Sastra

Hai manusia, lupa ya caranya membaca?

Imelda yang membaca, Imelda juga yang tersakiti. Sedangkan mereka apa? Tidak membaca tapi justru menyakiti.

Terbit

25 Oktober 2026

Durasi

5 min read

Hai manusia, lupa ya caranya membaca?

Suatu hari di siang yang cerah Imelda kecil membaca buku pelajaran IPA. Elkaes tipis yang berwarna hitam putih itu dibacanya dengan sangat antusias. Bacaan yang tertera saat itu bertemakan flora fauna khas Indonesia yang beraneka ragam. Banyak diantaranya hidup di hutan Kalimantan. Ia pun tertarik pada bunga anggrek hitam yang dijelaskan pada buku tersebut. Bunga yang menjadi favorit ibunya.

Malam harinya ia menelpon sang ayah yang bekerja disana. Dengan suaranya yang cempreng, Imelda berkata "Yah, disana ada anggrek hitam ya? Dibuku bilang nya ada, dan itu langkah," dan dengan polosnya mulut mungil itu berucap "nanti kalau pulang ke Jawa jangan lupa bawa anggreknya ya," sang ibu yang mendengar hanya tertawa, dan menasihati jika bunga itu langkah maka alangkah baiknya dibiarkan tumbuh di alamnya, jangan diambil dan jangan dicabut.

Beranjak dewasa, Imelda semakin suka membaca. Ia tertarik pada buku-buku pelajaran yang ia dapatkan dari sekolah. Terkadang ketika elkaes tipis itu hanya memberikan sedikit informasi juga ilustrasi, Imelda tidak jarang mampir ke perpustakaan dan meminjam buku tebal yang memiliki lebih banyak kata juga gambar. Dan dari semua buku yang ada, Imelda sangat suka dengan buku IPA, terutamanya biologi.

Semakin dibaca, Imelda semakin tertarik pada lingkungan, hewan, dan tumbuhan. Banyak pengajaran dan pengetahuan baru yang ia dapatkan. Ia lebih tau hewan-hewan apa saja yang langkah, ia lebih tau tumbuhan apa saja yang harus dijaga selain bunga anggrek hitam di Kalimantan, dan tentunya ia semakin sayang juga takjub pada kekuasaan Tuhan yang begitu hebatnya.

Hingga, saat dirinya mulai beranjak dari desa kecilnya yang asri, Imelda terperangah pada realita yang jauh dari apa yang ia baca. Ia melihat asap hitam mengepul di atas awan. Sumbernya berasal dari corong benda besar yang berada pada kompleks bangunan pabrik. Ia juga melihat sawah luas terbentang yang kering. Bahkan ada beberapa pohon yang ditebang dan tumpukan sampah yang menggunung layaknya rumah tingkat tiga.

"Kok seperti ini?" Batin Imelda tidak percaya. Ia merasa dadanya sakit. Entah kenapa tulisan-tulisan di buku itu tiba-tiba berkeliaran di kepala. Tulisan-tulisan yang menunjukkan sikap apa yang harus dilakukan manusia sebagai makhluk berakal yang menjadi pelindung lingkungan. Tulisan-tulisan yang memberikan banyak informasi jika lingkungan rusak maka akan berakibat seperti ini, jika hutan di gundul akan jadi seperti ini, dan jika bumi tidak lagi seperti dulu maka manusialah yang akan menderita. Tapi yang ada, mereka seperti tidak pernah membaca tulisan yang Imelda baca.

Dan semakin bertambahnya usia, ketika Imelda punya ponsel genggamannya sendiri, ia melihat perangai manusia yang semakin rusak dan bejat. Ada dari mereka yang meluapkan hawa nafsu dengan melecehkan hewan yang bahkan hewan pun tidak terpikirkan untuk bersetubuh dengan hewan lain. Sungguh, dimana letak akal itu sekarang? Dimana nurani mereka hingga berani menyakiti hewan secara langsung maupun tidak langsung? Banyak dari mereka yang akhirnya punah. Dan tak jarang yang bertahan pun harus merasa kesakitan akibat salah satu anggota tubuhnya diambil dengan cara yang tidak manusiawi.

Dulu Imelda kecil berpikir bahwa dimasa depan dengan teknologi yang semakin canggih, akan semakin mudah untuk menjaga hewan dan tumbuhan itu tetap ada. Namun, setelah ia dewasa, ia faham, rakusnya manusia melebihi perkembangan teknologi itu sendiri. Dan sekarang, pulau yang memiliki title "paru-paru dunia" yang amat sangat disukai oleh Imelda, harus berjuang menyelamatkan paru-parunya yang dirusak oleh tangan-tangan manusia.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel