Bayangkan anda berada disituasi yang melelahkan jiwa dan raga. Saat itu, badan sudah tak lagi mampu menampung lelah, jiwa sudah tak tahan menginginkan istirahat. Hanya ada satu kata yang mungkin terbesit “berhenti”. Pada kondisi ini, kita sangat mudah pecah dalam emosi yang tak dapat dibaca. Pada waktu tertentu, anda ditarik ke dalam emosi yang tak pernah anda rasakan dan mengaungkan hal-hal yang tak pernah anda lakukan, anda lepas kendali ke dalam ruang yang tak pernah dijelajahi. Setelah keluar dari ruangan tersebut, anda menyadari betapa bodohnya diri anda karena telah melakukan hal-hal yang sudah anda lakukan di dalam ruangan tadi. Anda masuk kembali dan melihat barang-barang berserakan, pecahan gelas, noda-noda ada di mana-mana. Bagaimana cara anda merapikan tempat itu?
Sebuah percikan tidak dapat hadir bila tidak ada stimulus. Percikan itu memang datang secara tiba-tiba, namun ada rahasia dibaliknya. Hal-hal tak terduga itu dapat dilihat dengan pola-pola yang sebenarnya dapat terlihat sekecil percikan api. Cara kita melihat percikan itu bernama kesadaran emosional. Menurut (Goleman, D. 1995) kesadaran emosional adalah perilaku ketika anda mencoba untuk mengenal emosi diri anda sendiri dari perasaan dan aktivitas yang anda alami. Secara mudah, seperti melihat warna-warna pada ponsel anda, bisa jadi anda melihat warna biru, merah, atau kuning. Semua pola-pola emosi juga sama seperti warna-warna itu, dapat dikenali. Dengan menyadari hal itu, sedikit demi sedikit anda sudah merapikan ruangan tanpa sadar.
Kemudian, bagaimana dan apa pentingnya seorang pelajar dapat melihat percikan ini?
Sebagai pelajar, diperlukan kesadaran emosi untuk menjaga mental. Apalagi sebagai pelajar kita harus menjaga hifhz al-nafs yaitu aspek menjaga jiwa dalam maqashid syariah. Pedoman yang diberikan dalam SPI IPM dan cara berkehidupan memiliki korelasi yang sangat erat. Ketika kesadaran emosi dapat digenggam dengan baik, proses-proses dalam kehidupan akan lebih mudah dijalani sebab anda akan tahu bagaimana kita dapat merasakan dan melangkah ke depan. Proses itulah yang penting bagi kita sebagai seorang pelajar, bagaimana cara kita melangkah ke depan serta berdampak pada orang-orang disekitar kita.
Pada akhirya, menyadari emosi yang kita alami dalam proses kegiatan kita merupakan hal yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup kita. Tenang akan terasa lebih mudah dipeluk. Dan kita dapat memahami bukan hanya diri kita, tetapi merasakan apa yang dirasa orang lain. Dalam hal ini membentuk empati. Pelajar perlu menyadari dan menumbuhkan rasa empati dalam diri, karena empati adalah tiang paling kokoh untuk menyanggah kepemimpinan berdampa.
------
Referensi :
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence (Vol. 30). Bantam Books: New York.
Ilustrasi Gambar :
