Privilege Intelektual Seorang Guru

Mari berbangga menjadi guru dan mari hargai guru.

Terbit

28 Oktober 2026

Durasi

2 menit baca

Privilege Intelektual Seorang Guru

Menjadi guru di negeri kita akhir-akhir ini adalah hal yang terbilang lumayan menakutkan, ya. Gaji yang kecil, harus berhadapan dengan anak beserta segala macam kelakuannya. Dan masih banyak lagi ketakutan lain.

Tapi hari ini, aku menemukan sebuah titik membahagiakan menjadi seorang guru, privilege luar biasa yang tidak didapatkan kecuali kamu menjadi seorang guru. Entah itu guru formal maupun non-formal.

Privilege yang didapat sebenarnya simpel tetapi berharga banget. Lihatlah saat seseorang mengajarkan atau saat seseorang menjadi guru secara sadar maupun tidak sadar ia sedang memperdalam pengetahuannya.

Tahapan awal pengetahuan itu saat kita dapat memahaminya, tahapan kedua pengetahuan saat kita dapat menjalankannya dan tahap tertinggi dalam sebuah pengetahuan adalah membuat orang lain ikut memahaminya.

Pengajar dituntut menjadi seorang yang dapat membuat yang diajarnya paham, maka dia akan terus memperdalam pengetahuannya. Ia mencari contoh yang bisa digunakan untuk menjadi fasilitas pemahaman peserta didik, mencari bahasa yang mudah agar dapat dipahami peseta didik. Bertambah dalamlah pengetahuannya tentang hal itu.

Bahkan pada sebuah seminar saya pernah mendapatkan tips untuk bisa memahami dan mengingat sesuatu dengan mudah. Bagian paling tinggi dari tips itu adalah mengajarkannya. Dengan mengajarkannya, kita akan semakin paham dan dengan mengajarkannya kita akan semakin ingat.

Ada kutipan mengatakan ‘if you don’t use it, you lose it’ kalau kamu tidak gunakan, kamu akan kehilangan. Kutipan ini berlaku untuk segala hal termasuk di dalamnya adalah ilmu. Banyak teori dan pembelajaran yang akhirnya kita lupa, masalah utamanya adalah karena kita tidak menggunakannya. Tahapan pertama dalam menggunakan ilmu adalah dengan mengamalkan dan tahapan tertinggi setelahnya adalah mengajarkan. Dengan begitu, privelege mengajar adalah memelihara ilmu yang kita punya.

John Dewey, seorang filsuf dan reformator pendidikan pernah mengatakan bahwa pendidikan itu bukanlah persiapan untuk hidup, tetapi pendidikan adalah hidup itu sendiri. Berbanggalah wahai para pembawa kehidupan, meskipun negara sangat sedikit dalam memikirkanmu, tetapi dunia membutuhkan peranmu.

Aris Toteles seorang filsuf yunani, sampai mengatakan bahwa seorang guru itu harusnya dihormati lebih dari orang tua. Sebab orang tua menganugerahkan hidup, tetapi guru menganugerahkan seni untuk hidup.

Selain bermanfaat bagi diri sendiri, jelas sekali menjadi guru itu bermanfaat bagi orang lain. Apalagi menjadi seorang guru dengan tutur kata yang hebat, tindakkan yang tepat dan pemikiran yang akurat. Superior sudah itu guru.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel