Opini

Ketika Hidup Terasa Berat, Islam Mengajarkan Sabar dan Salat sebagai Jalan Ketenangan

Terbit

27 Oktober 2026

Durasi

5 min read

Ketika Hidup Terasa Berat, Islam Mengajarkan Sabar dan Salat sebagai Jalan Ketenangan

Pernahkah kita merasa bahwa hidup seolah tidak memberikan waktu untuk beristirahat? Belum selesai satu persoalan, masalah lain sudah datang menghampiri. Tugas sekolah atau kuliah menumpuk, pekerjaan dikejar tenggat waktu, harapan orang tua yang harus dipenuhi, hingga hubungan pertemanan yang terkadang tidak berjalan sesuai keinginan.

Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit dari kita yang memilih membuka ponsel. Menuliskan keluh kesah melalui status WhatsApp, membagikan keresahan di Instagram, atau mencurahkan isi hati melalui media sosial X. Barangkali, ada harapan sederhana di balik semua itu, yakni ingin didengar, dipahami, atau sekadar mendapatkan kalimat penyemangat dari orang lain.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan mencari dukungan dari sesama manusia. Sebab, pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa ketika masalah datang, kita sering kali lebih dahulu mencari manusia untuk mendengarkan keluhan, sementara Allah SWT justru menjadi tempat terakhir untuk mengadu?

Padahal, Islam telah memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia seharusnya menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Salah satunya melalui dua amalan yang sering kita dengar, tetapi belum tentu selalu kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sabar dan salat.

Hidup Memang Tidak Pernah Lepas dari Ujian

Terkadang kita membayangkan bahwa kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang terbebas dari masalah. Semua keinginan terpenuhi, hubungan dengan orang lain berjalan baik, dan setiap rencana dapat terlaksana tanpa hambatan.

Sayangnya, kehidupan tidak selalu berjalan demikian.

Ada kalanya kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ada saat ketika kebaikan yang diberikan justru dibalas dengan kekecewaan. Bahkan, terkadang persoalan datang ketika kita merasa sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk menghadapinya.

Namun, dalam pandangan Islam, kesulitan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Balad ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Artinya, "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al-Balad: 4).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia memang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan, kesulitan, dan berbagai bentuk ujian.

Dengan kata lain, menghadapi masalah bukan berarti kita sedang menjalani kehidupan yang gagal. Kesulitan justru merupakan bagian dari perjalanan yang harus dilalui setiap manusia.

Hal ini juga ditegaskan dalam Surah Al-Mulk ayat 2. Allah SWT menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian diciptakan untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

Artinya, kehidupan bukan semata-mata tentang seberapa banyak kebahagiaan yang berhasil kita dapatkan, tetapi juga bagaimana sikap dan tindakan kita ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan bagaimana manusia memiliki kecenderungan untuk mudah gelisah ketika menghadapi kesulitan.

Dalam Surah Al-Ma'arij ayat 19–20, Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ۝ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

Artinya, "Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah." (QS. Al-Ma'arij: 19–20).

Jika direnungkan, gambaran tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan kita saat ini.

Ketika menghadapi persoalan, terkadang kita lebih cepat mengeluh daripada mencoba memahami keadaan. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, kita mudah merasa bahwa hidup sedang berlaku tidak adil.

Padahal, manusia-manusia pilihan Allah SWT juga pernah menghadapi ujian yang jauh dari kata ringan.

Nabi Yunus AS pernah berada dalam keadaan yang sangat sulit ketika berada di dalam perut ikan besar. Dalam situasi tersebut, beliau tidak kehilangan harapan, melainkan memohon pertolongan Allah SWT dengan penuh kesadaran dan pengakuan atas kesalahannya.

Begitu pula Nabi Yaqub AS yang harus menghadapi kesedihan mendalam akibat berpisah dengan putranya, Nabi Yusuf AS.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa kedekatan seseorang dengan Allah bukanlah jaminan bahwa kehidupannya akan selalu mudah.

Justru dalam menghadapi kesulitan, manusia memiliki kesempatan untuk belajar tentang keteguhan, keikhlasan, dan pentingnya menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Sabar Bukan Berarti Diam dan Menyerah

Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, kita mungkin sering mendengar nasihat sederhana, "Sudah, sabar saja."

Kalimat tersebut memang terdengar menenangkan. Namun, terkadang kita lupa bahwa sabar bukan sekadar menahan kesedihan atau menerima keadaan tanpa melakukan apa pun.

Dalam Islam, kesabaran memiliki makna yang lebih luas.

Sabar berarti berusaha mengendalikan diri ketika emosi mulai menguasai pikiran. Sabar juga berarti tetap melakukan kebaikan meskipun keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi seorang pelajar, kesabaran dapat diwujudkan melalui ketekunan belajar ketika hasil ujian belum memuaskan. Bagi mahasiswa, sabar berarti tetap berusaha menyelesaikan tugas dan tanggung jawab akademik meskipun menghadapi berbagai kesulitan.

Sementara itu, dalam kehidupan sosial, sabar dapat berarti memilih untuk tidak membalas perkataan menyakitkan dengan kemarahan yang sama.

Terlebih pada era digital seperti sekarang, ketika seseorang dapat dengan mudah menuliskan apa pun melalui media sosial.

Tidak jarang, persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berkembang menjadi konflik karena seseorang terburu-buru mengunggah kemarahannya.

Di sinilah kesabaran menjadi penting.

Sabar mengajarkan kita untuk memberikan jeda sebelum bereaksi. Memikirkan akibat sebelum berbicara dan mempertimbangkan manfaat sebelum membagikan sesuatu kepada orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Artinya, "Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat." (QS. Al-Baqarah: 45).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesabaran merupakan salah satu jalan yang diajarkan Allah SWT untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Namun, kesabaran tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

Ketika mengalami kesulitan ekonomi, seseorang tetap perlu bekerja dan mencari solusi. Ketika menghadapi masalah dalam pendidikan, seorang pelajar tetap harus belajar dan memperbaiki kekurangannya.

Begitu pula ketika menghadapi konflik dengan orang lain, kesabaran perlu disertai keberanian untuk membangun komunikasi yang baik.

Dengan demikian, sabar bukanlah sikap menyerah terhadap keadaan.

Sebaliknya, sabar merupakan kekuatan untuk tetap berpikir jernih, menjaga perilaku, dan melanjutkan usaha meskipun keadaan sedang tidak berpihak kepada kita.

Salat, Tempat Kembali Ketika Dunia Terasa Melelahkan

Selain kesabaran, Islam juga mengajarkan salat sebagai salah satu jalan untuk memohon pertolongan Allah SWT.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, salat terkadang masih dipandang sebatas kewajiban yang harus diselesaikan.

Ketika azan berkumandang, sebagian dari kita mungkin masih sibuk dengan pekerjaan, tugas, atau aktivitas lainnya. Bahkan, tidak jarang salat justru ditunda karena merasa masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan.

Padahal, pernahkah kita membayangkan bahwa di tengah kesibukan tersebut, salat justru menjadi kesempatan untuk mengistirahatkan hati?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153).

Melalui ayat tersebut, Allah SWT mengingatkan bahwa sabar dan salat merupakan dua hal yang dapat dijadikan sarana memohon pertolongan dalam menghadapi kesulitan.

Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai pentingnya salat sebagai sumber ketenteraman.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada Bilal sebuah ungkapan yang bermakna, "Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat."

Ungkapan tersebut memiliki makna yang begitu mendalam.

Rasulullah SAW tidak menggambarkan salat sebagai beban yang melelahkan, melainkan sebagai ibadah yang menghadirkan ketenangan.

Barangkali, inilah sesuatu yang sering terlupakan dalam kehidupan kita.

Ketika merasa lelah, kita mencari hiburan melalui media sosial. Ketika pikiran dipenuhi masalah, kita memilih menonton video atau mendengarkan musik untuk mengalihkan perhatian.

Aktivitas tersebut mungkin dapat memberikan hiburan sementara. Namun, sebagai seorang Muslim, kita juga memiliki kesempatan untuk menemukan ketenteraman melalui kedekatan dengan Allah SWT.

Salat mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia.

Ketika berdiri menghadap Allah, kita diingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, maupun penilaian manusia.

Ada hubungan spiritual yang perlu terus dijaga.

Terlebih ketika berada dalam posisi sujud.

Pada saat itulah seorang hamba merendahkan dirinya di hadapan Allah SWT. Tidak ada jabatan, prestasi, atau pengakuan manusia yang perlu dibanggakan.

Yang ada hanyalah kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Melalui salat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan, seorang Muslim dapat memperoleh ruang untuk menenangkan pikiran dan menata kembali hatinya.

Setelah salat, kita juga dapat memperbanyak doa, memohon petunjuk, serta menyampaikan kegelisahan kepada Allah SWT.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa salat bukan berarti membuat seluruh persoalan selesai secara tiba-tiba.

Seseorang yang memiliki utang tetap harus berusaha melunasinya. Pelajar yang menghadapi ujian tetap perlu belajar, sedangkan orang yang sedang mengalami konflik tetap perlu mencari penyelesaian.

Salat tidak menggantikan usaha manusia.

Sebaliknya, salat dapat menjadi sumber kekuatan spiritual agar manusia mampu menghadapi persoalan dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.

Tidak Semua Masalah Harus Menjadi Cerita di Media Sosial

Kehidupan digital telah memberikan banyak kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Ketika sedang marah, seseorang dapat langsung menuliskan kekesalannya. Ketika merasa kecewa, seseorang bisa dengan mudah membagikan kesedihannya kepada ratusan bahkan ribuan pengguna media sosial.

Terkadang, tindakan tersebut dilakukan bukan karena ingin mencari penyelesaian, melainkan karena berharap mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain.

Tentu, berbagi cerita bukanlah sesuatu yang keliru. Dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang menghadapi masa sulit.

Namun, kita perlu menyadari bahwa tidak semua persoalan harus diketahui banyak orang.

Ada masalah yang lebih baik diselesaikan melalui percakapan pribadi. Ada kesedihan yang perlu dibicarakan dengan keluarga atau orang terpercaya. Ada pula kegelisahan yang dapat kita bawa dalam doa kepada Allah SWT.

Di sinilah sabar dan salat dapat menjadi pengingat.

Sabar membantu kita mengendalikan respons terhadap keadaan, sedangkan salat mengingatkan bahwa manusia selalu memiliki tempat untuk kembali memohon pertolongan.

Keduanya tidak mengajarkan manusia untuk menghindari masalah, tetapi membantu kita menghadapi persoalan dengan sikap yang lebih bijaksana.

Ketika Masalah Belum Selesai, Jangan Kehilangan Harapan

Pada akhirnya, kehidupan memang tidak pernah sepenuhnya terbebas dari persoalan.

Hari ini mungkin kita sedang menghadapi tugas yang menumpuk, hubungan pertemanan yang renggang, kesulitan ekonomi, atau berbagai keadaan yang tidak sesuai harapan.

Besok, mungkin akan datang persoalan lain yang membutuhkan kesabaran lebih besar.

Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Melalui Al-Qur'an dan teladan Rasulullah SAW, kita diajak untuk terus berusaha, menjaga kesabaran, menunaikan salat, dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Karena itu, ketika suatu hari kehidupan terasa begitu berat, cobalah memberikan waktu sejenak kepada diri sendiri.

Tidak perlu terburu-buru menuliskan semua keresahan melalui media sosial. Tidak semua kekecewaan harus dibalas dengan kemarahan, dan tidak setiap persoalan harus diselesaikan dalam satu waktu.

Tenangkan pikiran, ambil wudu, lalu tunaikan salat dengan penuh kesadaran.

Setelah itu, lanjutkan ikhtiar untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.

Sebab, boleh jadi masalah yang kita hadapi belum selesai setelah menunaikan salat. Keadaan mungkin masih sama, tanggung jawab masih menunggu, dan kesulitan belum sepenuhnya menghilang.

Namun, hati yang lebih tenang dapat membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Barangkali, yang kita butuhkan bukan selalu kehidupan tanpa masalah, melainkan hati yang lebih kuat untuk menghadapinya.

Dan melalui sabar serta salat, Islam telah mengajarkan kepada kita dua jalan untuk terus melangkah, bahkan ketika kehidupan sedang terasa begitu berat.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel