Sastra

Setengah Manusia Dibagi Lagi Seperempat

dibaca saja. saranku, baca sembari mendengarkan lau dengan judul "Melepaskan Sauh" -SOULM

Terbit

12 Oktober 2026

Durasi

5 min read

Setengah Manusia Dibagi Lagi Seperempat

SETENGAH MANUSIA DIBAGI LAGI SEPEREMPAT

Udara asin Pantai Jimbaran siang itu memberiku alasan untuk kembali menekan huruf-huruf kecil di hadapan layar. Matahari tampaknya belum sudi memberikan sedikit saja waktu istirahat. Panasnya ditumpahkan tanpa ampun, sementara awan kelimpungan mencari cara untuk menolong makhluk-makhluk yang berpijak di bumi.

Kulitku yang sudah cukup gelap hanya bisa pasrah... barangkali sebentar lagi akan memperoleh gelar kehormatan sebagai penghuni tetap garis khatulistiwa.

Ah, sudahlah. Kulit yang menggelap masih bisa diselamatkan oleh waktu, atau setidaknya tabir surya yang rajin dipakai. Namun, ada hal-hal lain dalam hidup yang tak semudah itu dikembalikan ke warna semula.

Kalau kau punya sedikit waktu luang, bacalah tulisanku hari ini :).

Jangan khawatir, aku tidak sedang hendak mengajarimu cara menjalani hidup. Aku sendiri masih sering salah jalan, masih kerap bingung menentukan arah, dan sesekali mengambil keputusan dengan keyakinan seorang panglima perang... hanya untuk menyesalinya beberapa jam kemudian.

Begitulah manusia, bukan? Kadang-kadang kita begitu yakin sedang melakukan hal yang benar, sampai lupa bertanya apakah kita sendiri masih baik-baik saja.

Aku hanya ingin menceritakan sesuatu. Barangkali kau pernah mengalaminya. Barangkali juga belum.

Mungkin, manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mengurangi dirinya sendiri tanpa merasa kehilangan.

Pada mulanya, hanya mengalah sedikit.

Menyimpan pendapat agar percakapan tetap damai. Menunda keinginan agar tak dipandang sebelah mata. Mengubur mimpi karena dunia menawarkan sesuatu yang tampak lebih masuk akal.

Kita melakukannya dengan tenang. Bahkan, terkadang dengan senyum yang meyakinkan... seolah-olah tidak ada sesuatu yang sedang kita tinggalkan di belakang.

Lagi pula, bukankah begitulah hidup bekerja?

Kita belajar memilih pertempuran yang pantas diperjuangkan dan keinginan yang sebaiknya direlakan. Kita belajar bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan, tidak semua keinginan perlu dituruti, dan tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.

Sedikit demi sedikit, kita menamai pengurangan itu dengan kata-kata yang terdengar begitu baik, kedewasaan, kompromi, tanggung jawab, pengertian, pengorbanan.

Nama-nama itu terdengar mulia, bukan?

Sampai-sampai kita lupa bertanya... apakah sesuatu yang dilakukan dengan niat baik selalu berakhir baik bagi diri kita sendiri?

Jangan salah paham. Mengalah bukanlah kehinaan. Ada kalanya mengalah membutuhkan keberanian yang tak dimiliki mereka yang gemar memenangkan setiap perdebatan. Ada kalanya kita perlu menelan ego agar seseorang yang kita sayangi tidak ikut terluka.

Aku tidak sedang menyuruhmu menjadi manusia yang keras kepala. Dunia sudah cukup ramai oleh orang-orang yang mengira bahwa mempertahankan pendapat sampai titik darah penghabisan adalah bukti kekuatan.

Padahal, batu pun bisa keras tanpa pernah menjadi bijaksana.

Aku hanya ingin kau mengingat satu hal...

Jangan sampai kau begitu pandai memahami alasan orang lain, sampai tak lagi memiliki waktu untuk memahami dirimu sendiri.

Sebab pada mulanya, tidak ada yang benar-benar terasa hilang kau tau?.

Hidup tetap berjalan. Matahari masih terbit, pekerjaan masih menunggu, dan orang-orang masih tersenyum. Kita pun masih mengenali wajah sendiri di cermin. Hidung masih di tempatnya, mata masih sama, barangkali hanya rambut yang sedikit lebih berantakan daripada kemarin.

Tidak ada tanda bahwa seseorang telah kehilangan sebagian dirinya.

Tetapi cermin hanya pandai memantulkan rupa. Tak mampu memperlihatkan berapa banyak keinginan yang kita tahan, kalimat yang kita telan kembali, atau versi diri yang kita tinggalkan demi membuat orang lain merasa nyaman.

Manusia bisa kehilangan sesuatu tanpa pernah melihatnya pergi.

Coba bayangkan sebuah rumah yang perlahan kehilangan cahaya karena satu per satu jendelanya ditutup.

Dari luar, rumah itu masih berdiri gagah. Dindingnya tak retak, atapnya tak runtuh, bahkan pintunya masih terbuka bagi siapa pun yang hendak bertamu. Orang-orang mungkin memujinya sebagai rumah paling nyaman untuk disinggahi.

Hanya pemiliknya yang tahu bahwa ia semakin jarang melihat matahari dari dalam.

Dan bukankah itu menyedihkan?

Sebuah rumah masih bisa menjadi tempat berteduh bagi banyak orang, sementara orang yang memilikinya justru tak lagi menemukan kehangatan di dalamnya.

Kemudian lama-kelamaan, manusia belajar membagi dirinya dengan terampil.

Satu bagian untuk keluarga yang menunggu di rumah. Satu bagian untuk seseorang yang namanya diam-diam disimpan di dalam hati. Satu bagian untuk cita-cita yang menjulang begitu tinggi sampai terkadang membuatnya sendiri kelelahan. Dan sisanya... untuk menjadi seseorang yang dapat diterima dunia.

Pada awalnya, pembagian itu terasa adil. Kita mengira diri ini cukup luas untuk menampung segala harapan, cukup kuat untuk memenuhi segala tuntutan, dan cukup dewasa untuk tidak mengeluh ketika kebutuhan sendiri terpaksa menunggu giliran.

Kita ingin menjadi anak yang baik, pasangan yang baik, sahabat yang baik, pekerja yang baik. Kita belajar membaca suasana, menyusun wajah yang tepat, dan menyembunyikan bagian-bagian diri yang mungkin sulit diterima.

Begitu ahli melakukannya sampai tak seorang pun menyadari bahwa kita sedang kesulitan.

Lihatlah betapa sibuknya manusia berusaha menjadi manusia yang pantas.

Kita memuji mereka yang selalu ada ketika dibutuhkan. Kita menyebutnya kuat, dewasa, dapat diandalkan. Namun, jarang sekali kita bertanya kepada orang semacam itu...

Apakah ia juga memiliki seseorang yang bisa ia datangi ketika dirinya sendiri tak sanggup lagi mengerti apa-apa?

Jangan buru-buru menyalahkan dunia kawan. Tidak setiap orang yang meminta sesuatu darimu sedang berniat merampas dirimu. Kadang-kadang mereka hanya tak tahu bahwa tangan yang mereka genggam juga sedang terluka. Kadang-kadang mereka terlalu sibuk membawa beban sendiri sampai lupa bahwa kau pun sedang memikul sesuatu.

Dan kadang-kadang, yang paling menyedihkan adalah... kau tidak pernah memberi tahu mereka.

Kau tersenyum ketika ingin menangis. Berkata tidak apa-apa ketika sebenarnya berharap seseorang akan bertanya sekali lagi. Mengatakan sanggup ketika tubuh dan pikiranmu sudah lama meminta berhenti.

Kau terus memberi karena takut, jika suatu hari berhenti memberi, orang-orang tak lagi memiliki alasan untuk tinggal.

Padahal, dicintai karena apa yang dapat kau berikan tidak selalu sama dengan dicintai karena siapa dirimu.

Keduanya bisa datang bersamaan, tentu saja. Namun, keduanya juga bisa berpisah tanpa pernah kau sadari.

Dan ketika hari itu tiba, mungkin kau baru mengerti bahwa selama ini kau bukan hanya memberikan sebagian dirimu. Kau juga diam-diam berharap bahwa setiap bagian yang diserahkan akan menjadi alasan bagi seseorang untuk tetap memilihmu.

Betapa mahalnya harga sebuah harapan yang tak pernah berani kita ucapkan.

Ada satu hal yang perlu kau ketahui tentang pengorbanan, kawan..

hal ini tidak selalu datang dengan wajah menyedihkan.

Kadang-kadang, pengorbanan datang dengan pakaian rapi dan sederet alasan masuk akal. Ia mengetuk pintu pada pagi hari, memintamu menunda keinginan sedikit lagi. Ia datang pada malam hari, mengingatkanmu tentang tanggung jawab yang belum selesai.

Bahkan, ia bisa datang dengan suara orang yang paling kau cintai.

Meminta pengertian. Meminta waktu. Meminta satu kesempatan lagi.

Dan kau membukakan pintu, sebab bukankah itu yang seharusnya dilakukan seseorang yang baik kan?

Masalahnya, tak ada papan peringatan dalam hidup yang memberi tahu kapan sebuah pengorbanan telah terlalu jauh. Tak ada petugas yang mengetuk pintumu untuk mengabarkan bahwa jatah kesabaranmu sudah habis.

Kau bisa terus memberi sampai pemberianmu dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya tersedia.

Bukan selalu karena orang-orang tak tahu berterima kasih, tetapi karena manusia mudah terbiasa dengan kebaikan. Apa yang dahulu terasa seperti hadiah, lama-kelamaan menjadi bagian dari keseharian.

Dan apa yang dulu disambut dengan terima kasih, suatu hari mungkin hanya akan membuat seseorang bertanya...

“Mengapa kau tidak lagi melakukannya?”

Pada saat itulah, kau akan berhadapan dengan pertanyaan yang sulit dijawab.

Apakah kau marah karena mereka telah mengambil terlalu banyak, atau karena baru sekarang kau menyadari bahwa kau tak pernah menentukan batas dari apa yang boleh mereka ambil?

Kemarahan terkadang datang terlambat.

Muncul bertahun-tahun kemudian, ketika kita akhirnya cukup berani menoleh ke belakang. Kita mengingat kesempatan yang dilewatkan, mimpi yang dikubur dengan tangan sendiri, dan betapa seringnya kita meyakinkan diri bahwa semuanya akan terbayar pada waktunya.

Lalu kita ingin bertanya kepada seseorang...

“Mengapa tidak ada yang menghentikanku?”

Namun, sebelum pertanyaan itu selesai, kita teringat bahwa sebagian besar keputusan tersebut memang kita ambil sendiri.

Kita sendiri yang berkata sanggup. Kita sendiri yang memilih tinggal. Kita sendiri yang menunda. Kita sendiri yang percaya bahwa nanti akan selalu ada waktu untuk kembali kepada hal-hal yang ditinggalkan.

Padahal, nanti bukanlah sebuah janji.

Nanti, hanyalah kata yang kita gunakan ketika belum siap menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal akan menunggu kita.

Barangkali kau pernah mendengar nasihat bahwa manusia harus menjadi dirinya sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana, hampir seperti sesuatu yang dapat ditulis di atas secarik kertas lalu ditempelkan di dinding kamar. Namun, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa tak banyak pekerjaan yang lebih rumit daripada menjadi diri sendiri.

Sebab, diri yang mana yang sedang kita bicarakan?

Diri kita yang dahulu, sebelum mengenal ketakutan akan penilaian orang lain? Diri kita yang sekarang, yang dibentuk oleh pengalaman dan keputusan? Atau diri yang kita bayangkan ketika memejamkan mata dan bertanya seperti apa kehidupan yang sebenarnya kita inginkan?

Mungkin ketiganya berbeda.

Kau yang dahulu ingin pergi sejauh mungkin, sementara kau yang sekarang ingin pulang lebih cepat. Kau yang dahulu ingin dicintai semua orang, sementara kau yang sekarang hanya ingin diterima oleh beberapa orang tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

Lantas, jika kau berubah... apakah itu berarti kau telah mengkhianati dirimu yang dahulu?

Tidak juga.

Sungai tidak mengkhianati mata airnya hanya karena air yang mengalir hari ini bukan lagi air yang sama dengan kemarin. Sebagian perubahan adalah cara kita bertahan hidup.

Namun, ada perbedaan antara berubah karena bertumbuh dan berubah karena takut ditinggalkan. Ada perbedaan antara memahami orang lain dan menghapus segala sesuatu dalam diri yang tidak mereka sukai.

Sayangnya, perbedaan itu tak selalu terlihat ketika kita sedang menjalaninya.

Kita baru mulai memahaminya ketika berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa kita telah berjalan sangat jauh tanpa pernah bertanya...

Apakah jalan ini masih ingin kutempuh?

Sekarang, bayangkan seseorang yang telah membagi dirinya sedemikian rupa.

Setengah untuk orang-orang yang dicintainya, seperempat untuk cita-citanya, dan bagian-bagian kecil lainnya untuk dunia yang terus meminta sesuatu darinya.

Ia mengumpulkan pencapaian, memenuhi tanggung jawab, melewati hari demi hari dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang berharga memang selalu mahal.

Sampai pada suatu malam...

Tak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak ada pesan yang harus dibalas. Tak ada orang yang harus ditenangkan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia hanya memiliki dirinya sendiri.

Ia duduk sendirian dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya ia inginkan.

Bukan apa yang seharusnya diinginkan. Bukan apa yang akan membuat orang tuanya bangga, orang-orang menghormatinya, atau seseorang memilihnya untuk tinggal lebih lama.

Melainkan apa yang ia inginkan ketika tak ada seorang pun yang sedang menunggu jawaban darinya.

Namun, tak ditemukan jawaban.

Mungkin, pernah mengetahuinya ketika masih kecil, ketika keinginan belum harus disertai perhitungan tentang biaya dan konsekuensi. Mungkin, pernah melakukan sesuatu hanya karena menyukainya, tanpa perlu bertanya apakah hal itu akan membuatnya lebih berguna atau lebih layak dibanggakan.

Atau mungkin... hanya sedang meromantisasi masa lalu.

Barangkali dirinya yang dahulu pun tidak pernah benar-benar utuh. Barangkali sejak awal ia memang penuh pertentangan, hanya saja belum cukup berpengalaman untuk menyadarinya.

tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu membuatnya marah.

Marah kepada dunia yang begitu pandai meminta. Marah kepada orang-orang yang diingatnya pernah membuatnya mengalah. Marah kepada keadaan yang memaksanya memilih.

Namun, di balik seluruh kemarahan itu, ada sesuatu yang jauh lebih sulit dihadapi.

Dirinya sendiri.

Bagaimana ia bisa menyalahkan dunia sepenuhnya jika ia pun ikut membantu dunia membentuk dirinya seperti sekarang? Bagaimana ia bisa menuduh orang lain telah mengambil terlalu banyak jika ia tak pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki batas?

Dan bagaimana ia bisa meminta dirinya yang sekarang kembali menjadi dirinya yang dahulu...

...sementara waktu tak pernah menyediakan jalan untuk pulang?

Maka ia mulai menghitung.

Mimpi yang ditinggalkan, kesempatan yang dilewatkan, keinginan yang ditunda, kalimat yang tak pernah terucap. Ia mencoba membedakan mana yang diberikan dengan tulus, mana yang diserahkan karena takut, dan mana yang bahkan tak disadarinya telah hilang.

Setengah, seperempat, lalu bagian-bagian yang semakin kecil.

Namun, manusia bukan benda yang bisa dibelah dengan garis lurus. Tak ada ukuran yang dapat memastikan berapa banyak dirinya yang tersisa.

Lalu, apa yang sebenarnya sedang ia cari?

Dirinya yang hilang?

Dirinya yang seharusnya menjadi?

Atau sebuah jawaban yang dapat membuat seluruh pengorbanannya terasa layak?

Barangkali ia menginginkan semuanya sekaligus.

Barangkali itulah sebabnya ia begitu sulit merasa selesai.

Ada sesuatu yang menurutku paling menakutkan dari semua ini, kawan.

Bukan ketika seseorang kehilangan sebagian dirinya, tetapi ketika mulai percaya bahwa kehilangan itu adalah satu-satunya cara agar dirinya pantas dicintai.

Tumbuh dengan keyakinan bahwa untuk mendapat tempat, harus menyediakan ruang; untuk memperoleh penerimaan, ia harus mengubah bentuk; dan untuk mempertahankan sesuatu yang berharga, harus bersedia membayar, meski tak pernah tahu berapa harga yang sebenarnya diminta.

Hingga suatu hari, berdiri di hadapan dunia dengan tangan kosong...

Lalu bertanya mengapa tak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Aku tak tahu apakah ada jawaban yang benar-benar dapat menyelesaikan persoalan itu. Aku pun tak ingin menyuruhmu berhenti berkorban, berhenti mencintai, atau berhenti menyesuaikan diri. Kita tak pernah benar-benar menjadi manusia sendirian. Kita dibentuk oleh perjumpaan, kasih sayang, kewajiban, bahkan luka-luka yang tak pernah kita minta.

Mungkin, menjadi manusia memang berarti menerima bahwa sebagian diri kita akan berubah ketika bersentuhan dengan kehidupan.

Tetapi aku berharap kau tidak pernah lupa bahwa dirimu sendiri juga sesuatu yang patut dijaga.

Kau boleh menjadi rumah bagi orang lain, tetapi jangan sampai kehilangan kunci untuk masuk ke rumahmu sendiri.

Kau boleh menjadi pelita yang menerangi jalan seseorang, tetapi jangan mengira tugasmu adalah membakar seluruh tubuhmu sampai tak ada lagi yang tersisa.

Dan jika suatu hari kau terlalu lelah untuk menjadi siapa-siapa bagi orang lain...

Jangan buru-buru menganggap dirimu gagal.

Duduklah sebentar.

Tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua kesedihan harus segera menemukan pelajaran. Tidak semua keputusan harus dibenarkan dengan kalimat bahwa semuanya akan indah pada waktunya.

Kadang-kadang, sesuatu memang menyakitkan. Kadang-kadang, kesempatan memang telah berlalu. Kadang-kadang, kita baru memahami nilai sebuah pilihan setelah tak lagi punya kesempatan untuk mengambilnya.

Boleh menyesalinya.

Boleh marah.

Boleh menangisi diri kita yang dahulu, yang mungkin terlalu takut, terlalu naif, atau terlalu percaya bahwa setiap pengorbanan pasti memperoleh balasan setimpal.

Setelah itu, kita boleh melanjutkan hidup.

Mungkin suatu hari kita akan menyadari bahwa selama ini kita begitu sibuk berusaha menjadi utuh, sampai lupa bahwa keutuhan itu sendiri belum tentu memiliki bentuk yang dapat dikenali.

Kita membayangkan suatu hari nanti, setelah kewajiban selesai, orang-orang yang kita cintai bahagia, cita-cita tercapai, dan segala pengorbanan memperoleh maknanya, kita akan duduk dengan tenang lalu merasa lengkap.

Namun, bagaimana jika hari itu tidak pernah datang?

Bagaimana jika setiap tujuan yang tercapai hanya membuka jalan menuju tujuan lainnya? Setelah berhasil menjadi seseorang yang dahulu kita impikan, bagaimana jika kita justru merindukan kehidupan yang harus kita tinggalkan untuk sampai ke sana?

Apakah itu berarti kita tak pernah utuh?

Ataukah kita terlalu lama mengira keutuhan adalah sebuah keadaan akhir, padahal manusia selalu menjadi sesuatu yang belum selesai?

Aku sungguh tidak tahu.

Dan mungkin, untuk beberapa pertanyaan, ketidaktahuan adalah jawaban paling jujur. Bukan karena kita berhenti berpikir, melainkan karena kita mulai memahami bahwa tidak semua hal penting harus berakhir dengan sebuah kesimpulan.

Barangkali kita hanya bisa belajar memilih dengan lebih sadar: membedakan mana yang diberikan karena cinta dan mana yang diserahkan karena takut; menerima bahwa sebagian kehilangan tak dapat diperbaiki, tetapi tak harus menentukan seluruh kehidupan setelahnya.

Dan yang terpenting...

Belajar bahwa tidak semua hal berharga harus dibayar dengan menghabiskan diri sendiri.

Hidup bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling banyak berkorban. Tak ada medali emas, perak, perunggu bagi mereka yang paling lama menahan sakit dalam diam. Tak ada penghargaan yang mampu mengembalikan tahun-tahun yang telah berlalu, dan tak ada tepuk tangan yang dapat menggantikan ketenangan ketika seseorang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.

Maka, jika suatu hari kau merasa telah menjadi setengah manusia, lalu setengah itu kembali kau bagi menjadi seperempat, jangan buru-buru menyebut dirimu gagal.

Berhentilah sejenak, ya?.

Lihatlah apa yang sedang kau lakukan. Mungkin kau sedang bertumbuh. Mungkin kau sedang bertahan. Mungkin kau sedang memberikan sesuatu yang memang ingin kau berikan.

Atau mungkin, tanpa sadar, kau sedang berusaha membeli tempat di dunia dengan bagian-bagian dirimu sendiri.

Aku tak bisa menentukan mana yang sedang kau alami. Namun, aku berharap kau masih memiliki keberanian untuk bertanya kepada dirimu sendiri, bahkan ketika jawabannya tak menyenangkan.

Sebab barangkali, menjadi utuh bukan berarti berhasil mengumpulkan kembali setiap bagian yang pernah hilang.

Barangkali, menjadi utuh adalah keberanian untuk melihat seluruh bagian itu yang masih ada, yang telah berubah, yang sengaja ditinggalkan, dan yang tak mungkin kembali tanpa berpura-pura bahwa tak pernah ada sesuatu yang hilang.

Dan jika setelah semua itu kau masih belum menemukan jawaban tentang apa artinya menjadi manusia seutuhnya...

Tidak apa-apa.

Kita tak harus selalu memiliki jawaban untuk berhak menjalani kehidupan sendiri.

Hanya saja, jangan sampai kau menghabiskan seluruh hidup untuk menjadi seseorang yang dapat dicintai dunia, lalu baru menyadari pada akhirnya bahwa kau tak pernah belajar mencintai manusia yang selama ini kau tinggalkan di dalam dirimu sendiri.

Karena boleh jadi, harga paling mahal yang harus dibayar manusia bukanlah kehilangan sesuatu yang ia cintai.

Melainkan kehilangan dirinya sendiri, tanpa pernah menyadari kapan tepatnya ia pergi.

Dan ketika akhirnya ia menyadarinya, ia tak lagi tahu apakah yang tersisa adalah manusia yang utuh, manusia yang setengah, atau sekadar seseorang yang telah begitu lama belajar menjadi segala sesuatu bagi orang lain...

sampai lupa bagaimana caranya menjadi dirinya sendiri.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel