Opini

Jangan Kecewakan Muhammadiyah dengan Perilakumu

Terbit

30 Oktober 2026

Durasi

6 menit baca

Jangan Kecewakan Muhammadiyah dengan Perilakumu

Oleh: Akhmad Hasbul Wafi

Pernahkah kita merasa bangga ketika mengatakan kepada orang lain bahwa kita adalah pelajar, alumni, atau kader Muhammadiyah?

Ada kebanggaan tersendiri ketika nama Muhammadiyah melekat dalam perjalanan hidup kita. Apalagi, organisasi Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Bahkan, tidak jarang kita mendengar ungkapan, “Kalau mau maju, ya Muhammadiyah.”

Ungkapan sederhana tersebut memperlihatkan betapa besarnya harapan masyarakat terhadap Muhammadiyah. Sekolahnya dipercaya, kampusnya menjadi pilihan, rumah sakitnya memberikan pelayanan, dan gerakan sosialnya hadir membantu masyarakat.

Namun, di balik kebanggaan itu, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah perilaku kita sudah mencerminkan nilai-nilai Muhammadiyah?

Jangan-jangan kita terlalu sibuk membanggakan nama besar Persyarikatan, tetapi lupa menjaga perilaku sebagai orang yang pernah dididik di dalamnya.

Sebab, menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan hanya tentang dari mana kita berasal, melainkan juga bagaimana kita bersikap ketika berada di tengah masyarakat.

Muhammadiyah Dipercaya, Jangan Sampai Kita Merusaknya

Kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.

Survei Litbang Kompas yang dilakukan pada Oktober 2024 menunjukkan bahwa 91 persen responden memberikan penilaian positif terhadap kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa.

Hal serupa terlihat dalam survei Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan pada 2026. Sebanyak 91 persen responden anak muda menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah.

Menariknya, 46,5 persen dari kelompok yang menyatakan bangga tersebut justru berasal dari kalangan nonkader Muhammadiyah.

Artinya, kebanggaan terhadap Muhammadiyah tidak hanya tumbuh di lingkungan internal Persyarikatan, tetapi juga dirasakan masyarakat luas.

Tentu angka tersebut patut disyukuri. Namun, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan atau aktif dalam organisasi Muhammadiyah, angka itu juga seharusnya menjadi pengingat.

Ada kepercayaan besar yang harus dijaga.

Bayangkan, selama lebih dari satu abad, para pendahulu Muhammadiyah membangun sekolah, mendirikan rumah sakit, menggerakkan dakwah, hingga membantu masyarakat yang membutuhkan.

Ada guru yang menghabiskan hidupnya untuk mendidik generasi muda. Ada tenaga kesehatan yang bekerja melayani masyarakat. Ada pula kader yang dengan sukarela mengorbankan waktu dan tenaganya demi keberlangsungan gerakan.

Mereka bekerja bukan semata-mata untuk membesarkan nama organisasi, melainkan untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Lantas, pantaskah perjuangan panjang tersebut kita kecewakan hanya karena tidak mampu menjaga kejujuran dan amanah?

Ketika Orang Terdidik Justru Melupakan Akhlak

Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Sejak duduk di bangku sekolah, kita diperkenalkan dengan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Kita diajarkan tentang kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat.

Namun, kenyataan kehidupan terkadang memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Pada Januari 2026, misalnya, Pengadilan Negeri Kota Madiun menjatuhkan putusan bersalah terhadap seorang mantan pejabat pengelola keuangan Universitas Muhammadiyah Madiun dalam perkara penggelapan dana milik universitas.

Peristiwa tersebut tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk menyalahkan Muhammadiyah secara keseluruhan. Kesalahan seseorang tetap menjadi tanggung jawab individu yang melakukannya.

Apalagi, pihak universitas sendiri telah menempuh jalur hukum sebagai bentuk upaya penyelesaian persoalan.

Namun, peristiwa itu memberikan pelajaran penting bahwa lingkungan pendidikan dan keagamaan sekalipun tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan.

Di sinilah kita perlu merenung.

Apa gunanya pendidikan tinggi jika kejujuran justru ditinggalkan? Apa artinya memahami banyak teori agama jika amanah yang diberikan malah disalahgunakan?

Bukankah pendidikan seharusnya menjadikan manusia semakin bertanggung jawab terhadap tindakannya?

Persoalan semacam ini juga menjadi pengingat bagi pelajar Muhammadiyah.

Jangan menganggap bahwa menjadi pelajar berprestasi, aktif berorganisasi, atau memiliki banyak pengalaman kepemimpinan sudah cukup untuk menunjukkan kualitas diri.

Sebab, kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Begitu pula kemampuan memimpin tanpa kejujuran dapat berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan.

Pelajar Muhammadiyah Jangan Hanya Bangga dengan Identitas

Sebagai pelajar Muhammadiyah, kita tentu akrab dengan berbagai simbol dan identitas organisasi.

Mulai dari seragam sekolah, lambang matahari Muhammadiyah, hingga semboyan dan nilai perjuangan yang sering disampaikan dalam kegiatan perkaderan.

Di lingkungan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), kita juga mengenal pentingnya menjadi pelajar yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil.

Namun, identitas tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya kita kenakan atau ucapkan.

Menjadi kader IPM bukan sekadar pernah mengikuti kegiatan perkaderan, menghadiri rapat, atau menduduki jabatan dalam struktur organisasi.

Ada nilai yang harus terus dibawa, bahkan ketika kita sudah tidak lagi mengenakan atribut organisasi.

Pelajar Muhammadiyah harus berani jujur meskipun teman-temannya memilih berbuat curang. Harus mampu bertanggung jawab meskipun tidak ada guru yang mengawasi. Harus peduli terhadap orang lain meskipun tidak mendapatkan pujian.

Begitu pula ketika kelak menjadi mahasiswa, pekerja, pengusaha, atau pejabat publik.

Jangan sampai ketika masih menjadi pelajar kita lantang berbicara tentang keadilan, tetapi ketika memperoleh jabatan justru mengabaikan hak orang lain.

Jangan sampai ketika aktif di IPM kita begitu semangat menyuarakan kepedulian sosial, tetapi setelah memiliki kekuasaan malah melupakan kepentingan masyarakat.

Jangan sampai kita begitu bangga menyebut diri sebagai kader Muhammadiyah, tetapi perilaku kita justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Kita perlu memahami bahwa masyarakat tidak selalu menilai seseorang dari seberapa banyak kegiatan organisasi yang pernah diikuti.

Masyarakat justru akan melihat bagaimana seseorang bersikap, memperlakukan orang lain, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Jangan Biarkan Muhammadiyah Hanya Menjadi Kebanggaan Masa Lalu

Salah satu pelajaran penting dari gerakan Muhammadiyah adalah semangat mengamalkan Surah Al-Ma'un.

Melalui pemahaman tersebut, KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada hafalan dan pengetahuan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk beribadah secara pribadi, tetapi juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan pertolongan.

Semangat inilah yang seharusnya terus hidup dalam diri pelajar Muhammadiyah.

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat atau orang berpengaruh untuk menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah telah membentuk karakter kita.

Menjaga kejujuran saat ujian, tidak menyalahgunakan uang organisasi, menghormati perbedaan pendapat, dan berani mengakui kesalahan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.

Barangkali tindakan tersebut terlihat kecil. Namun, dari kebiasaan kecil itulah karakter seseorang terbentuk.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa nama besar Muhammadiyah dibangun melalui perjuangan banyak generasi.

Kita mungkin hanya pernah bersekolah selama beberapa tahun di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Mungkin pernah menjadi pengurus IPM, mengikuti perkaderan, atau aktif dalam kegiatan Persyarikatan.

Namun, pengalaman tersebut seharusnya meninggalkan nilai yang terus hidup dalam diri kita.

Jangan sampai Muhammadiyah hanya menjadi nama yang kita banggakan ketika memperkenalkan diri, tetapi nilai-nilainya justru kita tinggalkan ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Jangan sampai kita merasa hebat karena pernah dibesarkan oleh Muhammadiyah, tetapi lupa bahwa kebesaran organisasi ini lahir dari keikhlasan, kejujuran, dan pengabdian para pendahulu.

Muhammadiyah telah berusaha mendidik kita menjadi manusia yang berkemajuan. Jangan sampai perilaku kita justru membuat masyarakat mempertanyakan hasil pendidikan tersebut.

Sebab, menjaga nama baik Muhammadiyah bukan berarti menutupi kesalahan orang-orang di dalamnya, melainkan berani memperbaiki diri, mengakui kekeliruan, dan memastikan nilai-nilai Islam benar-benar hadir dalam tindakan.

Jika kita bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah, tunjukkan kebanggaan itu melalui perilaku.

Karena pada akhirnya, cara terbaik membanggakan Muhammadiyah bukanlah dengan terus menyebut namanya, melainkan dengan menjaga nilai-nilainya dalam kehidupan kita.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel