Berita

Di Tengah Riuh Isu Elite Politik, Banjir Terjang Aceh dan Lumajang

Terbit

5 November 2026

Durasi

3 menit baca

Di Tengah Riuh Isu Elite Politik, Banjir Terjang Aceh dan Lumajang

Di tengah derasnya arus informasi mengenai elite politik dan petinggi partai yang belakangan ramai menghiasi pemberitaan nasional, dua wilayah di Indonesia justru menghadapi bencana banjir. Sejumlah daerah di Provinsi Aceh dilanda banjir yang merendam ribuan rumah, sementara banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada awal November 2026.

Ketika perhatian publik tertuju pada berbagai perkembangan politik nasional, masyarakat di kedua wilayah tersebut harus menghadapi genangan air, kerusakan infrastruktur, hingga ancaman terhadap keselamatan dan aktivitas sehari-hari.

Bencana di Aceh dan Lumajang memiliki karakteristik berbeda. Banjir di Aceh dipicu hujan deras yang menyebabkan sungai meluap, sedangkan banjir lahar Semeru membawa material vulkanik melalui aliran sungai setelah hujan mengguyur kawasan gunung.

Banjir Aceh Rendam Ribuan Rumah, Warga Terpaksa Mengungsi

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir melanda sejumlah wilayah, termasuk Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat, dan Pidie Jaya.

Di Kota Subulussalam, sebanyak 2.255 rumah dilaporkan terdampak banjir di tiga kecamatan. Luapan Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit setelah hujan deras menyebabkan air memasuki kawasan permukiman.

Sementara itu, di Kabupaten Aceh Selatan, banjir yang melanda kawasan Trumon Raya menyebabkan 794 jiwa terdampak. Sebanyak 205 jiwa di antaranya dilaporkan mengungsi berdasarkan perkembangan pada 4 November 2026.

Di Kabupaten Aceh Barat, banjir dilaporkan merendam 43 gampong yang tersebar di 10 kecamatan. Kondisi serupa terjadi di Pidie Jaya, dengan sekitar 1.450 keluarga dari 22 gampong terdampak.

Banjir tersebut tidak hanya menggenangi rumah penduduk, tetapi juga mengganggu mobilitas dan aktivitas masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menetapkan status tanggap darurat banjir selama 14 hari sejak 31 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan bencana.

Banjir Lahar Semeru Rusak Rumah dan Putus Akses Jalan

Sementara Aceh menghadapi luapan sungai, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dilanda banjir lahar hujan Gunung Semeru pada Senin (2/11/2026).

Hujan deras di kawasan gunung menyebabkan material vulkanik terbawa aliran air menuju sejumlah sungai yang berhulu di Semeru.

Berdasarkan laporan BPBD Lumajang, banjir berdampak pada permukiman serta sejumlah infrastruktur.

Di Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, sekitar 500 jiwa dilaporkan terdampak genangan. Selain itu, tiga rumah mengalami kerusakan pada bagian teras, sementara 10 rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.

Banjir lahar juga menyebabkan kerusakan pada infrastruktur penghubung. Jalan Purorejo–Tamansari Bawah dilaporkan terputus sepanjang sekitar 100 meter.

Dalam perkembangan yang dilaporkan pada 4 November, sebanyak 117 kepala keluarga mengalami gangguan akses akibat kerusakan jalur penghubung.

Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama instansi terkait melakukan pemeriksaan terhadap kerusakan infrastruktur, termasuk bangunan pengendali lahar di sejumlah titik.

Di Tengah Ramainya Isu Politik, Korban Bencana Membutuhkan Perhatian

Bencana yang melanda Aceh dan Lumajang berlangsung ketika ruang pemberitaan nasional juga diramaikan berbagai isu politik dan perkembangan yang melibatkan tokoh-tokoh penting.

Namun, di luar perdebatan dan dinamika politik tersebut, masyarakat terdampak banjir menghadapi persoalan yang tidak kalah mendesak, mulai dari kebutuhan tempat tinggal sementara, akses transportasi, hingga pemulihan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini memperlihatkan pentingnya pemberitaan bencana yang berkelanjutan, bukan hanya ketika banjir pertama kali terjadi, melainkan juga selama proses penanganan dan pemulihan berlangsung.

Di Aceh, perhatian diperlukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dan pengungsi terpenuhi. Sementara itu, di Lumajang, pemulihan akses jalan dan pengawasan aliran sungai menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko lanjutan.

Kedua bencana tersebut juga mengingatkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem tidak dapat bergantung pada respons setelah bencana terjadi.

Penguatan sistem peringatan dini, pemeliharaan infrastruktur pengendali banjir, serta koordinasi antarlembaga menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana berikutnya.

Di tengah cepatnya pergantian isu dalam ruang informasi nasional, kondisi masyarakat yang terdampak bencana tetap membutuhkan perhatian publik, pemerintah, dan media.

Sebab, ketika perbincangan politik terus berganti, masyarakat di wilayah bencana masih harus berjuang memulihkan kehidupan mereka.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel