Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif yang besar sering disebut sebagai peluang emas untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju di masa depan. Namun di balik optimisme tersebut, terdapat berbagai persoalan yang terus menghantui kehidupan remaja.
Kasus perundungan di sekolah masih terjadi. Kekerasan seksual terhadap anak dan remaja masih menjadi ancaman nyata. Krisis kesehatan mental semakin banyak dialami pelajar. Belum lagi persoalan penyalahgunaan narkoba, rendahnya literasi digital, hingga budaya saling menghakimi yang tumbuh subur di media sosial.
Ironisnya, berbagai persoalan tersebut hadir di ruang yang setiap hari dihuni oleh para pelajar. Di kelas, di lingkungan sekolah, di organisasi, bahkan dalam lingkaran pertemanan mereka sendiri. Kemudian Pertanyaannya, siapa yang seharusnya hadir untuk menjawab berbagai persoalan tersebut?
Banyak pihak tentu memiliki peran. Keluarga, sekolah, pemerintah, maupun komunitas kepemudaan. Namun jika berbicara mengenai pelajar, rasanya sulit untuk tidak menempatkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai salah satu aktor yang seharusnya berada di garis depan.
Sebagai organisasi pelajar terbesar di lingkungan Muhammadiyah, IPM memiliki kekuatan yang luar biasa. Jaringannya tersebar dari tingkat pusat hingga ranting di sekolah-sekolah. Basis kadernya sangat besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa IPM memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan kehidupan pelajar sehari-hari.
Namun pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah, sudahkah kekuatan besar tersebut benar-benar digunakan untuk menjawab persoalan nyata yang sedang dihadapi remaja?
Antara Potensi dan Realitas
Sebagai seorang kader IPM, dari ruang ruang diskusi saya melihat bahwa












