Jadilah dokter, insinyur, dan profesional. Lalu, kembalilah kepada Muhammadiyah. (KH. Ahmad Dahlan)
Petuah KH Ahmad Dahlan ini bukan sekadar kalimat motivasi, lebih dari itu ia adalah panggilan pulang. Tapi pertanyaannya, bagaimana kami bisa kembali, jika kami tak pernah sungguh-sungguh dianggap ada? Di akar rumput, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) hari ini berdiri di persimpangan yang sunyi dan rumit. Di satu sisi, kami diminta menjadi ujung tombak kaderisasi Muhammadiyah. Namun, di sisi lain kami berjalan nyaris tanpa pendampingan, tanpa pegangan, tanpa pengakuan. Kami dituntut melahirkan kader-kader yang militan, inovatif, dan loyal. Tetapi dalam praktiknya, gerak langkah kami lebih sering dianggap formalitas belaka, seolah hanya pelengkap dalam keramaian organisasi.
Dianggap Tidak Tahu Apa-ApaYang lebih mengkhawatirkan, dalam praktik organisasi, khususnya di ranah Pimpinan Cabang Muhammadiyah, kami sering kali tidak diperlakukan sebagai pengurus yang setara. Kami kerap dianggap sebagai “anak-anak” yang belum memahami dinamika organisasi secara utuh. Memang, kami menyadari sepenuhnya bahwa kami adalah remaja yang masih dalam proses belajar dan bertumbuh. Namun, kesadaran itu justru menjadi dasar mengapa kami memerlukan pendampingan yang konstruktif, bukan penilaian yang meremehkan.
Dalam banyak kesempatan, ketika kami berupaya menyampaikan aspirasi, respons yang kami terima lebih bersifat menutup ruang diskusi daripada membuka ruang pemahaman. Ketika kami meminta dialog, yang terjadi justru komunikasi satu arah: kami diminta mendengarkan,












