Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi. Banyak orang melihat pemimpin dari jabatan yang dimiliki, ketika seseorang menjadi ketua maka dianggap sebagai seorang pemimpin. Namun menurut penulis menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang jabatan yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang dapat memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat seseorang ingin menjadi pemimpin tetapi belum bisa mengatur dirinya sendiri. Bagaimana cara mengatur waktu, bagaimana cara bertanggung jawab dengan tugasnya, bagaimana cara menerima kritikan dan bagaimana cara mengendalikan emosi. Menurut penulis hal-hal seperti ini merupakan dasar dari sebuah kepemimpinan yang harus dimiliki oleh setiap kader.
Penulis membaca buku Filosofi Teras yang didalamnya membahas tentang ilmu Stoikisme. Salah satu hal yang menurut penulis menarik yaitu tentang bagaimana kita membedakan sesuatu yang bisa kita kendalikan dan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Dari sini penulis mencoba melihat bagaimana ilmu tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan organisasi.
Dalam organisasi kita tidak bisa mengatur semua hal sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita tidak bisa mengatur orang lain untuk selalu menyukai kita, tidak bisa membuat semua orang menerima pendapat kita dan tidak bisa memastikan semua kegiatan yang kita lakukan akan berhasil. Bahkan ketika kita sudah bekerja dengan maksimal belum tentu orang lain memberikan apresiasi kepada kita.
Tetapi ada sesuatu yang masih bisa kita kendalikan yaitu diri kita sendiri. Kita bisa mengatur bagaimana kita bekerja, bagaimana kita bersikap kepada orang lain, bagaimana kita menjalankan amanah dan bagaimana kita menghadapi sebuah masalah.
Menurut penulis terkadang kita terlalu banyak memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan. Ketika ada orang yang tidak menyukai kita maka kita memikirkan hal tersebut terlalu lama. Ketika pendapat kita tidak diterima kita merasa kecewa. Ketika tidak mendapatkan sebuah jabatan kita merasa bahwa proses yang kita lakukan tidak dihargai.
Padahal mungkin yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa tetap melakukan yang terbaik dari sesuatu yang masih bisa kita lakukan.
Dalam sebuah organisasi pasti akan ada perbedaan pendapat. Setiap kader mempunyai pemikiran dan karakter yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menurut penulis bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi bagaimana kita bisa belajar untuk saling menghargai dan mencari jalan keluar secara bersama-sama.
Begitu juga ketika terjadi sebuah masalah. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan emosi. Tidak semua perkataan orang lain harus kita balas. Terkadang kita harus belajar untuk diam, mendengarkan dan memikirkan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan.
Hal tersebut menurut penulis juga merupakan bagian dari kepemimpinan diri.
Kaderisasi yang dilakukan dalam organisasi menurut penulis tidak hanya tentang bagaimana seseorang mengikuti kegiatan, menjadi panitia, mengikuti pelatihan, kemudian mendapatkan sebuah jabatan. Lebih dari itu kaderisasi harus mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
Pertanyaannya adalah setelah mengikuti banyak kegiatan dan pelatihan apakah ada perubahan dalam diri kader tersebut?
Apakah menjadi lebih bertanggung jawab?
Apakah menjadi lebih disiplin?
Apakah mampu menerima kritikan?
Apakah mampu bekerja ketika tidak ada yang melihat?
Apakah masih mau berkontribusi ketika tidak mendapatkan jabatan?
Menurut penulis hal tersebut lebih penting untuk diperhatikan dalam sebuah proses kaderisasi. Karena seseorang bisa saja memiliki banyak pengalaman dalam organisasi tetapi belum tentu mampu memimpin dirinya sendiri.
Jabatan sebenarnya bukanlah tujuan akhir dari sebuah proses organisasi. Jabatan merupakan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai seseorang mengejar jabatan tetapi belum mempersiapkan dirinya untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Menjadi pemimpin juga bukan berarti harus selalu berada di depan. Terkadang seorang pemimpin juga harus bisa berada di belakang dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang. Karena tujuan dari sebuah organisasi bukan hanya bagaimana kita menjadi hebat sendiri tetapi bagaimana kita bisa membuat orang lain juga ikut berkembang.
Dari ilmu Stoikisme yang penulis baca, penulis belajar bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Kita hanya bisa berusaha melakukan sesuatu yang memang menjadi tanggung jawab kita. Hasil akhirnya terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Ketika kita gagal dalam sebuah kegiatan, kita bisa mengambil pembelajaran dari kegagalan tersebut. Ketika pendapat kita tidak diterima, kita bisa belajar untuk menerima keputusan bersama. Ketika kita tidak mendapatkan jabatan, kita masih bisa memberikan kontribusi dengan cara yang lain.
Menurut penulis disitulah proses menjadi seorang kader dan pemimpin sebenarnya dimulai.
Karena menjadi pemimpin bukan hanya ketika kita mempunyai jabatan. Menjadi pemimpin adalah ketika kita mampu bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, mampu mengendalikan diri dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak mendapatkan penghargaan dari orang lain.
Setiap periode organisasi pasti akan selesai. Setiap jabatan juga akan berganti. Orang yang hari ini menjadi pemimpin suatu saat akan memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya. Maka yang perlu kita pikirkan bukan hanya apa jabatan yang kita dapatkan, tetapi apa yang kita tinggalkan setelah kita selesai menjalankan amanah.
Apakah kita hanya meninggalkan nama di dalam struktur atau kita juga meninggalkan kader-kader yang mampu melanjutkan proses.
Menurut penulis keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya ketika dirinya berhasil mendapatkan sebuah jabatan, tetapi ketika setelah dirinya tidak lagi berada di dalam struktur masih ada orang lain yang bisa melanjutkan apa yang sudah dibangun.
Kedepannya semoga kaderisasi dalam organisasi tidak hanya menghasilkan kader yang pandai menjalankan kegiatan tetapi juga menghasilkan kader yang mampu memimpin dirinya sendiri. Karena sebelum memimpin orang lain kita harus belajar untuk memimpin diri sendiri.
Belajar mengatur diri, belajar bertanggung jawab, belajar menerima kegagalan, belajar menerima perbedaan dan belajar untuk tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memberikan apresiasi.
Karena menurut penulis kepemimpinan yang sebenarnya bukan dimulai dari sebuah jabatan, tetapi dimulai dari diri sendiri.

