Oleh: Fahrizal Khoiru Abduh
Selama ini kita akrab dengan nasihat yang hampir tidak pernah dipertanyakan: dahulukan adab sebelum ilmu, seolah keduanya berdiri sendiri dan salah satunya harus lebih dulu dipenuhi. Namun, semakin saya merenungkannya, semakin saya meyakini urutan itu perlu ditinjau ulang. Ini murni pikiran liar dan opini pribadi, bukan klaim kebenaran mutlak apalagi upaya menggugat konsep yang sudah lama diyakini banyak orang sekadar ajakan untuk sama-sama merenung: bagaimana mungkin seseorang beradab secara utuh jika pemahaman ilmunya belum sejauh itu?
Adab bukan sesuatu yang muncul dari kekosongan. Seseorang tahu bersikap hormat karena memahami nilai penghormatan; tahu menjaga lisan karena memahami akibat perkataan yang menyakiti. Semua pemahaman itu adalah ilmu. Dengan kata lain, adab sejatinya adalah buah dari ilmu yang dihayati, bukan sesuatu yang berdiri terpisah darinya. Kesantunan tanpa pemahaman hanyalah kepatuhan pada kebiasaan, bukan adab yang lahir dari kesadaran.
Jika dianalogikan, ilmu dan adab seperti akar dan buah dari sebuah pohon. Sebuah pohon tidak akan berbuah tanpa akar yang kuat sebagai dasarnya, dan sebuah pohon yang tumbuh subur tetapi tak pernah berbuah kehilangan esensi keberadaannya. Ilmu adalah akar yang menjadi dasar tumbuhnya pemahaman dan kesadaran; adab adalah buah, wujud nyata dari ilmu yang diamalkan. Ilmu tanpa adab kehilangan esensinya sebagai ilmu yang bermanfaat, sementara adab tanpa ilmu sulit dipertanggungjawabkan asal-usulnya.
Tulisan ini bukan bermaksud meniadakan pentingnya adab, adab tetap menjadi tujuan akhir yang harus dicapai. Yang ingin saya luruskan hanya cara memahami hubungan keduanya. Selama ini adab seolah dipahami sebagai syarat sebelum seseorang layak menerima ilmu, padahal justru proses menuntut ilmu itu sendirilah yang menumbuhkan adab. Keduanya sesungguhnya tumbuh bersamaan dan saling menguatkan, hanya saja jika ditelusuri dari mana proses itu bermula, akar tetap harus tumbuh lebih dulu sebelum ada buah yang bisa dipetik.
Karena itu, mari kita menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh sembari membiarkan ilmu itu membentuk adab kita seiring waktu. Sebab adab yang paling kokoh bukanlah adab yang dihafal sebagai aturan, melainkan adab yang tumbuh dari akar pemahaman yang dalam.
Sekali lagi, ini hanyalah pikiran liar dari perenungan pribadi, bukan kesimpulan final, dan sama sekali bukan bentuk penentangan terhadap konsep apa pun yang sudah ada. Jika ada yang berpandangan berbeda, saya terbuka untuk berdiskusi dan belajar lebih jauh.

