Di Balik Keriput Wajah Nenek, Ada Cinta yang Tak Pernah Usai
Di sebuah rumah sederhana, ada seorang perempuan tua yang selalu menyimpan banyak cerita. Rambutnya mulai memutih, langkahnya tak lagi secepat dahulu, dan keriput di wajahnya menjadi saksi perjalanan hidup yang panjang. Dialah nenek, sosok yang sering kali terlupakan oleh kesibukan dunia.
Dahulu, tangannya begitu kuat menggendong anak-anaknya, memasak untuk keluarga, dan mengerjakan banyak hal tanpa mengeluh. Kini, tangan itu mulai bergetar, tetapi kasih sayangnya tidak pernah berkurang.
Aku masih ingat bagaimana nenek sering memanggil namaku, menanyakan apakah aku sudah makan, atau sekadar mengingatkanku untuk berhati-hati ketika pergi. Hal-hal sederhana yang mungkin terdengar biasa, tetapi kelak menjadi kenangan yang paling berharga.
Terkadang, kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa waktu bersama orang-orang tercinta tidak pernah bisa diputar kembali. Kita sering menganggap kehadiran nenek sebagai sesuatu yang akan selalu ada, padahal usia terus berjalan dan waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Nenek mungkin tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: doa, ketulusan, kesabaran, dan cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Jika suatu hari suaranya tak lagi terdengar dan rumah terasa lebih sunyi, semoga aku masih bisa mengingat setiap nasihatnya. Sebab, kehilangan seseorang bukan hanya tentang kepergiannya, tetapi juga tentang hilangnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang dahulu kita anggap biasa.
Untuk nenek, terima kasih telah menjadi bagian dari cerita hidupku. Jika waktu bisa berhenti sejenak, aku ingin duduk lebih lama di sampingmu, mendengarkan cerita-ceritamu, dan menggenggam tanganmu sekali lagi.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Terkadang, rumah adalah seseorang yang selalu menyebut nama kita dalam doanya.
-Shadiq Salim













