Saat memulai tulisan ini aku meriset sebuah gaya hidup dari hewan predator, seperti serigala, harimau dan hewan predator lainnya. Aku menemukan sebuah kesimpulan bahwa predator itu lebih suka mengincar mangsa yang sendirian dan terisolasi dari kumpulannya. Alasannya sederhana, mereka menghindari resiko cedera yang yang serius, kemudian juga untuk menghemat energi.
Analogi ini pernah digunakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,
Maka hendaknya kalian tetap bersama jamaah (kelompok/masyarakat yang lurus), karena sesungguhnya serigala itu hanya akan memakan domba yang menyendiri (terpencil dari kumpulannya).
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Kandungan dari hadits ini adalah perintah agar kita senantiasa bersama jama’ah atau kelompok kebaikan supaya mudah bagi kita bergerak juga menggerakkan kebaikan. Berjalan sendiri dalam kebaikan itu tidak salah, akan tetapi sering kali langkah kebaikan yang dijalani sendiri itu terhenti atau lebih parahnya ia juga beresiko melangkah ke jalan yang salah.
Maka hendaknya, selain kita melaksanakan kebaikan jika juga harus menemukan jama’ah untuk melakukan kebaikan itu bersama. Yang di zaman modern ini kita biasa menyebutnya dengan berorganisasi dalam kebaikan atau membentuk sebuah organisasi untuk melakukan kebaikan bersama.
Berorganisasi dalam melakukan kebaikan tidak hanya sebagai penguat dalam melangkah. Namun, ia juga bagian dari cara kita mengatur strategi yang terorganisir guna melangkah dalam kebaikan yang lebih banyak dan lebih jauh. Ali bin Abi Thalib mengatakan, Kebenaran (atau kebaikan) yang tidak terorganisir dengan baik, akan dikalahkan oleh kebatilan (atau keburukan) yang terorganisir dengan rapi.
Ia memberikan sebuah peringatan bahwa, kebaikan itu bisa saja dikalahkan, bukan karena tidak dilaksanakan tetapi ia tidak terorganisir atau tersusun dengan baik. Bahkan tak menutup kemungkinan keburukan yang dilakukan dengan terorganisir akan mengalahkan kebaikan itu.
Disinilah pentingnya kita mengambil ibrah dari apa yang Nabi sampaikan, agar kita hendaknya senantiasa bersama jama’ah. Selain untuk menguatkan langkah, itu juga yang akan menguatkan kita dalam melawan dan mengalahkan keburukan.
Ini pula hendaknya menjadi pertanyaan reflektif bagi para penggerak kebaikan, ketika merasa kebaikan yang selama ini dilakukan masih kalah eksis dengan keburukan yang beredar. Pertanyaan sederhana, apakah kebaikannya sudah terorganisir dengan baik?
Ibnu Khaldun seorang sejarawan dan juga seorang filsuf muslim juga memberikan pesan senada. Kekuasaan dan kemenangan tidak akan tercapai hanya dengan kebenaran semata, melainkan harus ditegakkan dengan 'ashabiyah' (solidaritas, ikatan sosial yang kuat, dan keteraturan kelompok) serta kekuatan yang terorganisir.
Kebenaran semata belum bisa membawa kita kepada kemenangan, layaknya yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, bukan hanya kebenaran yang ia bawa dalam berdakwah namun, mereka membentuk dan menentukan strategi yang terorganisir dengan baik.
Maka ini juga menjadi alasan besar mengapa kita harus bergerak dalam kebaikan dengan berorganisasi. Sebab dengan organisasi kita bisa menyusun rencana pergerakan kebaikan, dengan terstruktur.
Bila tak ada organisasi itu, maka hendaklah kita yang masih sadar dan memperjuangkan kebaikan yang menciptakannya. Alasan sederhananya, agar langkah kita semakin kuat dalam kebaikan ini, dan alasan lebih mendalamnya sebab kemenangan tak akan didapatkan tanpa strategi yang terorganisir.













