Sastra

AYAH, PAHLAWAN TANPA SORAKAN

Puisi ini menceritakan perjuangan seorang ayah yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan kebahagiaannya demi keluarga. Sebuah ungkapan rasa cinta, hormat, dan terima kasih kepada sosok ayah yang sering kali menyembunyikan lelahnya di balik ketegaran.

Terbit

31 Oktober 2026

Durasi

1 menit baca

AYAH, PAHLAWAN TANPA SORAKAN

Ayah,
Engkau mungkin bukan seseorang yang pandai berkata-kata,
Namun dari diam dan lelahmu,
Aku belajar arti sebuah perjuangan.

Setiap pagi engkau melangkah pergi,
Meninggalkan rumah demi sebuah harapan,
Keringat yang jatuh menjadi saksi,
Betapa besar cintamu tanpa banyak ucapan.

Ayah, aku tahu engkau juga manusia,
Yang bisa lelah, sedih, bahkan terluka,
Namun di hadapanku engkau tetap kuat,
Seolah tak pernah mengenal kata menyerah.

Maaf jika aku sering tak mengerti,
Tentang kerasnya dunia yang kau hadapi,
Maaf jika ucapan dan sikapku menyakiti,
Padahal engkau hanya ingin melihatku berdiri.

Suatu hari nanti,
Aku ingin menjadi alasan di balik senyummu,
Membalas setiap tetes keringatmu,
Dan membuktikan bahwa perjuanganmu tidak sia-sia.

Ayah, mungkin aku jarang mengatakannya,
Namun percayalah pada satu hal,
Di antara banyak orang yang kukagumi,
Engkaulah salah satu yang paling berarti.

-Shadiq Salim

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel