Dibawa Kemana Harimu?

Sebenarnya waktu yang kita miliki tidaklah singkat, hanya saja banyak dari waktu yang tak bisa kita manfaatkan. Mari berinvestasi pada waktu, untuk diri kita nanti.

Terbit

29 Oktober 2026

Durasi

3 menit baca

Dibawa Kemana Harimu?

Jum’at lalu ketika mendengarkan khutbah, saya memperhatikan khatib yang menyampaikan khutbah dengan sangat energik dan penuh semangat. Tibalah sang khatib pada sebuah kutipan dari seorang salafus saleh.

Hasan Al-Bashri nama salaf itu, ia menyebutkan kutipannya, “wahai anak adam, kamu adalah kumpulan hari-hari. Setiap hilang satu hari maka sejatinya hilanglah sebagian darimu.”

Kutipan ini cukup membuatku merenung sepanjang khutbah, benarlah kutipan itu jika kita dikatakan bahwa diri kita adalah hari-hari yang terkumpul. Setiap satu hari berlalu sejatinya diri kita juga tengah berkurang.

Maka sebuah pertanyaan besar yang harus selalu kita pertanyakan pada diri adalah, dibawa kemana hari yang akan berlalu ini? Pada kebaikan? Pada kebermanfaatan? Atau hanya kepada kesia-siaan?

Setiap hari yang telah berlalu maka, berlalu pula segala sesuatu yang ada pada kita, kesehatan yang ada pada hari itu ikut berlalu pergi, kesempatan pada hari itu juga akan ikutan pergi, dan apakah ia akan membersamai lagi di hari yang akan datang? Kita tak pernah tahu itu.

Sudah seharusnya menjadi sebuah perhatian, setiap hari akan kita bawa kemana. Sebab kendali penuh itu ada pada diri kita, orang lain hanya mampu memberi motivasi, semangat dan ajakan, adapun arah kendalinya itu kita yang memegang dan mengarahkan.

Senada pula yang disampaikan Imam Ibnu Athaillah dalam nasehatnya, “Napas-napasmu adalah umur yang terhitung, maka apa yang telah pergi tak akan pernah bisa kembali.”

Napas yang telah kita buang ia tak pernah kembali. Begitu juga dengan hari, maka akan dibawa kemana hari yang kita sedang jalani menjadi pertanyaan penting yang harus selalu kita jadikan renungan tiap kita sedang melalui hari.

Kalau Seneca, seorang filsuf dari romawi mengatakan, “Bukan karena kita memiliki waktu hidup yang singkat, tetapi karena kita banyak membuang-buang waktu. Hidup ini sebenarnya cukup panjang, dan waktu yang amat dermawan telah diberikan kepada kita untuk mencapai hal-hal mulia jika itu diinvestasikan dengan baik.”

Sebenarnya, waktu yang kita miliki dan telah diberikan kepada kita itu cukup banyak, hanya saja kita banyak sekali membuang-buang waktu itu. Sekadar untuk ngopi saja kadang menghabiskan waktu berjam-jam. Seneca lalu melanjutkan, sebenarnya waktu itu amat dermawan ia memberikan kita kesempatan untuk mencapai hal-hal mulia dan bermanfaat jika kita dapat menginvestasikannya dengan baik.

Kalimat penutupnya menurutku menarik sekali, ia menyebutkan sebuah investasi terhadap waktu. Karena sebenarnya, investasi terbaik itu bermodalkan waktu, waktu yang kita habiskan untuk belajar itu investasi yang sangat baik, waktu yang kita investasikan untuk bermanfaat bagi orang lain itu sangat baik. Bukan sekarang memang momentum merasakan hasilnya tapi nanti.

Maka, Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Hari ini adalah waktunya beramal dan belum ada perhitungan, sedangkan besok adalah waktunya perhitungan dan sudah tidak ada lagi amal.”

Hari ini adalah hari kita berinvestasi, sedangkan waktu untuk mengklaim investasi itu adalah hari dimana kita tidak lagi memiliki modal lagi berupa waktu.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel