Waktu yang Berhenti Sejenak
Di kampung itu, setiap orang percaya bahwa waktu tinggal di rumah Jalu. Bukan karena di sana terdapat jam paling besar atau menara paling tinggi, melainkan karena sejak istrinya meninggal, seluruh jam di rumah itu berhenti pada pukul tiga lewat lima puluh tujuh menit (03:57). Bahkan jam kecil yang tergantung di dapur, yang baterainya baru diganti dua hari sekali, tetap akan membisu pada waktu yang sama.
โWaktu tidak pernah tinggal di satu tempat,โ
kata Lurah Sasmita pada suatu pagi. Ia berdiri di halaman rumah Jalu sambil mengusap kumisnya yang basah oleh embun. Di belakangnya, beberapa warga berdesakan, memandangi jendela-jendela rumah yang tertutup rapat. Rumah itu tampak seperti seseorang yang menahan napas terlalu lama.
Jalu tidak menjawab. Ia duduk di kursi bambu, mengenakan kemeja putih yang kerahnya mulai menguning. Di pangkuannya terletak sebuah jam saku tua dengan tutup perak yang telah menghitam.
โKalau waktu tidak tinggal di sini,โ kata Jalu pelan, โmengapa ia selalu pulang pada pukul tiga lewat lima puluh tujuh?โ
Seorang anak kecil yang berdiri di antara warga tertawa. Ibunya segera menarik lengannya.
โJangan menertawakan orang tua,โ bisiknya.
โDia bukan orang tua,โ sahut anak itu. โDia penjaga waktu.โ
Jalu menoleh. Matanya yang cekung memantulkan cahaya pagi yang pucat.
โSiapa namamu?โ
โRara.โ
โRara, apakah kau tahu mengapa jam-jam di rumah ini berhenti?โ Anak itu menggeleng.
โKarena ada seseorang yang belum selesai pergi.โ
~๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช~
Kalimat itu melayang di udara, lalu jatuh di antara mereka seperti daun kering. Tak seorang pun segera memungutnya. Istri Jalu, Mirah, meninggal pada malam hujan tujuh tahun lalu. Ia jatuh dari jembatan ketika hendak mengantarkan nasi ke rumah adiknya di seberang sungai. Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian, tersangkut di akar beringin yang tumbuh miring di dekat bendungan. Sejak saat itu, Jalu tidak pernah lagi menyeberangi sungai. Ia juga tidak pernah membuang sepasang sandal Mirah yang masih tersimpan di bawah dipan. Setiap sore, sandal itu dipindahkannya ke depan pintu, seolah-olah pemiliknya akan pulang dalam keadaan letih dan membutuhkan alas kaki.
โOrang yang sudah mati tidak akan pulang,โ kata Lurah Sasmita.
โBarangkali,โ jawab Jalu. โYang tidak pulang bukan Mirah. Lalu siapa?โ
Jalu membuka tutup jam sakunya. Jarum-jarumnya tidak bergerak.
โWaktu. โ
Lurah Sasmita menghela napas. Ia sudah terlalu sering mendengar jawaban-jawaban semacam itu. Bagi Jalu, semua benda memiliki urusan yang belum selesai. Sungai menyimpan langkah Mirah. Pohon beringin menyimpan tubuhnya. Jam menyimpan detik terakhir sebelum kepergiannya. Sementara bagi warga, Jalu hanyalah lelaki yang gagal menerima kehilangan. Pada siang berikutnya, hujan turun tanpa suara. Awan menggantung rendah di atas rumah-rumah, dan sungai menghitam seperti punggung binatang besar yang sedang tidur.
Rara datang membawa sebuah jam dinding yang rusak.
โIni milik ayah saya,โ katanya.
Jalu mempersilakannya masuk. Rumah itu berbau kayu basah dan minyak kayu putih. Di dinding, puluhan jam menggantung dalam ukuran dan bentuk yang berbeda. Ada jam bundar berangka Romawi, jam kecil berbentuk burung, jam dengan kaca retak, dan jam tanpa jarum. Semuanya diam.
โBisa diperbaiki?โ tanya Rara.
Jalu menerima jam itu dengan kedua tangannya.
โTidak semua yang berhenti ingin berjalan kembali.โ
โKalau begitu, mengapa Bapak menyimpannya?โ
Jalu menatap deretan jam di dinding. Untuk pertama kalinya, wajahnya tampak lelah.
โKarena manusia sering mengira bahwa bergerak adalah satu-satunya cara untuk hidup.โ
Rara duduk di lantai. Ia mendengarkan hujan yang jatuh di atas genting.
โKalau jamnya tidak berdetak, apakah waktunya ikut mati?โ
Jalu tersenyum tipis.
โTidak. Waktu tidak pernah mati. Ia hanya berubah menjadi kenangan.โ
Malam itu, tepat pukul tiga lewat lima puluh tujuh menit (03:57), semua jam di rumah Jalu berdetak serentak. Bunyinya mula-mula lirih, seperti kuku yang mengetuk pintu dari kejauhan. Lalu semakin jelas, semakin rapat, hingga seluruh rumah dipenuhi bunyi detik yang berlari.
Jalu terbangun dari tidurnya. Di ambang pintu, Mirah berdiri dengan rambut basah dan gaun biru bercorak Insang yang dikenakannya pada malam terakhir sebelum kematian.
โAku sudah menunggu,โ kata Jalu.
Mirah tersenyum dengan begitu gemerlapan.
โBukan aku yang terlambat.โ
Di luar, sungai mengalir menuju laut. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Jalu mengambil sepasang sandal dari bawah dipan dan meletakkannya di depan pintu. Kemudian, ia membuka jendela. Pagi mulai tumbuh di balik kabut. Jam-jam di dinding terus berdetak, tetapi rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat untuk menahan waktu. Ia telah menjadi tempat untuk melepaskannya.











