Opini

Generasi Serba Viral, Masihkah Adab Jadi Bekal?

Terbit

3 November 2026

Durasi

3 menit baca

Generasi Serba Viral, Masihkah Adab Jadi Bekal?

Zaman sekarang, siapa sih yang tidak kenal TikTok, Instagram, atau media sosial lainnya? Hampir setiap hari kita disuguhkan berbagai informasi dan tren baru. Belum selesai satu tren, sudah muncul tren berikutnya. Begitulah kehidupan digital yang begitu dekat dengan Generasi Z dan Alpha.

Kemajuan ini tentu membawa banyak manfaat. Kita bisa belajar apa saja, mencari informasi dengan mudah, bahkan menghasilkan karya hanya melalui ponsel. Namun, di balik semua kemudahan itu, ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Jangan-jangan kita semakin pintar mengikuti perkembangan zaman, tetapi mulai lupa menjaga moral dan adab?

Ketika Semua Ingin Ikut Tren

Coba kita lihat fenomena sederhana. Ada guru muda dari kalangan Gen Z yang melakukan siaran langsung di TikTok sambil berjoget mengikuti tren. Murid-muridnya yang berasal dari Gen Alpha melihat, merasa senang, lalu ikut menirukannya.

Apakah berjoget itu salah? Belum tentu. Setiap orang punya hak untuk berekspresi. Namun, sebagai seorang pendidik, tentu ada tanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik kepada muridnya.

Jangan sampai karena ingin mengikuti tren, kita lupa bahwa ada orang lain yang memperhatikan dan meniru perilaku kita.

Apalagi anak-anak Gen Alpha masih berada dalam masa pembentukan karakter. Apa yang mereka lihat bisa menjadi kebiasaan yang terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan Mau Diatur Algoritma

Salah satu tantangan generasi kita hari ini adalah FOMO atau takut ketinggalan tren. Apa yang sedang viral rasanya harus dicoba. Apa yang ramai dibicarakan rasanya harus diikuti.

Padahal, tidak semua yang viral itu baik dan tidak semua yang ramai itu bermanfaat.

Belum lagi kebiasaan berkomentar seenaknya di media sosial, menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, atau merasa paling benar ketika berbeda pendapat.

Kita boleh kritis, tetapi bukan berarti bebas menghina. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi bukan berarti harus meninggalkan sopan santun.

Jangan sampai kita lebih takut ketinggalan tren daripada kehilangan adab.

Pintar Saja Tidak Cukup

Sebagai pelajar, kita tentu ingin menjadi generasi yang maju, kreatif, dan mampu bersaing. Namun, apa gunanya pintar kalau tidak punya kejujuran? Apa gunanya banyak prestasi kalau masih suka merendahkan orang lain?

Dalam Islam, kita diajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak. Setinggi apa pun pendidikan seseorang, tetap ada nilai kesantunan dan tanggung jawab yang harus dijaga.

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar juga harus memberikan keteladanan.

Kita tidak perlu memusuhi teknologi atau meninggalkan media sosial. Justru kita harus bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik.

Gen Z dan Alpha punya kesempatan besar untuk membawa perubahan. Namun, perubahan itu harus tetap memiliki arah dan prinsip.

Jadilah generasi yang mengikuti perkembangan zaman, bukan generasi yang kehilangan pegangan karena terlalu sibuk mengikuti tren.

Sebab, menjadi generasi hebat bukan hanya soal seberapa cepat kita menguasai teknologi, tetapi juga seberapa kuat kita menjaga moral dan adab ketika dunia terus berubah.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel