Demo Boleh Keras, Tapi Pas Diskusi Jangan Sampai Kosong: Refleksi Buat Kita Para Pelajar
(Muhammad Khawarizmi Syahrul Mubarok)
Turun ke jalan, orasi pakai toa, dan ikut demo memang sering jadi cara andalan kita sebagai pelajar dan mahasiswa buat nunjukin kepedulian sama negara. Tapi, coba deh kita mikir santai sejenak: apa cara kita menyampaikan kritik selama ini beneran efektif, atau jangan-jangan kualitasnya malah makin menurun?
Kalau diperhatikan, ada hal ironis dari pergerakan kita belakangan ini. Banyak dari kita yang berani maju paling depan dan teriak paling kencang pas demo. Tapi anehnya, giliran pemerintah buka pintu buat duduk bareng ngobrolin solusi, argumen yang kita bawa malah sering kosong dan terkesan cuma modal arogan aja.
Mengulas Sejarah: Apa Itu Demo dan Bagaimana Evolusinya?
Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu menyamakan persepsi dulu. Apa sebenarnya demonstrasi itu? Secara esensi, demonstrasi adalah instrumen sah dalam negara demokrasi di mana sekelompok orang menyuarakan pendapat, protes, atau tuntutan secara massal di ruang publik. Demo adalah "toa" bagi mereka yang suaranya tidak terdengar di ruang-ruang rapat formal.
Bagaimana demonstran bergerak dari zaman ke zaman? Dulu, konsolidasi pergerakan dilakukan secara senyap, lewat diskusi-diskusi di bawah tanah, penyebaran pamflet, dan kajian buku-buku berat. Kini, pergerakan jauh lebih cepat berkat teknologi. Isu bisa meledak lewat hashtag di X (Twitter) atau video viral di TikTok dalam hitungan jam, lalu memicu ribuan orang turun ke jalan. Sayangnya, kemudahan mobilisasi di era digital ini sering kali tidak diimbangi dengan kedalaman literasi pesertanya.
Throwback Sejarah: Dari Perjuangan Rakyat Kini Beralih Jadi Ajang Cari Pamor
Mari kita throwback (kilas balik) ke sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia yang legendaris, seperti angkatan '66 atau reformasi '98. Kala itu, mahasiswa berdemo murni bertaruh nyawa untuk masyarakat dan memiliki tuntutan atau gugatan yang sangat jelas dan berbasis pada penderitaan rakyat.
1. Data Gugatan Mahasiswa Angkatan '66 (Tritura)
Pada tahun 1966, kondisi negara sedang kritis dengan inflasi ekonomi yang memburuk. Mahasiswa saat itu membawa tiga tuntutan konkret yang menyuarakan keresahan masyarakat, dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat):
Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya: Menuntut ketegasan pemerintah terhadap pihak yang dianggap dalang kekacauan negara pasca-G30S.
Perombakan Kabinet Dwikora: Mendesak pembersihan kabinet dari unsur-unsur yang terlibat dalam G30S/PKI.
Turunkan Harga Pangan: Tuntutan ini paling menyentuh perut rakyat miskin, karena saat itu harga kebutuhan pokok melambung sangat tinggi akibat inflasi.
2. Data Gugatan Mahasiswa Reformasi 1998
Berlanjut ke tahun 1998, ketika krisis moneter menghantam dan rezim Orde Baru dinilai terlalu otoriter, mahasiswa kembali bergerak dengan membawa 6 Agenda Reformasi yang sangat terukur dan matang:
Amandemen UUD 1945: Membatasi kekuasaan penguasa dan menyesuaikan aturan tata negara.
Penghapusan Doktrin Dwifungsi ABRI: Mengembalikan militer pada tugas pertahanan keamanan dan tidak lagi mencampuri urusan politik sipil.
Penegakan Supremasi Hukum dan Pemberantasan KKN: Menuntut negara yang adil dan bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Desentralisasi: Mewujudkan otonomi dan hubungan yang berkeadilan antara pemerintah pusat dan daerah.
Mewujudkan Kebebasan Pers: Membebaskan media dari pembungkaman otoritas negara.
Mewujudkan Kehidupan Demokrasi: Mengembalikan hak suara kepada rakyat untuk berpartisipasi penuh secara politik.
Fenomena Hari Ini: Blunder di Medsos dan Jadi Bulan-bulanan Netizen
Sangat kontras dengan kondisi saat ini. Di era media sosial, esensi demonstrasi kadang tereduksi menjadi ajang cari pamor. Tidak sedikit peserta aksi yang ikut turun ke jalan hanya karena FOMO (Fear of Missing Out), ingin terlihat keren dengan jaket almamater, atau sekadar berburu foto dan video estetik untuk konten media sosial.
Apa yang lagi happening hari ini? Banyak sekali mahasiswa dan pelajar yang turun ke jalan menyuarakan isu tertentu, tapi sayangnya tidak berbasis data. Akibatnya, ketika diwawancarai oleh wartawan atau ditanya poin tuntutannya di lapangan, mereka malah kebingungan. Video-video ketidaktahuan ini akhirnya viral, menjadi blunder besar di media sosial, dan membuat gerakan mahasiswa justru menjadi bulan-bulanan netizen. Aksi yang harusnya sakral dan dihormati malah berujung pada lelucon publik karena pesertanya ketahuan cuma ikut-ikutan tanpa tahu kejelasan dari gugatan yang dibawa.
Fakta Lapangan vs Cuma Modal Nonton Film
Contoh nyata dari dangkalnya argumen pergerakan masa kini adalah kejadian waktu teman-teman BEM UGM diajak diskusi bareng sama pejabat, yaitu Pak Budiman Sudjatmiko, Pak Sudaryono, dan Pak Nusron Wahid. Waktu itu mereka lagi bahas isu Papua yang lagi ramai dipantik sama film Pesta Babi.
Di momen itu, ketiga tokoh ini menunjukkan niat baik dengan memberi tantangan yang konkret banget: menawarkan mahasiswa buat jadi relawan dan turun langsung ke Papua. Tujuannya simpel, supaya kita bisa lihat sendiri pakai mata kepala kita gimana fakta di lapangan yang sebenarnya dan apa aja yang udah dikerjain di sana.
Tapi tebak reaksinya gimana? Tawaran rasional itu malah dibalas dengan respons yang jujur saja agak arogan. Alih-alih menyambut kesempatan emas buat ground check (cek fakta langsung), teman-teman mahasiswa malah ngotot pakai argumen yang datanya bersumber dari film doang.
Fakta-Fakta Demonstrasi yang Efektif
Lantas, jika sekadar teriak dan pamer almamater tidak lagi cukup, bagaimana agar aksi mahasiswa punya dampak nyata? Berikut adalah fakta-fakta dari demonstrasi yang efektif:
Berlandaskan Data dan Kajian yang Komprehensif: Aksi yang sukses tidak lahir dari ruang hampa atau sekadar rumor. Demo harus didasari riset mendalam, perbandingan data yang akurat, serta argumen yang tidak mudah dipatahkan.
Tuntutan yang Spesifik dan Solutif: Daripada sekadar meneriakkan slogan, demonstrasi efektif memiliki daftar tuntutan yang jelas dan solutif, persis seperti ketika angkatan '66 merumuskan Tritura atau angkatan '98 dengan 6 Agenda Reformasi.
Kesiapan untuk Bernegosiasi: Tujuan akhir dari turun ke jalan adalah memaksa penguasa membuka pintu perundingan. Ketika pintu itu dibuka, demonstran yang efektif siap berdebat di meja bundar dengan kepala dingin dan intelektualitas tinggi.
Mampu Merangkul Simpati Publik: Demonstrasi yang merusak fasilitas umum atau mengganggu masyarakat luas justru mematikan dukungan. Gerakan efektif adalah yang memenangkan simpati publik.
Perbanyak Ruang Diskusi, Jangan Sampai Jadi "Tong Kosong"
Kejadian blunder di media sosial dan arogansi menolak cek fakta lapangan ini harusnya jadi tamparan keras buat kita semua. Ternyata, banyak lho pejabat kita yang mau diajak diskusi dan mau dengerin aspirasi kita. Di sinilah ujian aslinya. Kalau kita ngaku sebagai kaum terpelajar tapi pas diajak diskusi malah cuma bawa arogansi tanpa ngasih solusi apa-apa, citra pergerakan mahasiswa itu sendiri yang bakal hancur.
Oleh karena itu, pesan terdalam untuk kita semua: Perbanyaklah ruang-ruang diskusi sebelum memutuskan turun aksi. Jangan sampai hari ini aksi turun ke jalan ternodai oleh banyaknya massa yang cuma ikut-ikutan tanpa tahu esensi dan kejelasan dari gugatan yang disuarakan. Ketika kita tidak paham apa yang diperjuangkan, kita akan sangat mudah terprovokasi dan ditunggangi oleh kepentingan politik pihak-pihak tertentu yang hanya memanfaatkan keramaian.
Waktunya Kembali ke Jati Diri Pelajar
Udah saatnya kita perbaiki cara kita bergerak. Berani mengkritik pemerintah itu wajib banget, tapi keberanian itu harus diseimbangkan sama isi kepala dan pikiran yang terbuka.
Kita harus balik ke kebiasaan asli kita sebagai anak kuliahan atau pelajar:
Rajin membaca data yang valid dan memperbanyak kajian.
Selalu cross-check atau memeriksa ulang informasi sebelum menjadikannya bahan amarah.
Berani turun ke lapangan buat buktiin langsung kebenarannya.
Demo atau protes itu hak kita, tapi ngasih solusi yang masuk akal, valid, dan bisa diterapkan itu adalah tanggung jawab moral kita. Ingat, fokus utama demonstrasi adalah mencari solusi, bukan sekadar mencari siapa yang bersalah. Demokrasi yang keren itu bukan dinilai dari seberapa kencang urat leher kita pas teriak di jalanan, tapi dari seberapa tajam dan solutif ide yang kita keluarin pas akhirnya kita diajak duduk bareng di meja diskusi.

