Sastra

Seporsi Pimpinan, kaldunya Pergerakan

Terbit

27 September 2026

Durasi

5 min read

Seporsi Pimpinan, kaldunya Pergerakan

“Jawab pertanyaan ini:

‘IPM, kalau jadi benda, jadi benda apa?’ Tuliskan jawaban kalian pada secarik kertas!”

Kapan lagi ku—dan kami—dapati

pertanyaan macam itu.

Meja sebelah kiri—kutengok,

cukup beragam:

- buku

- pena

- tenda

- jembatan.

Meja sebelah belakang—kuintip,

cukup lumayan:

- kasur

- pohon

- Gunung Arjuno

- api.

Lalu akhirnya, teman sebangkuku.

Kupandangi kertasnya

yang masih suci.

“Cukup sekian,”

ujarnya pasrah.

Ia yang menungguku

menuliskan sesuatu.

Baiklah.

Kuambil bulpen, lalu nafas.

Diatas kertas kutuliskan

jawabanku. Asbun saja:

Seporsi Bakso Malang.

Ya, aku memang lapar. Tapi

bayangkan:

Ia lahir dari tangan

penjual yang penuh perhatian.

Dari berbagai jenis gorengan,

bumbu, taburan,

tak lupa bakso-baksoan.

Semangkuk bisa berisi

bakso kasar–halus,

buto–krikil,

direbus dan/atau dibakar;

lalu dipadu dengan siraman

kecap, sambal, saus tomat

juga cuka dan kriukan.

Mangkuk lain hanya berisi bihun, kaldu, dan bawang goreng

untuk dimakan dengan kesederhanaan.

Ada yang tak bermangkuk,

cukup dalam plastik dan kresek

yang menggemuk.

Ada pula yang tak berkaldu,

cukup ditusuk

lalu dipilu.

Mungkin akan dinikmati

dengan segelas es teh.

Atau es dawet, mungkin es campur.

Ada lagi yang menikmatinya

bersama nasi atau lontong juga sayur.

Dengan para pecintanya,

dengan racikan kebanggaannya:

mungkin ada jauh lebih banyak kombinasi

yang perlu dicoba dan dirasa.

Yang perlu dicatat lalu diabadikan

atau mungkin dikenang lalu diwariskan.

Seragam atau tidaknya rasa,

tidak ada yang mempermasalahkan.

Cukuplah mereka, atau kita—

yang menikmatinya,

untuk mau menghargai

dengan setulus hati

dan kelapangan.

“Jangan ngelamun, Sam.”

Kembali aku tersadar.

Duh, sampai mana aku tadi?

“Jawabanmu,” tanya temanku.

Ia pandangi kertasku sedari tadi.

“Apa maksudnya?”

Aku ternyata hanya menuliskan

“Seporsi Bakso Malang”,

tanpa diikuti puisi

yang sudah terbayang indah di kepalaku.

Ah, biarlah. Kukumpulkan saja jawabanku.

Barangkali, itulah cara IPM bekerja:

Satu jawaban, banyak tafsiran.

---

Syukron sudah membaca.

Udah yaa, mau beli bakso dulu.

Laper nulisnya.

Bye y'alll.

(2026)

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel