“Laki-laki kok nangis?” Kalimat ini mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, anggapan tersebut membuat banyak laki-laki merasa tidak boleh menunjukkan kesedihan karena dianggap lemah. Mereka dituntut untuk selalu terlihat kuat, tegar, dan tidak mudah mengeluh.
Fenomena ini disebut maskulinitas toksik, yaitu pandangan yang menganggap laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi. Di kalangan remaja, hal ini sering terlihat ketika seorang siswa laki-laki diejek karena menangis atau dianggap kurang jantan karena mengungkapkan perasaannya.
Padahal, menangis merupakan hal yang wajar dan bisa dialami oleh siapa saja. Laki-laki juga memiliki hak untuk merasa sedih, takut, kecewa, dan mengungkapkan emosinya. Menangis tidak membuat seseorang menjadi lemah, begitu pula bercerita tentang masalah bukan berarti tidak mandiri.
Jika terus dianggap sebagai kelemahan, laki-laki bisa terbiasa memendam perasaan dan kesulitan meminta bantuan ketika menghadapi masalah. Karena itu, lingkungan sekolah, keluarga, dan pertemanan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mengekspresikan emosi tanpa takut diejek.
Sudah saatnya kita mengubah pola pikir bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Kekuatan seseorang bukan diukur dari kemampuannya menyembunyikan kesedihan, melainkan juga dari keberaniannya untuk jujur terhadap perasaan sendiri. Sebab, menangis bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari menjadi manusia.












