Saat membaca salah satu novel karya novelis ternama Tere Liye yang bertajuk Janji, aku kagum sekali dengan sikap Bahar, tokoh yang menjadi arus utama cerita novel tersebut.
Novel ini berkisah tentang tiga murid sekolah agama yang sangat nakal dan bandel, bernama Baso, Kaharuddin dan Hasan. Ketiganya mendapatkan hukuman dari Buya, pengasuh sekolah agama tempat ketiganya menimba ilmu sekaligus berbuat masalah tiap harinya.
Hukuman itu berupa tugas untuk mencari seseorang bernama bahar, seorang yang pernah menjadi murid Buya namun, harus dikeluarkan karena kenakalannya yang luar biasa. Tetapi bertahun-tahun berlalu Buya dihantui oleh rasa bersalah yang menyerangnya di alam sadar hingga alam mimpi.
Akhirnya, Buya memutuskan mencari Bahar dengan memerintahkan ketiga anak tadi Baso, Kaharudin dan Hasan yang berangkat langsung melacak keberadaanya. Berbekal catatan dari Buya juga uang sebagai ongkos perjalanan mereka, ketiga anak itu memulai petualangan melacak keberadaan bahar.
Satu persatu tempat didatangi dan untuk melacak keberadaan bahar, mereka mengumpulkan informasi dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengan bahar dan juga pernah membersamai perjalanan hidup bahar. Ternyata, setelah kepergiannya dari sekolah agama, Bahar tidak menetap di satu tempat. Ia berpindah-pindah tempat.
Satu hal yang unik saat aku membaca novel ini dan mengikuti alur bahwa ternyata Bahar hidup dalam keadaan beberapa kali berpindah-pindah. Dalam kehidupannya, Bahar adalah orang yang paling tidak butuh dengan uang, hingga setiap kejadian yang memaksanya meninggal suatu tempat ia meninggalkan juga harta bendanya. Lalu, hidup di tempat yang baru dalam keadaan merintis lagi usaha yang baru.
Saat aku baca cerita ini, aku jadi teringat kisah sahabat bernama Abdurrahman bin Auf, ketika ia melaksanakan perintah untuk berhijrah. Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat yang kaya raya, tetapi ketika datang perintah untuk berhijrah ke Yatsrib atau Madinah orang-orang Quraisy melarang keras para muslimin berhijrah dengan membawa harta mereka. Pilihannya hanya dua, ikut berhijrah dalam keadaan tangan kosong dan semua hartanya dirampas atau tetap di mekkah bersama seluruh harta benda yang dimilikinya. Apakah Abdurrahman bin Auf bertahan bersama harta bendanya? Tentu saja tidak, ia tidak akan menggadaikan imannya demi kekayaan dunia.
Alhasil, ia berhijrah dalam keadaan meninggalkan seluruh harta bendanya yang begitu banyak, lalu ia memulai kehidupan di Yatsrib atau Madinah. Rasulullah mempersaudarakannya dengan kaum Anshar bernama Sa’ad bin Rabi’. Melihat saudaranya dari kalangan Muhajirin dalam keadaan tidak memiliki harta benda, Sa’ad menawarkan separuh dari kekayaannya untuk diberikan kepada Abdurrahman bin Auf.
Namun, alih-alih menerimanya Abdurrahman bin Auf mengatakan, “semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah dengan kau menunjukkan padaku dimana letak pasar.”
Daripada menerima bantuan dalam bentuk harta, Abdurrahman memilih untuk mengumpulkan sendiri harta itu dengan memulai bisnisnya melalui pasar. Persis seperti cerita yang terdapat di dalam novel Janji oleh tokoh bernama Bahar.
Bahar beberapa kali menetap dan membangun sebuah usaha, bahkan usahanya sudah mendatangkan uang yang cukup banyak. Namun, saat terpaksa harus meninggalkan tempat itu, ia meninggalkan semua hartanya dan memulai usaha baru ditempat yang baru.
Novel itu sangat direkomendasikan untuk dibaca, selain terdapat beberapa kejadian yang jenaka, ia juga memberikan nasehat kehidupan melalui perjalanan tiga sekawan.













