Opini

Merawat Tradisi Lama, Mengawal Perkaderan Era Baru

Hari ini kita dihadapkan dengan situasi yang kompleks (serba mudah namun penuh tantangan). Walaupun demikian, Misi Perkaderan harus terus dikibarkan. Perkaderan yang paling efektif adalah perkaderan yang adaptif dan transformatif.

Ahmad Fauzi Almubarok

Ahmad Fauzi Almubarok (@fauzi0keaja_)

Publisher

Terbit

5 September 2026

Durasi

5 min read

Cover

Kalau kita berkaca sejenak dengan apa yang telah IPM lakukan selama 65 tahun ini, tentu banyak sekali. Salah satunya menghasilkan kader-kader hebat secara personal. Ada yang menjadi akademisi, pengusaha, politisi, guru dan lain-lain. Dari beberapa tadi yang disebutkan. Hal tersebut merupakan hasil dari perkaderan IPM yang telah membawa mereka menemukan jati diri. IPM sangatlah dinamis perihal perkaderan. Dibuktikan dengan lahirnya 5 Sistem Perkaderan IPM yang memiliki corak berbeda. SPI Merah yang lahir 1985 dengan Militansinya, SPI biru tahun 1994 dengan macam-macam gerakan kreatifnya, SPI Hijau tahun 2002 dengan Paradigma Gerakan Kritis Transformatif (GKT), SPI Kuning tahun 2014 dengan paradigma Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB), dan pada hari ini ditengah Perkembangan Industri Teknologi yang semakin pesat ditandai dengan adanya Artificial Intelegence (AI), pada 2024 IPM membawa paradigma baru yaitu Impactful Leadership yang dikemas dalam SPI putih.

Kemudian muncul pertanyaan mendasar. Apakah dengan adanya SPI baru ini akan merubah tatanan perkaderan yang signifikan? Secara, SPI sebelumnya sudah terbukti mendelivery kader-kader hebatnya. Apakah SPI baru ini mampu menghasilkan produk kader yang unggul?. Sebelum menjawab berhasil atau tidak, mampu atau tidak, relevan atau tidak. Kita perlu tahu SPI putih ini seperti apa corak gerakannya.

Masa sekarang dengan 10 tahun lalu jelas berbeda, apalagi dengan 20-30 tahun yang lalu. Banyak yang mengatakan pimpinan IPM hari ini militansinya tidak seperti zaman 10 atau 20 tahun lalu. Ada juga yang mengatakan generasi IPM hari ini mengalami kemunduruan intelektual, tidak kritis, dan daya juangnya mengurang. Apakah benar demikian?

Berbicara soal militansi, artinya berbicara soal perjuangan pada masa kesulitan. Sedangkan hari ini semua serba mudah,serba ada. Dimana fenomena tersebut tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri dan dunia pelajar hari ini. Maka wajar saja bila perjuangan IPM masa sekarang dengan yang dulu terdapat corak perbedaan. Kalau masih disamakan artinya dunia juga tidak mengalami perkembangan. Maka pertanyaannya bukan kenapa kader sekarang tidak seperti dulu. Tapi Bagaimana melesarikan tradisi perkaderan yang baik yang sudah ada sejak dulu kemudian mentransformasi perkaderan yang tidak lagi relevan.

Paling tidak ada 2 teori yang melatarbelakangi kenapa ada pembaharuan SPI.

Yang pertama, Disruption era (Era Disrupsi). Didalam SPI putih, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa era ini disebut dengan era disrupsi. Dicirikan dengan 3S, yaitu sudden shift, speed, dan surprise. Triple Disruption mengacu pada tiga fenomena global yang berinteraksi dan memicu perubahan mendasar dalam cara manusia hidup dan bekerja. Fenomena ini menciptakan tantangan dan peluang baru bagi generasi pelajar saat ini. Era triple disruption yang ditandai oleh revolusi teknologi 4.0 menuju 5.0. Munculnya kecerdasan buatan atau artificial intelegence yang semakin memudahkan pekerjaan manusia. perubahan ekonomi global yang sekarang tidak lagi berjalan dalam batas negara. Perubahan teknologi, perdagangan internasional, konflik geopolitik, inflasi, dan perubahan rantai pasok bisa memengaruhi pekerjaan seseorang bahkan ketika masalahnya terjadi di negara lain. Dari ketidakpastian ekonomi ini kemudian muncul spekulasi pragmatisme dikalangan kader yang berangggapan lebih baik bekerja daripada ikut organisasi. Yang ketiga adalah pergeseran sosial-budaya. Mengharuskan IPM untuk bersiap menghadapinya. reformasi sistem perkaderan di IPM perlu memperhitungkan dampak dari ketiga aspek ini, dengan mengembangkan strategi kaderisasi yang tangguh, fleksibel, dan berorientasi pada masa depan.

Teori Yang kedua yaitu Liquid Modernity. Zygmunt Bauman Bauman menyebut masyarakat kontemporer sebagai liquid modernity atau modernitas cair. Berbeda dengan kehidupan yang lebih “solid” sebelumnya, kehidupan modern ditandai perubahan cepat, ketidakpastian, individualisasi, dan hubungan sosial yang semakin fleksibel.

Dalam Liquid Times, Bauman menjelaskan bahwa institusi dan struktur sosial sekarang tidak selalu cukup stabil untuk menjadi pegangan jangka panjang. Akibatnya, individu dituntut terus fleksibel, adaptif, dan siap mengubah rencana menghadapi ketidakpastian.

Dulu kader mungkin dibentuk dalam kondisi yang relatif lebih stabil. Sekarang kader hidup dalam dunia yang cepat berubah, informasi berubah setiap saat, teknologi terus berkembang, tren sosial berganti, identitas mudah berubah, dan pilihan hidup semakin banyak.

Jadi kalau kader hari ini terlihat “berbeda” dari kader 20 tahun lalu, belum tentu berarti mengalami kemunduran. Bisa jadi mereka sedang menghadapi bentuk tantangan yang berbeda.

hadirnya SPI Putih bukan berarti harus meninggalkan seluruh tradisi perkaderan yang sudah ada. Justru disinilah tantangannya. Tradisi lama yang baik harus tetap dirawat, sementara hal-hal yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman harus berani ditransformasi.

Militansi misalnya, tidak harus selalu dimaknai dengan bagaimana kader bertahan dalam kondisi serba kekurangan atau kalau dalam Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 terdapat unsur kekerasan dan militerisasi. Pada hari ini, militansi bisa saja ditunjukkan melalui konsistensi belajar, keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan mengelola teknologi, membuat gerakan yang relevan dan tetap bertahan ketika gerakan tersebut tidak langsung mendapatkan apresiasi.

Begitu juga dengan intelektualitas. Kader hari ini mungkin tidak membaca buku dengan cara yang sama seperti kader masa lalu. Mereka hidup di tengah banjir informasi. Tantangannya justru bagaimana informasi yang begitu banyak dapat diolah menjadi pengetahuan, kemudian pengetahuan tersebut menjadi gagasan dan akhirnya gagasan tersebut menjadi gerakan.

Disinilah SPI Putih harus benar-benar dikawal. Jangan sampai SPI hanya berhenti sebagai dokumen, istilah baru, atau materi yang disampaikan dalam forum perkaderan. Sebab sistem yang bagus tidak akan menghasilkan apa-apa apabila tidak benar-benar dihidupkan oleh para pimpinan dan Fasilitator di lapangan.

Kita tidak sedang mencari generasi yang lebih hebat dari generasi sebelumnya. Kita sedang mempersiapkan generasi yang mampu menjawab persoalan pada zamannya. Karena itu, membandingkan kader hari ini dengan kader 20 tahun lalu bukanlah cara terbaik untuk melihat keberhasilan perkaderan.

Yang perlu kita lakukan adalah mengambil api dari tradisi lama tanpa harus membawa seluruh bentuk kayunya. Nilai perjuangan, keberanian, intelektualitas, kedisiplinan dan kepedulian dari perkaderan terdahulu harus tetap hidup. Tetapi cara menyampaikannya harus berani berubah mengikuti zaman.

Akhirnya, SPI Putih bukan sekadar sistem perkaderan yang baru. Ia adalah sebuah ikhtiar untuk menjawab kebutuhan zaman yang baru. Berhasil atau tidaknya bukan hanya ditentukan oleh sistemnya, tetapi oleh bagaimana kita juga sebagai pelaku organisasi mau menghidupkan dan mengawalnya.

Sebab perkaderan tidak pernah benar-benar selesai ketika sebuah forum berakhir. Perkaderan baru bisa dikatakan berhasil ketika nilai yang didapatkan seorang kader mampu mempengaruhi dirinya, lingkungannya dan memberikan dampak bagi kehidupan di sekitarnya.

Maka tugas kita hari ini bukan memilih antara tradisi lama atau perkaderan baru. Tetapi merawat yang baik dari masa lalu, mentransformasi yang tidak lagi relevan, dan bersama-sama mengawal perkaderan era baru agar benar-benar melahirkan kader yang berdampak.

Ahmad Fauzi Almubarok

Ahmad Fauzi Almubarok (@fauzi0keaja_)

Kader IPM

Speak, Draw, Edit

Mungkin kamu suka