Makanan Ber- Gratis

Terbit

21 Oktober 2026

Durasi

5 min read

Makanan Ber- Gratis

Sebagai mahasiswa gizi, kadang suka ada aja temen yang nanya, “Menurut pendapat lu, MBG itu gimana sih?”

Jujur, kadang pengen langsung marah WKWKWK. Karena sebenernya dari awal aku nggak pernah sepenuhnya setuju sama program ini. Menurutku, masih banyak hal yang perlu dipertanyakan, mulai dari urgensinya, ketepatan sasaran, sampai anggaran yang dikeluarkan.

Tapi, balik lagi, nantinya kita bakal punya gelar ahli gizi. Masa iya kalau ditanya soal program yang berhubungan sama bidang kita, jawabannya cuma karena nggak setuju? Mau nggak mau, kita juga harus bisa menjelaskan ke orang awam berdasarkan ilmu yang udah kita pelajari.

Makanya, kalau ditanya soal MBG, aku biasanya bakal bilang kalau sebenernya program ini punya tujuan yang bagus, tapi aku membalikkan dengan beberapa pertanyaan ke mereka.

Kalau memang tujuannya buat mengatasi stunting, apakah sasarannya udah tepat?

Kalau kita ngomongin stunting, pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Di periode ini, pemenuhan gizi punya peran penting banget buat pertumbuhan dan perkembangan anak. Makanya, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak ibu hamil sampai bayi dan balita.

Terus, gimana dengan anak sekolah?

Bukan berarti anak sekolah nggak butuh makanan bergizi, ya. Mereka tetap butuh asupan gizi yang cukup buat mendukung pertumbuhan dan aktivitas sehari-hari. Tapi, kalau MBG ini dikaitkan dengan penurunan stunting, menurutku perlu ada penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana program ini bisa mencapai tujuan tersebut.

Karena memperbaiki asupan gizi anak sekolah dan mencegah stunting sejak 1.000 HPK itu punya fokus yang berbeda. Keduanya penting, tapi intervensinya juga perlu disesuaikan dengan sasaran masing-masing.

Kalau memang mau serius mengatasi stunting, menurutku perhatian terhadap ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita juga harus tetap jadi prioritas. Jangan sampai kita terlalu fokus sama satu program, tapi lupa kalau persoalan gizi itu luas banget.

Terus, kalau tujuannya buat perbaikan gizi, data yang dipunya apa aja?

Selama belajar gizi, aku memahami kalau kita nggak bisa asal bikin menu makanan terus langsung dibagikan ke banyak orang. Apalagi kalau sasarannya anak-anak dalam jumlah besar.

Kita perlu tahu dulu siapa sasarannya, berapa jumlah penerima manfaatnya, bagaimana kebutuhan gizinya, apakah ada alergi atau kondisi tertentu, dan data lain yang bisa mendukung perencanaan menu.

Memang, bukan berarti setiap anak harus punya menu yang berbeda. Tapi, data tetap dibutuhkan supaya makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi penerimanya.

Nah, yang jadi pertanyaanku, apakah data-data tersebut udah benar-benar digunakan dalam pelaksanaan MBG di setiap sekolah? Aku juga nggak bisa bilang pemerintah nggak punya data sama sekali, tapi menurutku penting buat memastikan kalau data yang ada memang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Karena kalau kita mau melakukan perbaikan gizi, kita harus tahu dulu masalahnya apa. Jangan sampai programnya udah berjalan, tapi kita belum bisa memastikan apakah intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Ada lagi yang bikin aku cukup notice, yaitu soal menu makanannya.

Sedikit cerita, mamaku seorang guru dan sekolahnya termasuk yang mendapatkan MBG. Beberapa kali mama cerita tentang pelaksanaan MBG di sekolahnya, mulai dari petugas sampai menu makanan yang diberikan.

Dari cerita mama, aku jadi lebih memperhatikan bagian menunya. Kebetulan, selama kuliah aku pernah belajar mata kuliah MSPM atau Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan. Di mata kuliah ini, kita belajar gimana caranya merencanakan dan menyelenggarakan makanan dalam jumlah besar.

Ternyata, bikin menu itu nggak sesimpel yang dibayangin. Bahkan waktu tugas kuliah aja, perencanaan menu bisa berkali-kali direvisi karena variasi makanannya kurang sesuai. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan gizi, jenis bahan makanan, anggaran, sampai cara pengolahannya.

Nah, dari cerita mama, aku menangkap kalau variasi menu MBG di sekolahnya masih jadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ada makanan yang menurut beliau kurang bervariasi dan beberapa kali mengalami pengulangan.

Memang, bahan makanan yang sama boleh aja digunakan beberapa kali dalam seminggu. Misalnya, hari ini ayam, besok telur, lalu di hari lain menggunakan sumber protein yang berbeda. Yang penting, variasi menu secara keseluruhan tetap diperhatikan supaya kebutuhan gizi bisa terpenuhi.

Aku juga sadar kalau pengalaman mama di satu sekolah belum tentu menggambarkan pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia. Tapi, menurutku, pengalaman seperti ini tetap bisa jadi bahan evaluasi. Apakah perencanaan menunya udah sesuai? Apakah ada pengawasan terhadap variasi makanan? Dan apakah masukan dari sekolah ikut dipertimbangkan?

Karena kalau di kuliah aja kita belajar kalau perencanaan menu perlu banyak pertimbangan, harusnya pelaksanaan dalam skala besar juga nggak bisa dilakukan asal-asalan, dong.

Belum lagi soal makanan yang nggak habis. Sayang banget, nggak sih?

Menurutku, makanan yang diberikan ke anak-anak juga perlu disesuaikan dengan penerimaan mereka. Bukan berarti harus selalu memberikan makanan favorit anak-anak, tapi setidaknya kita perlu tahu makanan apa yang mereka suka dan apa yang sering tersisa.

Karena makanan yang udah direncanakan memenuhi kebutuhan gizi belum tentu memberikan manfaat sesuai harapan kalau akhirnya nggak dimakan.

Kalau makanan yang dibagikan malah banyak tersisa, bukankah itu bisa jadi food waste? Bahan makanannya udah dibeli, udah dimasak, udah didistribusikan, tapi akhirnya terbuang begitu aja.

Makanya, menurutku, evaluasi menu itu penting banget. Kita nggak cukup cuma menghitung berapa banyak makanan yang berhasil dibagikan, tapi juga perlu melihat berapa banyak yang benar-benar dikonsumsi anak-anak.

Jangan sampai programnya terlihat berjalan lancar karena makanan berhasil dibagikan setiap hari, padahal masih ada persoalan yang perlu diperbaiki dari sisi penerimaan makanan.

Terus, gimana soal kasus keracunan yang beberapa kali terjadi?

Ini juga jadi hal yang nggak bisa diabaikan. Kalau ada anak yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG, tentu perlu ada pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pastinya.

Sebagai mahasiswa gizi, kita belajar kalau makanan itu bukan cuma harus memenuhi kebutuhan zat gizi, tapi juga harus aman dikonsumsi. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari kebersihan bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, sampai distribusinya.

Jadi, pertanyaannya, bagaimana pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG? Apakah petugasnya udah mendapatkan pelatihan yang sesuai? Apakah proses pengolahan dan distribusinya udah memenuhi standar keamanan pangan?

Aku nggak bisa langsung menyimpulkan penyebab keracunan tanpa hasil pemeriksaan. Tapi, kejadian seperti ini harus jadi evaluasi serius supaya masalah yang sama nggak terus berulang.

Karena kalau tujuannya buat meningkatkan kesehatan anak-anak, ya jangan sampai makanan yang diberikan justru menimbulkan risiko kesehatan.

Nah, yang paling aku pertanyakan juga soal anggarannya.

Jujur, menurutku anggaran yang dialokasikan buat MBG itu besar banget. Aku paham kalau program nasional memang membutuhkan biaya yang nggak sedikit, apalagi untuk pengadaan bahan makanan, tenaga kerja, pengolahan, dan distribusinya.

Tapi, dengan anggaran sebesar itu, menurutku wajar kalau masyarakat mempertanyakan apakah hasil yang didapat udah sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Apakah programnya udah tepat sasaran? Apakah makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi? Apakah ada perbaikan status gizi yang bisa diukur? Dan apakah pelaksanaannya udah berjalan secara efektif?

Di sisi lain, Indonesia juga masih punya banyak kebutuhan yang perlu diperhatikan, mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, sampai bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana.

Aku nggak mau asal bilang kalau anggaran MBG otomatis mengambil dana dari bantuan bencana atau seluruh anggaran pendidikan, karena itu perlu dibuktikan lewat data anggaran. Tapi, menurutku, pemerintah tetap perlu menjelaskan bagaimana prioritas anggaran ditentukan dan bagaimana kebutuhan masyarakat lainnya tetap diperhatikan.

Karena pada akhirnya, yang perlu kita lihat bukan cuma seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, tapi juga apakah penggunaannya udah efektif dan memberikan manfaat yang sesuai dengan tujuan program.

Jadi, MBG ini tetep harus dilanjutkan kah?

Kalau ditanya begitu, jujur aku masih punya banyak pertanyaan.

Aku nggak menolak kalau anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Aku juga nggak bilang kalau program makan di sekolah nggak punya manfaat. Tapi, menurutku, program sebesar ini nggak bisa cuma dinilai dari niat baiknya aja.

Perlu ada evaluasi soal ketepatan sasaran, perencanaan menu, keamanan pangan, penerimaan makanan, sampai penggunaan anggarannya. Kalau memang ada kekurangan, ya harus diperbaiki. Kalau ada bagian yang belum aman, harus segera ditangani. Kalau ternyata pelaksanaannya belum efektif, berarti perlu ada perubahan yang sesuai dengan hasil evaluasi.

Menurutku, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar MBG harus lanjut atau berhenti, tapi apakah program ini udah berjalan dengan cara yang tepat dan benar-benar memberikan manfaat buat penerima manfaatnya?

Sebagai mahasiswa gizi, aku merasa kita juga perlu melihat program ini secara kritis. Bukan berarti harus selalu menentang kebijakan pemerintah, tapi kita juga nggak harus menerima semuanya tanpa mempertanyakan dasar dan hasilnya.

Karena selama belajar gizi, kita tahu kalau masalah gizi nggak bisa diselesaikan cuma dengan satu cara. Ada banyak faktor yang saling berkaitan dan perlu diperhatikan.

Jadi, kalau memang MBG mau dilanjutkan, menurutku pelaksanaannya harus terus dievaluasi dan diperbaiki. Jangan cuma fokus pada berapa banyak makanan yang berhasil dibagikan, tapi juga lihat apakah makanan tersebut aman, dikonsumsi, dan benar-benar memberikan manfaat sesuai tujuan program.

Pada akhirnya, aku cuma berharap kalau program yang katanya buat memperbaiki gizi ini memang benar-benar bisa memberikan dampak yang sesuai dengan tujuannya.

Niat yang baik aja nggak cukup kalau pelaksanaannya masih punya banyak hal yang perlu diperbaiki.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel