Pernahkah kita mendengar kalimat bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau perempuan tidak pantas menjadi pemimpin? Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa, tetapi sebenarnya masih menunjukkan adanya pemikiran yang membatasi seseorang berdasarkan gender.
Gender sering kali menjadi alasan seseorang mendapatkan perlakuan yang berbeda. Padahal, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk menentukan masa depan dan mengembangkan kemampuannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering menemukan anggapan bahwa pekerjaan tertentu hanya cocok dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Misalnya, laki-laki dianggap harus selalu kuat, sedangkan perempuan dianggap harus selalu berada di rumah. Padahal, kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh minat, usaha, dan kemampuannya.
Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki dan perempuan harus menjadi sama dalam segala hal. Kesetaraan berarti keduanya memiliki kesempatan, hak, dan penghargaan yang adil. Perempuan berhak menjadi pemimpin, laki-laki berhak menunjukkan perasaan, dan setiap orang berhak memilih jalan hidupnya tanpa mendapatkan diskriminasi.
Sebagai pelajar, kita dapat memulai perubahan dari hal sederhana. Menghargai pendapat teman, tidak merendahkan seseorang karena gendernya, serta memberikan kesempatan yang sama dalam kegiatan sekolah merupakan langkah kecil yang memiliki arti besar.
Jangan sampai pemikiran yang membatasi gender justru menjadi penghalang bagi generasi muda untuk berkembang. Sebab, masa depan tidak ditentukan oleh apakah seseorang laki-laki atau perempuan, tetapi oleh keberanian, kemampuan, dan kerja kerasnya.
Karena setiap orang berhak bermimpi, setiap orang berhak berkarya, dan tidak seharusnya gender menjadi batasan untuk meraih masa depan.
-Shadiq Salim













