Oleh: M. Baron Qasthalani
Ketua Umum PD IPM Kota Surabaya
Menjadi pemimpin membuat saya belajar bahwa punya banyak ide saja tidak cukup. Dalam organisasi, kita bisa berdiskusi panjang, menyusun rencana, bahkan memiliki gagasan yang menurut kita sangat bagus. Namun, semua itu tidak akan banyak berarti kalau pada akhirnya hanya berhenti di ruang rapat.
Saya rasa, salah satu tantangan dalam berorganisasi adalah bagaimana membawa gagasan menjadi sesuatu yang benar-benar dikerjakan. Sebab, ide yang bagus belum tentu menghasilkan perubahan jika tidak ada yang mau memulai dan mengawalnya sampai selesai.
Pemikiran itu kembali saya renungkan setelah memimpin jajaran pengurus PD IPM Kota Surabaya dalam audiensi bersama Ustaz Edy Susanto, M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat).
Pertemuan tersebut bukan sekadar menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dan berdiskusi. Ada banyak hal yang saya dapatkan, terutama tentang cara membangun organisasi, membagi tanggung jawab, dan menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin.
Satu hal yang membuat saya tertarik adalah perjalanan hidup beliau. Sebelum sampai pada posisi sekarang, Ustaz Edy pernah menjalani berbagai pekerjaan, termasuk berjualan bunga keliling dan mengajar di sejumlah tempat demi melanjutkan pendidikan. Perjalanan itu mengingatkan saya bahwa keberhasilan tidak datang begitu saja. Ada proses panjang, kerja keras, dan kemauan untuk terus berusaha di baliknya.
Dari pertemuan itu, ada beberapa hal yang kemudian saya pikirkan kembali sebagai bahan evaluasi bagi diri saya sendiri dan organisasi yang sedang saya pimpin.
1. Jangan Berhenti pada Ide
Dalam organisasi, kita sering punya banyak rencana. Ada program yang ingin dijalankan, gagasan yang ingin dikembangkan, dan perubahan yang ingin diwujudkan. Namun, pertanyaan terpentingnya adalah: sudah sejauh mana semua itu dikerjakan?
Bagi saya, pemimpin tidak cukup hanya pandai menyampaikan gagasan. Ia juga harus mau turun tangan, memastikan pekerjaan berjalan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah direncanakan.
Tidak semua ide harus langsung menjadi program besar. Kadang, kita hanya perlu memulai dari langkah sederhana, lalu memperbaikinya sambil berjalan. Yang penting, ada kemauan untuk bergerak dan kesungguhan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Prinsip man jadda wajada perlu kita bawa dalam kehidupan berorganisasi. Kesungguhan bukan hanya terlihat ketika kita bersemangat menyampaikan rencana, tetapi juga ketika kita tetap bekerja saat prosesnya mulai terasa sulit.
2. Pahami Tugas dan Jangan Saling Mengambil Alih
Semangat berorganisasi itu penting, tetapi semangat saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Saya belajar bahwa setiap bidang memiliki peran yang harus dijalankan. Jika semua orang ingin mengerjakan hal yang sama, sementara tugas lainnya justru terbengkalai, organisasi tentu tidak akan berjalan dengan baik.
Membantu bidang lain bukan sesuatu yang salah. Justru, kerja sama seperti itu dibutuhkan. Namun, membantu berbeda dengan mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dijalankan orang lain.
Sebagai pemimpin, saya perlu memastikan setiap pengurus memahami tugasnya, sekaligus membangun kebiasaan untuk saling mendukung. Jangan sampai organisasi terlalu bergantung pada beberapa orang saja, sementara yang lain tidak mendapat ruang untuk belajar dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, organisasi yang sehat bukan organisasi yang semua pekerjaannya dikerjakan oleh ketua, melainkan organisasi yang setiap orang di dalamnya mau mengambil peran.
3. Komunikasi Menentukan Kerja Tim
Sering kali, persoalan organisasi bukan muncul karena anggotanya tidak mampu bekerja, melainkan karena kurangnya komunikasi. Ada yang merasa sudah menjalankan tugas, ada yang menunggu arahan, dan ada pula yang tidak mengetahui perkembangan pekerjaan bidang lain.
Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tetapi bisa menghambat jalannya organisasi jika dibiarkan.
Karena itu, komunikasi tidak boleh hanya berlangsung ketika ada masalah atau menjelang pelaksanaan kegiatan. Pengurus perlu membiasakan diri untuk saling memberi kabar, menyampaikan kendala, dan membicarakan solusi sebelum persoalan menjadi semakin besar.
Saya menyadari bahwa membangun kerja tim bukan sekadar mengumpulkan orang-orang yang punya kemampuan. Lebih dari itu, kita harus membuat mereka mampu bekerja bersama, saling percaya, dan memahami tujuan yang sedang diperjuangkan.
Bagi saya, inilah salah satu pekerjaan rumah dalam memimpin organisasi: memastikan setiap orang merasa dilibatkan dan mengetahui bahwa pekerjaannya punya arti bagi gerak bersama.
4. Organisasi Penting, Pendidikan Tetap Utama
Sebagai pelajar yang mendapat amanah memimpin organisasi, saya juga harus terus belajar mengatur waktu. Ada rapat, agenda kegiatan, undangan, dan berbagai tanggung jawab yang terkadang datang bersamaan.
Tidak jarang, kesibukan organisasi membuat kita merasa sudah melakukan banyak hal. Namun, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah tanggung jawab sebagai pelajar tetap kita jalankan dengan baik?
Aktif di IPM seharusnya membuat kita semakin terlatih mengatur waktu dan bertanggung jawab, bukan justru menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan.
Menurut saya, keberhasilan seorang kader tidak hanya dilihat dari seberapa aktif ia dalam organisasi, tetapi juga dari kemampuannya menjalankan tanggung jawab lain yang melekat pada dirinya.
Kita perlu belajar menentukan prioritas, berani mengatur ulang jadwal, dan memahami bahwa tidak semua hal harus dikerjakan sekaligus. Menjalankan amanah organisasi dan menyelesaikan kewajiban akademik memang membutuhkan usaha, tetapi keduanya harus tetap diperjuangkan.
Belajar dari Pertemuan, Membenahi Diri dalam Perjalanan
Saya pulang dari audiensi tersebut dengan banyak hal untuk direnungkan. Bukan berarti setelah satu pertemuan kita langsung memahami seluruh persoalan kepemimpinan. Justru, pertemuan seperti ini mengingatkan saya bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dibenahi.
Memimpin IPM bukan hanya soal menentukan arah atau menyusun program kerja. Ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa gagasan benar-benar dijalankan, setiap pengurus mendapat ruang untuk bertumbuh, komunikasi terjaga, dan organisasi tetap berjalan tanpa mengorbankan tanggung jawab sebagai pelajar.
Saya pun tidak ingin menjadikan refleksi ini sekadar tulisan yang enak dibaca, tetapi berhenti sebagai wacana. Apa yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut harus menjadi bahan evaluasi dalam menjalankan amanah ke depan.
Sebab, pada akhirnya, organisasi tidak akan berubah hanya karena kita memiliki banyak gagasan. Perubahan dimulai ketika ada yang berani mengambil langkah, mau bekerja bersama, dan bersedia bertanggung jawab atas apa yang telah dimulai.
Ide memang penting, tetapi keberanian untuk mengeksekusinya adalah hal yang membuat ide itu berarti.













