Pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh E. F. Schumacher dalam Small is Beautiful, tidak boleh berhenti pada aspek “know-how”, tetapi juga harus mengedepankan “know-why”—”the need to understand why things are as they are and what we are to do with our lives.” Prinsip ini menjadi pondasi bagi Pelatihan Dai Pelajar Muhammadiyah Nasional 2025 (PDPMN 2025), yang tidak hanya berfokus pada keterampilan dakwah, tetapi juga membentuk cara berpikir kritis dalam memahami realitas sosial. Melalui pembelajaran diskursif dan ekspedisi lapangan, PDPMN 2025 dirancang untuk membekali peserta dengan wawasan yang lebih kontekstual dan solutif dalam merespons berbagai tantangan dakwah.
PDPMN 2025 diselenggarakan dalam dua tahap. Sesi daring (8–9 Februari) menghadirkan pemateri Kiai Kusen dan Twediana Budi Hapsari, sementara sesi luring (12–16 Februari) di Kota Denpasar mengundang Alimatul Qibtiyah, I Ketut Ardhana, serta perwakilan komunitas dakwah, Ilham Effendi dan Fairuz Zahidah. Dalam sesi ekspedisi, peserta menelusuri Kampung Islam Kepaon, Kampung Bugis, Museum Bali, dan Puja Mandala, serta berdialog langsung dengan komunitas adat dan agama di setiap destinasi. Sebagai bentuk implementasi, peserta diberikan misi berbasis project-based learning (PBL) untuk merancang strategi dakwah kontekstual sesuai dengan realitas sosial yang mereka hadapi.
Pendekatan epistemologis yang digunakan dalam PDPMN 2025 berpijak pada epistemologi












