Saat ini, tatanan dunia telah berpindah menuju pola yang terencana dalam ruang linear. Kita tengah berada di era tren dunia yang dapat tercipta secara instan hanya melalui konten video dengan durasi singkat, sebagaimana mana algoritma yang menyesuaikan minat personal, dan batasan fisik pada lintas manusia yang dapat digantikan oleh beberapa bagian digital bernama kelompok, golongan atau komunitas. Hal ini terdapat berbagai rintangan besar yang hadri menuju permukaan: bagaimana penempatan dakwah terhadap pelajar Muslim, terutama pada kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam mendekati Gen Z dan Gen Alpha? Rintangan ini meminta sebuah reaksi yang tidak hanya bersifat normatif, namun juga mampu menyesuaikan dan memberikan perubahan.
Dalam kata "pengajian" bagi sebagian generasi muda saat ini sering kali menimbulkan sebuah gambaran yang membosankan yaitu sebuah wujud podium yang tinggi, tata bahasa yang rumit, dan berbagai pon larangan yang kaku. Hal ini mengakibatkan, hadirnya penyakit organisasi yang nyata di dasar persoalannya yaitu kehadiran para pemuda hanya sekedar untuk memeriahkan ketika ada acara besar atau kompetisi, sedangkan saat acara kecil atau pengajian rutin harian, kehadirannya terlihat minim bahkan sepi dan mereka lebih masa bodoh. Hal tersebut seharusnya, Dakwah Islam Berkemajuan yang dijunjung oleh Muhammadiyah pada era terdahulu bersifat membebaskan, membiasakan, dan berfikir solutif. Pada kenyataannya pengajian tidak sekaku bahkan semenakutkan itu. Dengan menyusun materi keislaman yang memiliki daya tarik akan merubah komposisi pemateri yang sudah tersedia. Pokok utamanya berada pada percaya diri pada kader untuk merubah tata bahasa dalam menyampaikan agar menjadi ruang aman (safe space) yang menyeluruh, lebih lanjut, dan mampu memeluk semua kalangan antar generasi.
Dalam mendekati pemuda Gen Z dan Gen Alpha, para anggota IPM wajib mengetahui psikologisnya secara mendalam. Remaja merupakan sebuah makhluk yang sangat berdamapak pada teman sebaya. Kita dapat mendayagunakan dampak pada hasil penelitian ini sebagai alur dalam dakwah organik, yaitu dengan masuk menuju tuang lingkup kebiasaannya, dan bukan memberikan paksaan kepada mereka masuk kedalam pedoman resmi yang sangat kaku. Pendekatan pertama wajib memiliki basis pendekatan secara emosional melalui hobi atau kegiatan positif lainnya. Kemudain dirasa mereka mulai nyaman, barulah kita memberikan ajakan untuk mulai bergerak aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, baik dalam skala pengajian remaja kecil maupun pengajian umum massal di desa.
Akan tetapi, pada kenyataannya dalam kehidupan masyarakat tidak semudah yang dibayangkan. Ketika akan melaksanakan pengajian umum, seringkali IPM dihadapkan kepada para jamaah massal yang beragam generasi diantaranya seperti lansia, bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak muda. Adapun, berbagai hambatan perlengkapan fisik di beberapa lokasi. Disamping itu, penggunaan fasilitas umum seperti masjid yang sudah disertai AC dan TV interaktif merupakan pilihan yang sangat tepat demi kenyamanan sekaligus untuk menghemat biaya. Akan tetapi, jika kegiatan ini sekedar untuk menetap di satu lokasi secara terus-menerus, akan hadir rasa titik jenuh terhadap para jamaah. Sehubungan itu, IPM diminta mampu menjadi penghubung lintas generasi dan merawat ruang dakwah secara dinamis yaitu dengan menghargai kearifan tokoh terdahulu, bekerjasama dengan Karang Taruna, serta melaksanakan perputaran ceramah agar dorongan kehadiran para umat tetap terjaga secara lebih lanjut dalam jangka waktu yang panjang.
Untuk menciptakan gerakan nyata yang berpengaruh secara langsung tanpa terperangkap pada rencana atau hanya anggapan politik organisasi belaka,
berikut merupakan 2 solusi integratif dengan biaya rendah yang secara langsung menjawab smeua persoalan di lapangan:
1. Kita tetap menjaga ustaz pembina yang sudah tersedia demi melindungi kedekatan secara emosional, akan tetapi kita merubah total kemasan dalam ruang lingkupnya. Sebelum pengajian akan diawali, para ustadz diberikan pengarahan dengan basis "Mosi Viral" terkait isu yang terkemuka pada kehidupan remaja serta penting bagi orang tua, seperti halnya digital parenting, kesehatan mental, atau sikap dalam bersosial media yang bijak. Ustaz memberikan peratnyaan pemantik secara padat selama 15 menit saja. Sisa waktunya akan dipindahkan untuk sesi percakapan dua arah melalui model"Kotak Estafet".Panitia menyediakan dua kotak fisik berbeda warna di depan pintu masuk. Kotak Hijau untuk dilakukan pertanyaan tertulis dari jamaah senior/tua, dan Kotak Biru untuk pertanyaan dari jamaah muda/pelajar. Moderator akan memperoleh pertanyaan engan bergantian dari kedua kotak ini untuk dijawab secara langsung oleh ustaz. Pendekatan ini mudah diterapkan sebab tidak memerlukan perlengkapan tambahan. Para jamaah tua merasa sangat dihargai (diwongke) sebab suaranya telah didengar, sementara anak muda memperoleh ruang aman dalam sesi bertanya tanpa mengenal nama dan tidak takut dicap kurang iman. Alur percakapan interaktif ini membuat pengajian rutin tidak lagi jenuh dan mendukung kehadirang aktif yang lebih lanjut.
2. Agar perlengkapan terkini dapat maksimal seperti AC dan TV interaktif sekaligus menghilangkan rasa bosan akibat lokasi yang monoton, IPM akan melakukan pedoman yang mampu menyesuakkan pendekatan melalui sistem Safari Dakwah Keliling. IPM telah mengawali kerjasama secara rutin bersama Karang Taruna dan Remaja Masjid pada antar daerah untuk mengganti tempat pengajian dari satu masjid ke masjid lainnya dengan diagendakan setiap bulan. Kegiatan ini digabungkan dengan peran yang dibagikan secara adil pada lintas generasi, Pada bulan ini aktivitas dapat bertempat di Masjid A yang memperoleh fasilitas AC nyaman, lalu bulan depan berpindah ke Masjid B yang memiliki TV interaktif untuk menampilkan berbagai kuis digital interaktif (seperti pada laman Kahoot atau Mentimeter). Perputaran ini sangat terbukti berhasil dalam memeriahkan kehadirana para anak muda sebab memberikan suasana baru serta menyalurkan daya tampung massa pada setiap kampung yang ditempati. Anggota IPM dan anggota Karang Taruna melalui konsep ini, bergerak bersama sebagai mesip lapangan, sedangkan peran masyarakat setempat ditempatkan sebagai "Dewan Penasihat Kehormatan" yang diberikan panggung terhormat untuk memberikan izin. Melalui pengadaan ini akan memeberikan manfaat aset umat yang tersedia, bebas biaya sewa lokasi, memberi kehidupan akan kehadiran di luar acara besar, dan menghilangkan batasan kader IPM di tengah masyarakat sekitar.
Setiap ide yang dirubah pada dasar persoalan pasti akan berlawanan dengan kenyataan di lapangan.
Sehubungan itu, dibutuhkan risiko dan strategi yang disebarkan untuk memberikan pencegahan agar 2 solusi di atas dapat dilakukan secara lebih lanjut:
• Hambatan pada Solusi A (Sistem "Kotak Estafet" & AMA): Terdapat risiko di mana jamaah tua merasa model ini terlalu "kebarat-baratan" bahkan ustaz senior merasa kurang nyaman sebab mendadak harus menjawab pertanyaan tak terduga dari kertas anonim tanpa persiapan. Antisipasi & Solusi Jos Jis: Para anggota IPM melakukan pendekatan secara pribadi dengan (sowan) menuju kediaman ustaz terlebih dulu sebelum hari acara akan dilaksanakan. Fokus utama dalam pendekatan untuk menyelamatkan moral para penerus desa dari berbagai hal yang bersifat digital. Untuk melindungi kenyamanan ustaz, panitia akan melakukan tindakan sebagai penengah di meja moderator. Pertanyaan yang terlalu sensitif, menyerang pribadi, atau keluar dari pembahasan akan ditampung terlebih dulu sebelum dibacakan oleh moderator menuju ustaz.
• Hambatan pada Solusi B (Safari Dakwah & Inkubasi Pimpinan): Terjadinya pertentangan ego antara pengurus IPM, Remaja Masjid, dan Karang Taruna mengenai pembagian kerja, serta adanya pimpinan dalam IPM yang tidak terlibat akibat perasaan rendah diri. Antisipasi & Solusi Jos Jis: Pokok utamanya terdapat pada penurunan ego dalam keorganisasian. IPM tidak disarankan untuk datang dengan bendera "kami yang memimpin", namun tiba sebagai anggota yang ingin membantu meramaikan desa. Melalui proses pembimbingan pimpinan yang belum terlatih, gunakan pendekatan shadowing atau dengan pendampingan secara melekat. Pimpinan yang belum percaya diri atau belum mengetahui organisasi jangan dibiarkan untuk bekerja sendiri. Gabungkan mereka dalam ruang lingkup tim kecil bersama anggota IPM yang dirasa sudah memperoleh pemikiran yang matang. Melalui cara ini, ilmu dan rasa percaya diri yang telah diterima akan mengikuti selama proyek safari berjalan lancar.
Kesimpulannya adalah secara keseluruhan bahwa dakwah dengan basis kelompok Ikatan Pelajar Muhammadiyah bukanlah hanya sebuah tren sementara, namun juga taktis kebiasaan dalam mengelola dan mendorong generasi muda antar generasi. Kita sebagai pemuda harus berperan dalam memberikan rasa, bukan menjadi batu yang sekedar menambah masalah di lingup masyarakat. Dengan memperbarui konsep pengajian menjadi interaktif dan solutif serta lebih percaya diri untuk bekerjasama secara menyeluruh dengan Karang Taruna dan tokoh masyarakat, IPM akan sanggup menempuh masa depan dan membentuk tatanan peradaban baru yang lebih tercerahkan.

