Terkadang, hidup memang mengajarkan kita satu hal yang paling sunyi: bahwa setiap yang datang pasti akan pergi, dan apa yang memang sudah waktunya pergi, harus ikhlas kita biarkan berlalu. Tidak semua hal yang hilang harus dipaksa pulang, dan tidak semua orang yang singgah ditakdirkan untuk menetap selamanya.Pada akhirnya, kamar yang sunyi dan layar gawai yang berpendar tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan tawa yang tercipta secara nyata di atas tikar balai warga. Sebab pada titik tertentu, kita harus sadar bahwa isolasi digital ini perlahan mengikis rasa kemanusiaan kita. Sudah saatnya kita menarik kembali langkah para remaja keluar dari kamar, merangkul mereka untuk kembali duduk berdampingan, dan membiarkan kecanduan layar itu pergi tergantikan oleh indahnya interaksi antarmanusia. Karena pada akhirnya, apa yang memang sudah waktunya pergi—seperti sekat digital dan rasa acuh tak acuh—memang harus dilepaskan, agar hangatnya kebersamaan di tengah kampung bisa kembali hidup.
Opini
Demam "Jagongan Malam Minggu": Menghidupkan Kembali Budaya Nongkrong Tanpa Gadget di Balai RW
Budaya nongkrong tanpa gadget lewat "Jagongan Malam Minggu" di Balai RW efektif mengatasi isolasi digital remaja Surabaya. Program murah meriah seperti layar tancap, game tradisional, dan bakar jagung terbukti mempererat kembali interaksi sosial warga.

Almaghvira Keysha Putri Rasya (@almaghvirayu516)
Verified Publisher
Terbit
19 September 2026
Durasi
5 min read


Almaghvira Keysha Putri Rasya (@almaghvirayu516)
Verified Kader IPM
Belum ada bio publik.
OpiniDemam "Jagongan Malam Minggu": Menghidupkan Kembali Budaya Nongkrong Tanpa Gadget di Balai RWBudaya nongkrong tanpa gadget lewat "Jagongan Malam Minggu" di Balai RW efektif mengatasi isolasi digital remaja Surabaya. Program murah meriah seperti layar tancap, game tradisional, dan bakar jagung terbukti mempererat kembali interaksi sosial warga.
Baca selengkapnya → 0
Baca artikel → Komentar
Login untuk berkomentarBelum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.