Di jalanan ibu kota, suara rakyat berkumpul menjadi riuh. Mereka datang bukan untuk sekadar berteriak, melainkan untuk menagih janji bahwa demokrasi bukan milik segelintir orang di kursi empuk, melainkan milik semua yang hidup di tanah air ini.
Namun, sejarah kembali menulis dengan tinta yang pahit. Di tengah lautan manusia yang berdiri dengan keberanian, satu nyawa melayang seorang pengemudi ojek online (ojol), yang tubuhnya terhempas di bawah roda mobil Brimob. Ia tak menyerukan aspirasinya dengan penuh kekuatan.
Demokrasi dan Luka yang Terbuka
Kita sering mendengar bahwa demokrasi adalah ruang dialog. Tetapi mengapa di jalan-jalan itu, suara rakyat justru dijawab dengan gas air mata, sirine, dan kendaraan yang tak lagi peduli arah? Demokrasi yang seharusnya tumbuh dari kesadaran akan nilai manusia, justru terjebak dalam labirin kekerasan.
Socrates pernah berkata, “Keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Maka, apakah adil ketika suara rakyat ditempatkan sebagai ancaman,











