Menyikapi Maraknya Perundungan di Kalangan Pelajar

Menyikapi Maraknya Perundungan di Kalangan Pelajar

Perundungan di kalangan pelajar masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan kita. Bentuknya kini tidak lagi terbatas pada kekerasan fisik atau ejekan secara langsung, melainkan juga merambah ruang digital melalui pesan singkat, grup obrolan, dan media sosial. Salah satu bentuk yang patut menjadi perhatian bersama adalah sikap tidak hormat kepada guru, misalnya mencemooh atau menghina guru di belakang hanya karena merasa tidak senang setelah dinasihati. Perilaku semacam ini sering dianggap sepele, padahal mencerminkan lemahnya adab dalam diri pelajar.

Kemajuan teknologi komunikasi memang memudahkan banyak hal, tetapi juga membuka ruang baru bagi hinaan, cemoohan, dan ujaran kebencian yang dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Sebagian pelajar mungkin menganggap percakapan di grup tertutup hanyalah candaan atau pelampiasan emosi sesaat. Anggapan tersebut keliru, sebab setiap kata yang diketik merupakan tanggung jawab pribadi. Jejak digital sulit dihapus, mudah disebarluaskan, dan dapat menimbulkan dampak sosial, bahkan hukum, bagi pelakunya.

Guru adalah sosok yang mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran demi mendidik serta membimbing peserta didiknya. Nasihat yang disampaikan guru, baik secara lisan maupun dalam bentuk lain, merupakan wujud kepedulian dan harapan agar muridnya menjadi pribadi yang lebih baik. Membalas nasihat dengan hinaan bukan hanya mencederai martabat guru, tetapi juga mencerminkan krisis adab. Para ulama terdahulu telah menegaskan bahwa adab harus mendahului ilmu, karena ilmu yang tidak disertai adab akan kehilangan keberkahannya.

Oleh karena itu, kami menyerukan kepada seluruh pelajar untuk menolak segala bentuk perundungan, baik terhadap guru, teman sebaya, maupun siapa pun, dan melalui media apa pun. Sebagai pelajar Islam yang berkemajuan, kita dituntut tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjaga lisan dan tulisan, menghormati guru, menerima nasihat dengan lapang dada, serta menyampaikan perbedaan pendapat dengan cara yang santun. Setiap pelajar juga diharapkan berani menegur sesama teman dan melaporkan kepada pihak sekolah apabila mengetahui adanya tindakan perundungan di lingkungannya.

Pencegahan perundungan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah, orang tua, dan seluruh elemen pelajar perlu memperkuat pendidikan karakter serta literasi digital agar pelajar memahami etika bermedia sosial. Pelajar yang terbukti melakukan kesalahan pun selayaknya memperoleh pembinaan yang mendidik, sehingga dapat menyadari kekeliruannya, meminta maaf, dan kembali menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Mari bersama-sama menjadi pelajar yang berilmu, beradab, dan berkemajuan, serta menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berkarya, dan berdakwah, bukan sebagai tempat menebar kebencian.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel