Jakarta bukan sekadar kota; ia adalah rahang besi yang menganga.
Di bawah langitnya yang berjelaga, idealisme kerap dikunyah lalu diludahkan di atas aspal panas.
Jutaan jiwa berdesakan, berlari mengejar fatamorgana di sela-sela gedung pencakar langit yang angkuh,
Terlelap dalam buaian bising, tersesat dalam gemerlap neon yang membutakan nurani.
Namun, tahan napasmu dan dengarkan!
Dari balik lorong-lorong sempit ibu kota yang pengap,
Dari ruang-ruang kelas yang menjadi saksi bisu,
Terdengar gemuruh langkah yang membuat aspal metropolitan bergetar.
Ada detak jantung yang menolak tunduk pada apatisme zaman.
Merekalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Tulang punggung peradaban yang menyalakan Sang Surya tepat di tengah dada.
Saat kebenaran dijual murah di etalase-etalase kekuasaan,
Saat anak-anak muda lainnya larut dalam pusaran arus tanpa arah,
Kalian berdiri layaknya karang di tengah badai Teluk Jakarta!
Tidak dengan kepalan amarah yang kosong,
Melainkan dengan sebatang pena yang dihunus layaknya pedang cahaya.
"Nuun, wal qalami wa maa yasturuun!"
Demi pena dan apa yang dituliskannya!
Sumpah langit itu kalian patrikan di atas tanah Betawi,
Menggelegar, merobek gendang telinga zaman yang perlahan tuli.
Tinta kalian adalah darah perjuangan,
Menuliskan bait-bait perlawanan untuk merawat kewarasan,
Menghapus jelaga kebodohan, menyeka air mata kaum yang terpinggirkan di bayang-bayang Monas.
Wahai para kesatria berjaket kuning!
Biar angin pesimis menghantam hingga tulangmu ngilu,
Biar jalanan Sudirman-Thamrin mencibir mimpimu yang terlalu suci,
Jangan pernah mundur seinci pun!
Luka di kakimu adalah medali, keringat di keningmu adalah embun pencerahan.
Teruslah berdiri, meski kaki berdarah.
Teruslah bersuara, meski kerongkongan mengering.
Biarkan kota yang sombong ini kelak berlutut dan menjadi saksi,
Bahwa di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang nyaris kehilangan jiwanya,
Ada kalian—pelajar-pelajar Muhammadiyah—yang menopang langit agar tidak runtuh,
Berjuang, bernapas, dan tak akan pernah sudi menyerah!













