Sastra

Berteduh di bawah angkuh

Bagi Nabil dan tiga sahabatnya, hutan, sawah, dan lapangan adalah tempat mereka tumbuh dan menyimpan sejuta kenangan. Hingga pembangunan datang dan perlahan merenggut semuanya. Empat bocah itu tak punya kuasa untuk menghentikannya. Di tengah hujan dan tanah yang penuh kenangan, Nabil harus menerima.

Terbit

28 Oktober 2026

Durasi

7 menit baca

Berteduh di bawah angkuh

Siang itu, mentari menyeruak dari balik kumpulan awan yang mengalun indah di atas sana. Sinarnya yang mencerahkan semesta, memantul ke segala arah. Gelombang sinarnya yang beraneka warna, ditangkap oleh para wujud autotrof sejati. Ruang dapurnya yang tak pernah berhenti menghasilkan materi penyokong kehidupan di bumi. Dan dari balik tubuhnya yang tak mampu bersuara itulah para individu tingkat rendah hingga tinggi tetap menapak di atas tanah.

Dari rindangnya hutan, suburnya sawah, lapangnya padang ilalang, aku dan teman-temanku bermain. Panas terik tak mampu menyakiti lapisan epidermis, karena Tuhan Yang Kuasa menciptakan aliran udara yang menyapu tiap inci kumpulan sel dengan rasa sejuk yang menyamankan.

"Kena! Adi kena!"

Seru-seruan kami dimulai di sini, di lapangan rumput hijau yang luas. Segala peluh, tawa, hingga amarah, tumpah ruah ke dalam satu pijakan tanah yang selalu kami datangi kesuburannya. Entah pagi, siang, maupun petang, tak ada fenomena yang mampu menghalangi kita untuk unjuk gigi mengalahkan teman sendiri dalam permainan yang kami rangkai dan buat bersama.

"Apa-apaan? Gak kena ya! Kau curang Rangga. Kakimu loh keluar garis!"

Tidak ada, tidak ada yang mampu menghalangi.

Mungkin.

"Udahlah Di, kalau kena ya kena. Gak usah banyak alasan. Udah, kelompok kalian kalah, kelompokku menang," Rangga si tinggi namun bolong giginya itu, mulai merasa hebat kembali.

"Gak! Kau curang Rangga! Kakimu tadi keluar garis!" Si kecil Adi mulai membela diri, lagi dan lagi.

"Udahlah Di, kalau kalah ya kalah. Gak usah banyak alasan lagi," sekarang si ‘hakim main sendiri’ angkat bicara. Lagaknya seperti orang kaya yang memang orang tuanya adalah juragan padi di kampung ini.

Adi mulai ciut nyalinya. Tangannya yang gemar menunjuk ke arah garis, kini diam membeku. Bibirnya yang kering membuat gerakan bolak-balik secara periodik melalui titik kesetimbangan. Dan aku bisa melihat matanya yang lugu mulai dibanjiri air yang sama seperti bayi gunakan tepat setelah dirinya melihat kejamnya dunia.

"Sudah teman-teman, sudah. Adi benar, kakinya Rangga tadi keluar garis. Itu jejaknya masih ada,"

"Jejak apa?" Rangga kelimpungan mencari jejaknya yang mungkin tertinggal di antara rerumputan.

"Jejak Si Bolang," sahutku dengan senyuman lebar yang mencoba untuk menggoda.

"Halah, apaan sih Bil, yang benar aja,"

"Loh iya benar, kau kan katanya mau jadi kayak Si Bolang,"

"Gak nyambung sumpah. Udahlah malas. Pulang aja. Gak seru mainnya kali ini," si tinggi itu mulai jengah dan meninggalkan tempat.

Aku tersenyum, akhirnya pergelutan remeh itu selesai. Selamatlah, orang tua Adi tidak perlu repot-repot datang dan memarahi untuk membela anaknya. Mental Adi harus dipersiapkan sejantan mungkin sekali-kali.

"Kok pulang? Katanya mau sampai sore buat lihat sunset," Dani si anak juragan padi itu mulai menyeret si tinggi untuk tetap setia menemaninya hingga petang. Rangga yang terhentikan langkahnya hanya menoleh lesu. "Ya gimana, gak seru mainnya, gak mau ngaku. Malah nuduh. Si Nabil itu juga, sok asik. Gak nyambung omong–"

BRAKKK

sekilat cahaya, kepala kami menoleh. Sendi putar yang pergerakannya luwes membuat kami mampu melihat ke arah tempat sumber suara itu berasal.

__________

"Bil, makan dulu, Nak,"

Siang ini, matahari bersinar sangat kuat. Gelombangnya yang terlihat putih menjatuhkan semangatku hingga di titik minus sepuluh koma lima. Terpaan angin yang biasanya mendinginkan, kini malah membuat hatiku membeku. Wajahku pucat pasi bak mayat di televisi.

"Bil, jangan gitu, makan, habis ini minum obat. Kamu tadi absen masuk sekolah, masak besok nggak masuk sekolah lagi?"

Ya, aku sakit. Badanku sakit dan imunku lemah. Tapi penyebabnya bukan bakteri, virus maupun sesuatu renik lainnya.

Suhu badanku yang naik ini berawal dari suara mencekam di lapangan saat kami bermain tempo hari. Gebrakannya yang keras membuat sel darah putihku ikut melemah dalam menumpas organisme jahat yang ingin masuk.

Dan seperti bakteri jahat itu, seorang pecundang datang dengan gergaji mesinnya yang menumpas habis pohon rindang di hutan belakang sawah.

Layaknya manusia angkuh yang tak tahu malu, dirinya dengan bangga mencabut akar pohon muda yang baru kami tanam sebulan yang lalu. Mulutnya yang bau berkata, "kalian pulang saja, di sini mau dibangun jalan yang besar. Nanti kalau sudah selesai, kalian bisa lewat jalan ini buat ke kota. Kalian pengen kan jalan-jalan ke tempat yang banyak gedung-gedungnya? Di sini kan tidak ada,"

Gak sudi!

Gedung-gedung itu tak sama serunya dengan hutan yang biasa kami gunakan untuk bermain, berkemah, bahkan membantu Pak Tris menangkap hewan liar.

"Kamu biasanya semangat buat belajar, buat ketemu ibu bapak guru, buat ketemu teman-teman kamu, Nabil nggak kangen sam–"

"Bu, kapan kita pindah?"

Ibu yang sedari tadi melahirkan isi hati dengan rangkaian huruf konsonan dan vokal kini membuat sikap menahan diri untuk tidak mengeluarkan satu pun instruksi otak lewat lisan.

"Kapan kita pindah, Bu? Kapan?"

Tanyaku yang tak kunjung dibalas dengan koordinasi otot-otot pada alat ucap.

"Kapan Ibu!"

_________

Aku berlari. Menerjang angin yang mulai sahut menyahut menyisir daratan dengan kencang. Langit yang mulai gelap karena kumpulan awan kumulonimbus tak kuhiraukan kehadirannya. Dengan tergesa-gesa aku berlari ke arah lapangan. Mataku yang lelah mulai mengeluarkan bulir seperti Adi lakukan tiap dua hari sekali.

Aku menangis. Menjatuhkan diri pada tanah. Wajahku yang payah karena tangisan seorang pecundang yang tak bisa berbuat apa-apa, mulai kubenamkan di antara kaki yang kupeluk erat-erat.

Di antara keributan ilalang yang diterjang angin, di tengah kilatan petir yang mulai terdengar di gendang telinga, dan di antara mentari yang semakin kalah bertarung dengan kemelut awan berwarna hitam, air mataku secara bergantian menuruni dua pipi dan berjatuhan menumbuk permukaan tanah yang di dalamnya terdapat beribu kenangan indah sekelompok bocah dengan sejuta tawanya.

"Nabil, woy! Ngapain di sana?"

"Bil, mau hujan, pulang,"

"Ibumu nyariin, Bil,"

Aku menatap lurus ke depan, mendapati tiga jenis suara yang sangat kukenal. Suara yang selalu ada dari pagi hingga petang. Suara yang selalu bergema mulai dari lorong kelas, jalanan desa, hingga lapangan luas yang kini aku singgahi. Suara-suara yang entah mengapa membuatku semangat menjalani hari, bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, bermain hingga ufuk barat menampakkan warna lain yang lebih gelap, dan semangat dalam menjelajahi dunia yang penuh dengan sihir keelokan kuasa-Nya.

Mereka, tiga sahabatku, tiga manusia aneh yang senantiasa ribut namun damai sepersekian menitnya mulai berlari ke arahku. Dengan sisa tenaga, aku mulai berdiri dan menghampiri mereka.

Seok demi seok langkah kuseret. Butir demi butir air mata mengalir. Dan butir demi butir air hujan mulai membasahi bumi.

Awan kumulonimbus yang tak sanggup menahan bebannya, kini menumpahkan butirnya di antara baju kami yang mulai memeluk satu sama lain. Di luas terbentangnya sawah yang mulai ditinggali, di ribuan meter kumpulan akar pohon besar yang mulai digunduli, dan di banyaknya rumah yang satu per satu mulai ditinggalkan dengan sejuta kumpulan memori yang terpatri, berdirilah kami, empat manusia kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Empat bocah yang hanya tahu caranya bermain, hanya tahu caranya tertawa dan bahagia, hanya tahu caranya merawat titipan Tuhan yang indah tiada tara, tanpa tahu cara kerja manusia yang kejam terhadap kami dan tempat tinggal kami yang sederhana.

Rangga, dengan tinggi badannya yang melebihi rata-rata anak seusia kami, tak mampu menyamai tingginya rasa kekejaman manusia.

Adi, mentalnya yang penuh rasa kasih berlebihan dari orang tuanya ternyata tidak cukup untuk menyamai rasa jahatnya manusia terhadap ratusan makhluk ciptaan Tuhan yang dibuat dengan sempurna.

Dani, orang tuanya yang bergelimang harta, tak mampu membayar untuk menghentikan kegiatan pembasmian rumah tinggal kami semua.

Dan aku, Nabil Arsyad, yang selalu berusaha mengusahakan yang terbaik ternyata tak punya cukup kuasa untuk mewujudkan mimpi Si Bolang-nya Rangga, mental kuatnya Adi, hakim bijaksananya Dani. Dan yang terpenting, aku tak bisa mengusahakan kebersamaan kami lagi di sini. Hutan ini, sawah juga lapangan yang kami jejaki seluruh incinya, tak bisa kami usahakan untuk tetap ada hingga selamanya.

Maaf Tuhan. Kami gagal merawat apa yang Engkau buat. Kami gagal menjaga yang Engkau ciptakan dengan sempurna. Kami gagal mengusahakan, karena kuasa kami kalah dengan mereka yang punya jabatan.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel