Opini

Menjadi Terpelajar: Panggilan yang Menuntut Keberanian untuk Terus Bertumbuh

Fahrizal khoiru abduh

Fahrizal khoiru abduh (@22235fahrizal)

Verified Publisher

Terbit

8 September 2026

Durasi

5 min read

Cover

Oleh: Fahrizal Khoiru Abduh

Kita sering merasa sudah menjadi pelajar hanya karena berada di ruang kelas, mengerjakan tugas, membaca buku, atau memperoleh nilai yang baik. Padahal, status itu sekadar menunjukkan bahwa kita sedang menjalani sebuah proses pendidikan. Lalu, apa yang sebenarnya membedakan pelajar dari orang yang terpelajar?

Bagi saya, jawabannya terletak pada apa yang kita lakukan setelah memperoleh ilmu. Pelajar adalah mereka yang sedang menjalani proses belajar, memahami, dan berkembang. Terpelajar memiliki makna yang lebih jauh: bukan sekadar seseorang yang berpengetahuan luas, melainkan seseorang yang berusaha memahami ilmunya, menerapkannya, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, menjadi pelajar adalah sebuah keadaan, sedangkan menjadi terpelajar adalah sebuah panggilan, panggilan yang tidak menawarkan opsi untuk diam, melainkan menuntut keberanian, niat, dan semangat untuk terus bergerak.

Namun, tulisan ini bukan datang dari seseorang yang merasa sudah sampai pada titik tersebut. Saya sendiri masih belajar masih sering mengetahui sesuatu tanpa benar-benar mengamalkannya, masih memiliki gagasan yang terkadang berhenti sebagai wacana. Justru karena itulah tulisan ini dibuat: bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri sekaligus mengajak kita semua bergerak dari sekadar menjadi pelajar menuju pribadi yang terpelajar.

Ketika Ilmu Berhenti Menjadi Pengetahuan

Kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah ditemukan, hanya dalam hitungan detik melalui internet, media sosial, atau berbagai platform pembelajaran. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya kualitas manusia. Kita bisa mengetahui banyak hal tanpa benar-benar memahami maknanya, bisa memiliki banyak pengetahuan tanpa pernah menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan, bahkan bisa berbicara tentang perubahan tanpa pernah benar-benar mewujudkannya.

Saya pun tidak terlepas dari hal itu. Ada banyak hal yang sudah saya ketahui, tetapi belum semuanya mampu saya terapkan; ada nilai-nilai yang saya yakini, tetapi belum selalu berhasil saya wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah saya semakin memahami bahwa menjadi terpelajar bukanlah pencapaian yang selesai dalam satu waktu, melainkan proses yang terus berlangsung. Ilmu semestinya tidak hanya menambah isi kepala, tetapi juga perlahan membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak sebab ilmu yang tidak pernah bergerak menjadi tindakan pada akhirnya hanya akan menjadi pengetahuan yang tersimpan.

Berani Mempertanyakan Pola Lama

Berbicara tentang aksi nyata juga berarti berbicara tentang keberanian untuk berubah. Salah satu tantangan dalam sebuah gerakan muncul ketika kita terlalu nyaman dengan sesuatu yang sudah berjalan: sebuah kegiatan terus dilakukan karena memang sudah dilakukan sejak dulu, sebuah pola dipertahankan karena kita takut mencoba hal yang berbeda. Padahal zaman tidak pernah berhenti. Persoalan pelajar hari ini berbeda dengan persoalan generasi sebelumnya cara berkomunikasi berubah, teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat terus bergeser. Memperbarui cara bukan berarti meninggalkan nilai, dan berinovasi bukan berarti melupakan sejarah. Justru dengan memahami nilai dan sejarah yang kita miliki, kita punya dasar untuk menentukan bagaimana nilai itu tetap hidup dalam konteks zaman yang berbeda. Warisan gerakan semestinya menjadi modal untuk melangkah, bukan alasan untuk berhenti yang perlu kita jaga adalah apinya, sementara cara menyalakannya agar lebih terang dapat terus kita kembangkan.

Aksi Nyata Tidak Harus Selalu Besar

Sering kali kita membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar program besar, gerakan besar, atau sesuatu yang dapat dilihat banyak orang. Padahal perubahan sering kali dimulai dari keberanian melihat persoalan sederhana di sekitar kita: membantu teman yang membutuhkan, membuat kegiatan yang menjawab kebutuhan pelajar, menuliskan gagasan yang selama ini hanya ada di kepala, atau sekadar mengubah kebiasaan diri sendiri menjadi lebih baik. Saya sendiri belum selalu konsisten melakukan hal-hal kecil ini, dan justru itulah yang membuat saya yakin bahwa ajakan ini bukan datang dari seseorang yang sudah sempurna melakukannya, melainkan dari seseorang yang ingin mencobanya bersama-sama dengan pelajar lain.

Karena itu, mari kita para pelajar mencoba melakukan aksi terpelajar, sekecil apa pun bentuknya. Manfaatnya bisa dirasakan mulai dari lingkup terdekat, seperti keluarga dan pertemanan, hingga lingkup yang lebih luas, seperti sekolah, kampus, organisasi, dan masyarakat. Karya tidak selalu berbentuk sesuatu yang dapat dipamerkan; karya dapat lahir dari gagasan sederhana yang diwujudkan dan memberi manfaat. Yang terpenting bukan seberapa besar karya itu terlihat, melainkan apakah kita memiliki keberanian untuk memulainya.

Bersama untuk Bertumbuh

Kita juga tidak harus menjalani proses ini sendirian. Menjadi terpelajar bukan perjalanan yang dilakukan dengan merasa sudah paling tahu justru dalam prosesnya kita perlu belajar dari orang lain, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan berani mengakui bahwa masih banyak hal yang belum kita pahami. Kita semua sedang bertumbuh, ada yang sudah lebih dahulu bergerak, ada yang baru mulai mencoba, dan semuanya memiliki proses masing-masing. Karena itu, semangat menjadi terpelajar seharusnya bukan menjadi ukuran untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan dorongan untuk saling menguatkan sebab perubahan yang berarti tidak lahir dari satu orang yang merasa paling hebat, tetapi dari banyak orang yang bersedia mengambil peran.

Kita Semua Masih Berproses

Saya menulis ini bukan karena merasa telah menjadi seseorang yang terpelajar, melainkan justru karena sadar masih jauh dari sempurna dalam menjalankan apa yang saya tuliskan sendiri. Tetapi mungkin, menjadi terpelajar memang bukan tentang menjadi sempurna. Mungkin, ia adalah tentang kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk mengakui kekurangan, dan kemauan untuk terus mencoba menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Karena itu, tulisan ini bukan sebuah klaim, melainkan sebuah ajakan kepada diri saya sendiri dan kepada siapa pun yang membaca tulisan ini untuk tidak berhenti hanya karena kita disebut pelajar. Tidak harus menunggu sempurna untuk mulai bergerak, tidak harus menunggu memiliki banyak ilmu untuk mulai memberi manfaat, dan tidak harus menunggu menjadi “terpelajar” untuk mulai menjalani proses menjadi terpelajar.

Menjadi pelajar adalah sebuah keadaan. Menjadi terpelajar adalah sebuah panggilan panggilan yang tidak pernah benar-benar selesai kita jawab, sebab ia menuntut keberanian, niat, dan semangat yang harus terus dihidupkan setiap hari. Setiap hari kita kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apakah ilmu yang kita miliki hanya akan tinggal di kepala, atau akan kita bawa menjadi sikap, tindakan, dan kebermanfaatan?

Fahrizal khoiru abduh

Fahrizal khoiru abduh (@22235fahrizal)

Verified Kader IPM

Belum ada bio publik.

Mungkin kamu suka