Sastra

๐š†๐šŠ๐š”๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐™ฑ๐šŽ๐š›๐š‘๐šŽ๐š—๐š๐š’ ๐š‚๐šŽ๐š“๐šŽ๐š—๐šŠ๐š”

Setelah istrinya meninggal pada pukul tiga lewat lima puluh tujuh menit (03:57), seluruh jam di rumah Jalu berhenti berdetak. Selama tujuh tahun, ia menahan waktu dan kenangan, hingga kedatangan Rara membantunya memahami bahwa kehilangan harus direlakan.

Terbit

10 Oktober 2026

Durasi

5 min read

๐š†๐šŠ๐š”๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐™ฑ๐šŽ๐š›๐š‘๐šŽ๐š—๐š๐š’ ๐š‚๐šŽ๐š“๐šŽ๐š—๐šŠ๐š”

Waktu yang Berhenti Sejenak

Di kampung itu, setiap orang percaya bahwa waktu tinggal di rumah Jalu. Bukan karena di sana terdapat jam paling besar atau menara paling tinggi, melainkan karena sejak istrinya meninggal, seluruh jam di rumah itu berhenti pada pukul tiga lewat lima puluh tujuh menit (03:57). Bahkan jam kecil yang tergantung di dapur, yang baterainya baru diganti dua hari sekali, tetap akan membisu pada waktu yang sama.

โ€œWaktu tidak pernah tinggal di satu tempat,โ€

kata Lurah Sasmita pada suatu pagi. Ia berdiri di halaman rumah Jalu sambil mengusap kumisnya yang basah oleh embun. Di belakangnya, beberapa warga berdesakan, memandangi jendela-jendela rumah yang tertutup rapat. Rumah itu tampak seperti seseorang yang menahan napas terlalu lama.

Jalu tidak menjawab. Ia duduk di kursi bambu, mengenakan kemeja putih yang kerahnya mulai menguning. Di pangkuannya terletak sebuah jam saku tua dengan tutup perak yang telah menghitam.

โ€œKalau waktu tidak tinggal di sini,โ€ kata Jalu pelan, โ€œmengapa ia selalu pulang pada pukul tiga lewat lima puluh tujuh?โ€

Seorang anak kecil yang berdiri di antara warga tertawa. Ibunya segera menarik lengannya.

โ€œJangan menertawakan orang tua,โ€ bisiknya.

โ€œDia bukan orang tua,โ€ sahut anak itu. โ€œDia penjaga waktu.โ€

Jalu menoleh. Matanya yang cekung memantulkan cahaya pagi yang pucat.

โ€œSiapa namamu?โ€

โ€œRara.โ€

โ€œRara, apakah kau tahu mengapa jam-jam di rumah ini berhenti?โ€ Anak itu menggeleng.

โ€œKarena ada seseorang yang belum selesai pergi.โ€

~๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช~

Kalimat itu melayang di udara, lalu jatuh di antara mereka seperti daun kering. Tak seorang pun segera memungutnya. Istri Jalu, Mirah, meninggal pada malam hujan tujuh tahun lalu. Ia jatuh dari jembatan ketika hendak mengantarkan nasi ke rumah adiknya di seberang sungai. Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian, tersangkut di akar beringin yang tumbuh miring di dekat bendungan. Sejak saat itu, Jalu tidak pernah lagi menyeberangi sungai. Ia juga tidak pernah membuang sepasang sandal Mirah yang masih tersimpan di bawah dipan. Setiap sore, sandal itu dipindahkannya ke depan pintu, seolah-olah pemiliknya akan pulang dalam keadaan letih dan membutuhkan alas kaki.

โ€œOrang yang sudah mati tidak akan pulang,โ€ kata Lurah Sasmita.

โ€œBarangkali,โ€ jawab Jalu. โ€œYang tidak pulang bukan Mirah. Lalu siapa?โ€

Jalu membuka tutup jam sakunya. Jarum-jarumnya tidak bergerak.

โ€œWaktu. โ€

Lurah Sasmita menghela napas. Ia sudah terlalu sering mendengar jawaban-jawaban semacam itu. Bagi Jalu, semua benda memiliki urusan yang belum selesai. Sungai menyimpan langkah Mirah. Pohon beringin menyimpan tubuhnya. Jam menyimpan detik terakhir sebelum kepergiannya. Sementara bagi warga, Jalu hanyalah lelaki yang gagal menerima kehilangan. Pada siang berikutnya, hujan turun tanpa suara. Awan menggantung rendah di atas rumah-rumah, dan sungai menghitam seperti punggung binatang besar yang sedang tidur.

Rara datang membawa sebuah jam dinding yang rusak.

โ€œIni milik ayah saya,โ€ katanya.

Jalu mempersilakannya masuk. Rumah itu berbau kayu basah dan minyak kayu putih. Di dinding, puluhan jam menggantung dalam ukuran dan bentuk yang berbeda. Ada jam bundar berangka Romawi, jam kecil berbentuk burung, jam dengan kaca retak, dan jam tanpa jarum. Semuanya diam.

โ€œBisa diperbaiki?โ€ tanya Rara.

Jalu menerima jam itu dengan kedua tangannya.

โ€œTidak semua yang berhenti ingin berjalan kembali.โ€

โ€œKalau begitu, mengapa Bapak menyimpannya?โ€

Jalu menatap deretan jam di dinding. Untuk pertama kalinya, wajahnya tampak lelah.

โ€œKarena manusia sering mengira bahwa bergerak adalah satu-satunya cara untuk hidup.โ€

Rara duduk di lantai. Ia mendengarkan hujan yang jatuh di atas genting.

โ€œKalau jamnya tidak berdetak, apakah waktunya ikut mati?โ€

Jalu tersenyum tipis.

โ€œTidak. Waktu tidak pernah mati. Ia hanya berubah menjadi kenangan.โ€

Malam itu, tepat pukul tiga lewat lima puluh tujuh menit (03:57), semua jam di rumah Jalu berdetak serentak. Bunyinya mula-mula lirih, seperti kuku yang mengetuk pintu dari kejauhan. Lalu semakin jelas, semakin rapat, hingga seluruh rumah dipenuhi bunyi detik yang berlari.

Jalu terbangun dari tidurnya. Di ambang pintu, Mirah berdiri dengan rambut basah dan gaun biru bercorak Insang yang dikenakannya pada malam terakhir sebelum kematian.

โ€œAku sudah menunggu,โ€ kata Jalu.

Mirah tersenyum dengan begitu gemerlapan.

โ€œBukan aku yang terlambat.โ€

Di luar, sungai mengalir menuju laut. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Jalu mengambil sepasang sandal dari bawah dipan dan meletakkannya di depan pintu. Kemudian, ia membuka jendela. Pagi mulai tumbuh di balik kabut. Jam-jam di dinding terus berdetak, tetapi rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat untuk menahan waktu. Ia telah menjadi tempat untuk melepaskannya.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi ยท WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel