Gender

Ketika Kebutuhan Perempuan Menjadi Ketimpangan Ekonomi.

Ketika Kebutuhan Biologis Perempuan Bertemu dengan Ketimpangan Ekonomi, Mengapa harus Dipajaki?

Terbit

31 Oktober 2026

Durasi

2 menit baca

Ketika Kebutuhan Perempuan Menjadi Ketimpangan Ekonomi.

Menstruasi merupakan proses biologis alami yang dialami perempuan. Namun, di balik kebutuhan tersebut, terdapat persoalan ekonomi yang kerap luput dari perhatian. Pembelian pembalut, obat pereda nyeri, hingga kebutuhan kebersihan lainnya menjadi pengeluaran rutin yang harus dipenuhi setiap bulan. Bagi sebagian perempuan, kebutuhan ini bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan juga beban finansial.

Data yang dikutip dalam dari BBC News Indonesia (2019) menyebutkan bahwa perempuan Indonesia diperkirakan menghabiskan sekitar 1,7 persen dari penghasilan bulanannya untuk kebutuhan menstruasi. Angka tersebut sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata perempuan di 21 negara Asia.

Persoalan ini semakin kompleks ketika dihadapkan pada ketimpangan upah. Studi Ruslan dan Sukma (2025) dalam Jurnal Ketenagakerjaan menemukan bahwa rata-rata upah pekerja perempuan sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki sebelum memperhitungkan karakteristik terkait upah. Kondisi ini menunjukkan bahwa perempuan menghadapi tantangan ekonomi yang tidak sederhana: kebutuhan biologis tetap harus dipenuhi, sementara pendapatan yang diperoleh masih berhadapan dengan kesenjangan.

Menstruasi bukanlah pilihan, tetapi pemenuhan kebutuhannya sering kali masih bergantung pada kemampuan ekonomi masing-masing individu. Ketika akses terhadap produk menstruasi yang layak menjadi sulit, dampaknya tidak hanya menyangkut kesehatan dan kebersihan, tetapi juga kenyamanan perempuan dalam menjalani aktivitas pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

Karena itu, menstruasi tidak seharusnya dipandang sebagai urusan pribadi perempuan semata. Ketersediaan produk menstruasi yang terjangkau, fasilitas sanitasi yang layak, edukasi kesehatan reproduksi, serta kebijakan pengupahan yang adil merupakan bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan gender.

Pada akhirnya, keadilan ekonomi tidak cukup hanya berbicara tentang kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang setara. Lebih dari itu, keadilan juga harus mampu memahami kebutuhan biologis perempuan. Sebab, kebutuhan yang tidak dapat dipilih seharusnya tidak menjadi beban yang semakin memperlebar ketimpangan.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel