SIAP DIPIMPIN, SIAP MEMIMPIN
Belajar Menjadi Pemimpin yang Baik dengan Terlebih Dahulu Menjadi Pengikut yang Baik
Dalam kehidupan, tidak semua orang akan selalu berada di posisi pemimpin. Ada kalanya kita memimpin, tetapi ada saatnya kita harus dipimpin. Karena itu, menjadi pemimpin yang baik tidak hanya membutuhkan keberanian untuk memberikan arahan, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima arahan. “Siap dipimpin, siap memimpin” bukan sekadar slogan. Ini adalah sikap dasar yang harus dimiliki setiap calon pemimpin.
1. Siap Dipimpin: Belajar Menghargai Arahan
Seseorang yang tidak mampu menerima arahan biasanya akan kesulitan ketika suatu saat diberi tanggung jawab untuk memberikan arahan kepada orang lain. Siap dipimpin berarti: mau mendengarkan nasihat; menghargai keputusan yang telah disepakati; mampu menerima kritik dan koreksi; tidak merasa paling benar; melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab; mampu bekerja sama dengan orang lain; disiplin terhadap aturan. Orang yang baik ketika dipimpin sedang belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Seorang anggota IPM, misalnya, harus mampu mengikuti arahan ketua, pembina, dan aturan organisasi. Bukan berarti kehilangan kebebasan berpikir, tetapi belajar memahami bahwa organisasi membutuhkan keteraturan.
2. Memimpin Bukan Berarti Berkuasa
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa pemimpin adalah orang yang paling berkuasa. Padahal, pemimpin bukan orang yang paling banyak menyuruh, tetapi orang yang paling siap bertanggung jawab. Ketika sebuah kegiatan berhasil, pemimpin tidak perlu mengambil seluruh pujian. Ketika terjadi masalah, pemimpin tidak boleh buru-buru mencari siapa yang harus disalahkan. Pemimpin harus berani mengatakan:“Ini tanggung jawab kita. Mari kita cari solusinya bersama.” Inilah yang membedakan pemimpin dengan penguasa.
3. Pemimpin Harus Memberi Teladan
Seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara. Kalau ingin anggotanya disiplin, dia harus terlebih dahulu disiplin. Kalau ingin anggotanya bertanggung jawab, dia harus menunjukkan tanggung jawab. Kalau ingin anggotanya menghargai orang lain, dia harus terlebih dahulu menghargai orang lain.
Keteladanan adalah bahasa kepemimpinan yang paling mudah dipahami. Orang mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka akan mengingat apa yang kita contohkan.
4. Siap Dipimpin Melatih Kerendahan Hati
Ada orang yang ingin menjadi ketua, tetapi tidak mau menjadi anggota. Ingin memberikan perintah, tetapi tidak mau menerima perintah. Ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan. Ingin dihormati, tetapi tidak mau menghormati. Sikap seperti ini akan menjadi masalah dalam kepemimpinan.
Karena itu, sebelum mengatakan: “Saya siap memimpin,” tanyakan terlebih dahulu: “Apakah saya sudah siap dipimpin?” Kerendahan hati bukan tanda kelemahan. Justru orang yang mampu menerima arahan dengan lapang dada menunjukkan bahwa dirinya memiliki kedewasaan.
5. Pemimpin yang Hebat Melahirkan Pemimpin Baru
Pemimpin yang baik tidak takut jika ada orang lain yang menjadi lebih hebat darinya. Sebaliknya, ia akan membantu orang lain berkembang. Ia tidak berkata:
“Semua harus mengikuti saya.” Tetapi: “Mari kita belajar dan berkembang bersama.” Pemimpin yang sebenarnya bukanlah orang yang membuat dirinya selalu dibutuhkan, melainkan orang yang mampu mempersiapkan orang lain untuk melanjutkan perjuangan setelah dirinya tidak lagi memimpin.
6. Kepemimpinan dalam Islam
Dalam Islam, kepemimpinan merupakan amanah, bukan sekadar kedudukan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
(QS. An-Nisa: 58)
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai dengan amanah yang diberikan kepadanya.
Artinya, kepemimpinan tidak hanya berlaku bagi ketua organisasi, kepala sekolah, guru, atau pejabat. Setiap manusia pada dasarnya memiliki wilayah kepemimpinannya masing-masing.
Ada yang memimpin organisasi. Ada yang memimpin kelompok.bAda yang memimpin keluarga. Bahkan seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri dan mungkin inilah bentuk kepemimpinan yang paling sulit.
7. Kepemimpinan adalah Proses Kaderisasi
Dalam berorganisasi,ketika sebagai seorang pemimpin juga harus mampu menuangkan ilmunya kepada yang dipimpin untuk proses kaderisasi kepemimpinan agar kepemimpinan teru berlanjut, walaupun nantinya setiap orang dengan gaya kepemimpinannya memiliki perbedaan. Menjadi ushwatun Hasana dalam kepemimpinan adalah menjadi role model bagi anggota agar mereka mendapatkan nilai yang baik dalam memimpin dan berorganisasi.
Sebagai anggota dalam organisasi juga harus belajar dari kepemimpinan Ketua ataupun kepengurusan lainnya sebagai cara belajar otodidak dalam berorganisasi, berbagai gaya kepemimpinan yang ada, siap diberikan nasehat dan arahan, siap menerima wejangan dan ilmu kepemimpinan dari pengurus sebelumnya atau yang sedang berlangsung untuk dapat menjadikan mereka ushwah dalam hal kepemimpinan tentunya dalam taraf hal Positif yang dapat diambil dari nilai kepemimpinannya.
SIAP DIPIMPIN, SIAP MEMIMPIN
Maka seorang calon pemimpin harus memiliki dua sikap:
Ketika DIPIMPIN
Dengar → Pahami → Laksanakan → Evaluasi
Ketika MEMIMPIN
Dengar → Arahkan → Teladani → Bertanggung Jawab
Jangan hanya bercita-cita menjadi ketua. Bercita-citalah menjadi orang yang dipercaya. Jangan hanya ingin memiliki jabatan. Bangunlah karakter. Jangan hanya ingin dihormati. Belajarlah terlebih dahulu menghormati. Dan jangan hanya ingin memimpin orang lain. Belajarlah terlebih dahulu memimpin diri sendiri.
“Pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu berada di depan, tetapi orang yang mampu membawa orang lain bergerak menuju tujuan yang lebih baik.” Siap dipimpin bukan berarti lemah. Siap memimpin bukan berarti berkuasa. Keduanya adalah tanda kedewasaan.
**SIAP DIPIMPIN.
SIAP MEMIMPIN.
SIAP BERTANGGUNG JAWAB.**

