Sastra

SUARA RAKYAT DI BUNDARAN HI

Puisi ini menggambarkan suasana demonstrasi di Bundaran HI sebagai ruang penyampaian aspirasi, keresahan, dan harapan masyarakat. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk menjunjung keadilan, kemanusiaan, serta pentingnya mendengarkan suara rakyat.

Terbit

29 Oktober 2026

Durasi

1 menit baca

SUARA RAKYAT DI BUNDARAN HI

SUARA RAKYAT DI BUNDARAN HI

Di tengah riuhnya ibu kota,
langkah-langkah berkumpul menjadi satu.
Di Bundaran HI, suara menggema,
membawa harapan yang ingin dituju.

Ada tangan yang mengepal,
ada suara yang tak ingin tenggelam.
Di balik spanduk dan teriakan,
tersimpan keresahan dan harapan.

Mereka datang bukan sekadar meramaikan jalan,
tetapi membawa pesan yang ingin disampaikan.
Tentang keadilan yang diharapkan,
tentang masa depan yang diperjuangkan.

Namun, di antara suara yang meninggi,
kemanusiaan jangan sampai dilupakan.
Sebab perubahan bukan hanya tentang berani berbicara,
tetapi juga tentang kesediaan untuk mendengar.

Wahai negeri, dengarkanlah suara ini,
bukan sebagai riuh yang berlalu pergi.
Melainkan sebagai pengingat bagi kita semua,
bahwa keadilan dan kesejahteraan adalah harapan bersama.

Sebab ketika rakyat mulai bersuara,
ada pesan yang patut dibaca.
Dan ketika perbedaan bertemu dalam perjuangan,
semoga harapan menemukan jalan.

Karena suara rakyat bukan sekadar gema,
melainkan harapan yang menunggu maknanya.

-Shadiq Salim

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel