BUMI KETAMAKANNYA
-HAFIZSYAH-
Bumi tak pernah meminta lebih,
hanya ingin bernapas di antara riuh kehidupan.
Namun tangan manusia terus mengambil tanpa letih,
hingga tanah pun belajar mengenal arti kehilangan.
Dari mereka yang duduk tinggi di balik meja,
hingga mereka yang berjalan mencari sesuap harapan,
semuanya pernah meninggalkan luka di tubuhnya,
ketika keinginan tumbuh lebih besar dari kesadaran.
Kini bumi menangis tanpa suara,
laut menelan air mata, hutan kehilangan teduhnya.
Barangkali bukan bumi yang sedang sekarat
melainkan hati manusia yang perlahan kehilangan rasa.
PONTIANAK,19 SEPTEMBER 2026

