Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan yang kita hadapi setiap musim kemarau. Namun, tahun ini kita perlu melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda: apa yang terjadi ketika krisis lingkungan mulai mengganggu pendidikan?
Belakangan ini, persoalan tersebut bukan lagi sekadar kemungkinan. Di sejumlah daerah, sekolah mulai memindahkan pembelajaran ke rumah karena kualitas udara tidak lagi aman bagi peserta didik. Di Pontianak, misalnya, pembelajaran daring kembali diperpanjang selama sepekan akibat kabut asap karhutla yang semakin pekat. Di Natuna, sejumlah sekolah di Pulau Serasan juga menerapkan belajar dari rumah untuk mencegah risiko gangguan kesehatan akibat kondisi udara. Sementara itu, di Sawahlunto, proses belajar mengajar sempat dialihkan secara daring pada 28–29 Agustus 2026 karena kabut asap.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di kawasan hutan dan lahan. Asap bergerak melewati batas administratif, masuk ke permukiman, ruang publik, hingga ruang kelas. Ketika kondisi udara memburuk, aktivitas pendidikan yang seharusnya berlangsung secara normal pun harus menyesuaikan keadaan lingkungan.












