yang membantu memperluas wawasan, sementara kemampuan berpikir tetap kita latih setiap hari. Sebab, teknologi terbaik sekalipun tidak akan pernah mampu menggantikan manusia yang terus belajar, berpikir kritis, dan bertumbuh.
Referensi :
1. UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693
2. World Economic Forum. (2025). Future of Jobs Report 2025. https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2025/
3. Stanford University – Stanford HAI (berbagai publikasi mengenai evaluasi dan keterbatasan model AI generatif). https://hai.stanford.edu/

